Tampilkan postingan dengan label Dakwah Akademik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Akademik. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2008

PASKA KAMPUS TEKNIK

Dalam percakapan di pinggir jalan dekat kampus.

Mas, setelah lulus kuliah mau kemana?”

tanya seorang adik kelas kepada seniornya yang baru saja di wisuda.

Sang kakak senior termenung sambil menatap langit,

Entahlah Dik, Kakak juga gak tau mau kemana setelah lulus ini. Yaah mengalir aja gitu. Daftar PNS, jadi pekerja di salah satu perusahaan, atau masuk yayasan itu semua takdir yang menentukannya, kalau kita berusaha memasukkan lamaran ke organisasi paska kampus tadi.”

Sarjana teknik dengan kemampuan akademisnya yang memiliki segudang ilmu tentang kompetensi keteknikan tetap saja tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dan pragmatis di atas. Apa mungkin dunia akademis masih sangat kental dengan dunia idealisme atau telalu mengkhayal sesuatu yang tinggi dan tidak dapat tercapai seperti pepatah mengatakan Bagai punuk rindukan bulan.

Ada sebuah hal yang menarik untuk disikapi seiring dengan cepatnya lulusan sarjana teknik dengan tidak diiringi sarana atau saluran berikutnya setelah lulus. Sarjana teknik yang rata-rata setiap tahunya lulus sebanyak 500 orang di satu perguruan tinggi, bila di Indonesia terdapat 100 perguruan tinggi saja yang memiliki lulusan sarjana teknik, artinya dalam satu tahun terdapat 50.000 sarjana teknik, bila tidak ditunjang dengan sarana paska kampus yang memadai maka akan terjadi pengangguran yang besar. Hal ini pun kembali kepada sarjana teknik itu sendiri, tidak hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan yang telah ada untuk menampung mereka bekerja, tetapi dari mereka sendirilah yang menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri mereka sendiri. Idealnya sesuai kompetensi yang mereka miliki.

Namun, bicara tentang kompetensi sarjana teknik, agaknya ada hal yang perlu dicermati sebagai suatu fenomena aneh seiring dengan kebijakan kampus itu sendiri, apakah itu?

Kurikulum yang diberikan perguruan tinggi hanya dipandang dari perspektif bisnis setelah dari kampus akan menjadi pekerja di salah satu perusahaan manufaktur maupun jasa yang sudah mapan dan establish. Maka, setting mental para sarjana teknik lebih condong pada pengembangan usaha diiringi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja.

Sarjana teknik tidak dapat menghasilkan sebuah produk baru maupun usaha baru sendiri yang dijadikan sebagai ladang kerjanya paska kampus sedangkan data nominal yang besar diatas tidak memungkinkan semua orang berebut pekerjaan di tempat/perusahaan yang terbatas.

Hanya ada satu cara untuk mengubah realitas yang ada yakni dengan menjadi Pengusaha/Enterpreneur/Business Owner.

Itu adalah solusi permasalahan para sarjana teknik

Aktivis Da’wah Teknik yang responsif dengan dinamika bangsa telah berkumpul dalam suatu forum untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini. Mereka menamakan forum itu dengan Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Kampus Teknik (FULDKT) se-Indonesia yang beranggotakan perwakilan Rohis (Rohani Islam) di penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Adapun hasil dari Munas (Musyawarah Nasional) 2 FULDKT terutama komisi 3 bagian Keprofesian Teknik diantaranya:

Pengertian da’wah profesi teknik dari hasil komisi adalah da’wah pada dunia kerja yang berorientasi pada disiplin ilmu keteknikan dengan berasaskan Islam untuk kemaslahatan ummat.

Tujuan da’wah profesi teknik adalah mengaplikasikan keprofesian teknik dalam bentuk usaha-usaha serta lembaga untuk mengorganisir aktivitas dakwah teknik di kampus dan paska kampus dalam sebuah jaringan sebagai alat memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga gerak da’wah secara nasional terarah dan terpadu dalam proses perbaikan ummat.

Ini artinya kita tidak lagi harus masuk pada perusahaan orang lain, tapi kita berusaha menciptakan lapangan kerja baru/bentuk perusahaan.

Apakah pendapat ini bisa diterima? Sepakat?

Ok, kalau sepakat bahwa kita harus menjadi pengusaha, lalu bagaimana caranya memulai bisnis dengan kompetensi kita?

Caranya adalah

  1. Kita bebaskan pemikiran dari beban pengakuan akan kesarjanaan kita. Artinya kita jangan mengharap agar dengan kemampuan kita dan kalau saja bekerja ditempat orang kita akan mendapatkan kepastian gaji per bulan dan sistem kerja yang sudah jelas atau impinan akan pekerjaan yang ideal sesuai back ground pendidikan saat kuliah. Karena kita saart ini akan memulainya dari nol maka jadikan kita menerima realita apa adanya dngan bersikap sewajarnya.
  2. Kita mulai rencanakan sistem kerja kita. Berbicara tentang sistem maka yang dimaksud adalah input, process, output dan feed back. Maka setiap hal tersebut harus disiapkan.
  3. Menentukan aktivitas usaha kita. Jenis usaha jangan terlalu ideal dengan kompetensi kita saja, namun kita hidup di alam realita membutuhkan adanya investasi, pengelola dan pasar. Maka tiap item harus dijabarkan dan akan menjadi peluang bisnis kita diawalnya
  4. Kembangkan bisnis sesuai dengan kekuatan kita
  5. Arahkan potensi bisnis kita mengikuti kompetensi dan hal yang kita sukai, sebab bisnis tergantung keminatan seseorang agar dapat ditekuni secara maksimal.
  6. Jalin hubungan dengan personal atau orang yang berpikiran sama dengan kita untuk menjadi tim bisnis kita.
  7. Dirikan perusahaan berbadan hukum seperti CV. maupun PT
  8. Kuatkan posisi tawar dengan melakukan komunikasi relational dengan perusahaan, birokrasi maupun LSM sesuai dengan core bisnis kita
  9. Profesionalkan kerja dengan melakukan standardisasi pekerjaan kita
  10. Jalin hubungan relasional dengan perusahaan sejenis untuk mengadakan konsorsium maupun merger.
  11. Kembangkan usaha yang bervariasi di sekitar fokus bisnis kita.
  12. Sinergikan kebutuhan satu unit bisnis kita dengan unit bisnis kita yang lainnya dan buka peluang agar dapat menjadi perusahaan terbuka
  13. Biarkan perusahaan kita dikelola orang, kita dapat duduk dibagian komisaris maupun pemegang sahamnya saja dan selanjutnya mengembangkan bisnis lainnya yang hanya butuh investasi
  14. Selamat menikmati bisnis Anda. Biarkan uang bekerja untuk kita.

PASKA KAMPUS TEKNIK

Dalam percakapan di pinggir jalan dekat kampus.

Mas, setelah lulus kuliah mau kemana?”

tanya seorang adik kelas kepada seniornya yang baru saja di wisuda.

Sang kakak senior termenung sambil menatap langit,

Entahlah Dik, Kakak juga gak tau mau kemana setelah lulus ini. Yaah mengalir aja gitu. Daftar PNS, jadi pekerja di salah satu perusahaan, atau masuk yayasan itu semua takdir yang menentukannya, kalau kita berusaha memasukkan lamaran ke organisasi paska kampus tadi.”

Sarjana teknik dengan kemampuan akademisnya yang memiliki segudang ilmu tentang kompetensi keteknikan tetap saja tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dan pragmatis di atas. Apa mungkin dunia akademis masih sangat kental dengan dunia idealisme atau telalu mengkhayal sesuatu yang tinggi dan tidak dapat tercapai seperti pepatah mengatakan Bagai punuk rindukan bulan.

Ada sebuah hal yang menarik untuk disikapi seiring dengan cepatnya lulusan sarjana teknik dengan tidak diiringi sarana atau saluran berikutnya setelah lulus. Sarjana teknik yang rata-rata setiap tahunya lulus sebanyak 500 orang di satu perguruan tinggi, bila di Indonesia terdapat 100 perguruan tinggi saja yang memiliki lulusan sarjana teknik, artinya dalam satu tahun terdapat 50.000 sarjana teknik, bila tidak ditunjang dengan sarana paska kampus yang memadai maka akan terjadi pengangguran yang besar. Hal ini pun kembali kepada sarjana teknik itu sendiri, tidak hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan yang telah ada untuk menampung mereka bekerja, tetapi dari mereka sendirilah yang menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri mereka sendiri. Idealnya sesuai kompetensi yang mereka miliki.

Namun, bicara tentang kompetensi sarjana teknik, agaknya ada hal yang perlu dicermati sebagai suatu fenomena aneh seiring dengan kebijakan kampus itu sendiri, apakah itu?

Kurikulum yang diberikan perguruan tinggi hanya dipandang dari perspektif bisnis setelah dari kampus akan menjadi pekerja di salah satu perusahaan manufaktur maupun jasa yang sudah mapan dan establish. Maka, setting mental para sarjana teknik lebih condong pada pengembangan usaha diiringi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja.

Sarjana teknik tidak dapat menghasilkan sebuah produk baru maupun usaha baru sendiri yang dijadikan sebagai ladang kerjanya paska kampus sedangkan data nominal yang besar diatas tidak memungkinkan semua orang berebut pekerjaan di tempat/perusahaan yang terbatas.

Hanya ada satu cara untuk mengubah realitas yang ada yakni dengan menjadi Pengusaha/Enterpreneur/Business Owner.

Itu adalah solusi permasalahan para sarjana teknik

Aktivis Da’wah Teknik yang responsif dengan dinamika bangsa telah berkumpul dalam suatu forum untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini. Mereka menamakan forum itu dengan Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Kampus Teknik (FULDKT) se-Indonesia yang beranggotakan perwakilan Rohis (Rohani Islam) di penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Adapun hasil dari Munas (Musyawarah Nasional) 2 FULDKT terutama komisi 3 bagian Keprofesian Teknik diantaranya:

Pengertian da’wah profesi teknik dari hasil komisi adalah da’wah pada dunia kerja yang berorientasi pada disiplin ilmu keteknikan dengan berasaskan Islam untuk kemaslahatan ummat.

Tujuan da’wah profesi teknik adalah mengaplikasikan keprofesian teknik dalam bentuk usaha-usaha serta lembaga untuk mengorganisir aktivitas dakwah teknik di kampus dan paska kampus dalam sebuah jaringan sebagai alat memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga gerak da’wah secara nasional terarah dan terpadu dalam proses perbaikan ummat.

Ini artinya kita tidak lagi harus masuk pada perusahaan orang lain, tapi kita berusaha menciptakan lapangan kerja baru/bentuk perusahaan.

Apakah pendapat ini bisa diterima? Sepakat?

Ok, kalau sepakat bahwa kita harus menjadi pengusaha, lalu bagaimana caranya memulai bisnis dengan kompetensi kita?

Caranya adalah

  1. Kita bebaskan pemikiran dari beban pengakuan akan kesarjanaan kita. Artinya kita jangan mengharap agar dengan kemampuan kita dan kalau saja bekerja ditempat orang kita akan mendapatkan kepastian gaji per bulan dan sistem kerja yang sudah jelas atau impinan akan pekerjaan yang ideal sesuai back ground pendidikan saat kuliah. Karena kita saart ini akan memulainya dari nol maka jadikan kita menerima realita apa adanya dngan bersikap sewajarnya.
  2. Kita mulai rencanakan sistem kerja kita. Berbicara tentang sistem maka yang dimaksud adalah input, process, output dan feed back. Maka setiap hal tersebut harus disiapkan.
  3. Menentukan aktivitas usaha kita. Jenis usaha jangan terlalu ideal dengan kompetensi kita saja, namun kita hidup di alam realita membutuhkan adanya investasi, pengelola dan pasar. Maka tiap item harus dijabarkan dan akan menjadi peluang bisnis kita diawalnya
  4. Kembangkan bisnis sesuai dengan kekuatan kita
  5. Arahkan potensi bisnis kita mengikuti kompetensi dan hal yang kita sukai, sebab bisnis tergantung keminatan seseorang agar dapat ditekuni secara maksimal.
  6. Jalin hubungan dengan personal atau orang yang berpikiran sama dengan kita untuk menjadi tim bisnis kita.
  7. Dirikan perusahaan berbadan hukum seperti CV. maupun PT
  8. Kuatkan posisi tawar dengan melakukan komunikasi relational dengan perusahaan, birokrasi maupun LSM sesuai dengan core bisnis kita
  9. Profesionalkan kerja dengan melakukan standardisasi pekerjaan kita
  10. Jalin hubungan relasional dengan perusahaan sejenis untuk mengadakan konsorsium maupun merger.
  11. Kembangkan usaha yang bervariasi di sekitar fokus bisnis kita.
  12. Sinergikan kebutuhan satu unit bisnis kita dengan unit bisnis kita yang lainnya dan buka peluang agar dapat menjadi perusahaan terbuka
  13. Biarkan perusahaan kita dikelola orang, kita dapat duduk dibagian komisaris maupun pemegang sahamnya saja dan selanjutnya mengembangkan bisnis lainnya yang hanya butuh investasi
  14. Selamat menikmati bisnis Anda. Biarkan uang bekerja untuk kita.

PENGUATAN DAKWAH KETEKNIKAN DALAM MENYONGSONG

ERA BARU

Dakwah adalah sebuah aktivitas yang mulia untuk sebuah tujuan yang mulia pula. Sebuah tujuan yang amat besar yaitu tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini. Dakwah bukanlah tugas yang ringan, pada jalannya terbentang begitu banyak rintangan, duri dan kerikil yang siap mencabik-cabik tapak kaki para penyeru-penyerunya. Padanya terdapat beban yang mampu mematahkan tulang punggung (Fi Zhilalil Qur’an, Sayid Qutub). Karenanya, dakwah tidak mungkin dihasung seorang diri, diperlukan adanya amal jama’i untuk merealisasikan tujuan-tujannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat As Shaff : 4 “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan seperti bangunan yang kokoh”. Ali ra.juga pernah berkata, “ Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Demikian pula dakwah kampus, ia harus teratur dengan baik agar misinya tidak dikalahkan oleh siasat musuh- musuh Islam. Agar para mahasiswa yang diharapkan akan memegang tampuk kepemimpinan bangsa yang akan datang dapat mengecap manisnya Iman dan Islam untuk diaplikasikan dalam masa kepemipinannya kelak . Alasan ini serta beberapa dalil naqli di atas dan banyak lagi dalil lainnya menjadi landasan syar’i akan pentingnya keberadaan LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) sebagai sebuah lembaga yang mewadahi kader-kader dakwah kampus untuk bergerak bersama dalam sebuah amal jama’i untuk menghasung tugas dakwah yang mulia.

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik ( FULDKT ) amat menyadari peran penting LDK terhadap proses penyebaran nilai Islam di Kampus, khususnya internal kampus teknik yang menjadi fokus pembahasannya. Oleh karena itu dalam Munas II yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang, 11-13 September yang lalu dibentuklah komisi khusus untuk membahas tentang ke-LDKT-an disamping dua komisi lain yang membahas tentang dakwah akademis dan profesi. Pembahasan Komisi I menjadi penting karena bagaimana mungkin dakwah memperluas ranahnya pada bidang akademis dan profesi sementara inti geraknya sendiri belum mapan.

Diskusi panjang Komisi I pada waktu itu menitik beratkan pada dua masalah utama, yaitu: pengembangan dan pengokohan jaringan. Dua aspek inilah yang akan coba saya ulas dalam tulisan ini.

PENGEMBANGAN JARINGAN

Di awal tadi telah saya sampaikan betapa pentingnya keberadaan lembaga dakwah kampus di setiap kampus teknik, idealnya tentu demikian. Tapi pada kenyataannya tidak setiap kampus teknik di Indonesia memiliki LDKT . Berangkat dari kondisi ini maka Komisi I FULDKT merekomendasikan sebuah program pengembangan jaringan kepada Munas II FULDKT .

Ide utamanya adalah bagaimana FULDKT dapat berperan dalam upaya pendirian LDKT di kampus-kampus teknik yang belum memiliki lembaga dakwah resmi. Harapannya ketika seluruh kampus teknik di Indonesia telah memiliki LDKT, maka isu-isu yang dilontarkan FULDKT kaitannya dengan dakwah keteknikan akan benar-benar menjadi isu nasional – bukan segelintir pihak saja - sehingga memiliki daya penetrasi yang lebih kuat terhadap opini publik. Di samping itu tentunya perkembangan syiar ke-Islaman di kampus-kampus tersebut akan semakin meningkat.

Untuk merealisasikan program ini disusunlah langkah-langkah gerak sebagai berikut:

a. Pendataan Kampus teknik yang belum memiliki LDKT

b. Uji kelayakan

Dari data kampus teknik yang belum memiliki LDKT di atas dilakukan analisa mana saja kampus teknik yang layak di dampingi dalam usaha pendirian LDKT. Hal ini didasarkan pada realitas bahwa tidak setiap kampus teknik memiliki faktor-faktor pendukung untuk mendirikan LDKT, diantaranya tentang kondisi SDM, sikap birokrasi kampus, dll. Untuk kampus-kampus yang lolos uji kelayakan akan segera didampingi untuk pendirian LDKT.

c. Upaya lewat jalur formal dengan menghubungi Dirjen DIKTI agar merekomendasikan adanya LDKT di setiap kampus teknik.

d. Memahamkan ADKT (Aktivis Dakwah Kampus Teknik) akan pentingnya LDKT.

Ada kalanya sebuah kampus memiliki sejumlah aktivis dakwah tetapi tidak tergabung dalam sebuah LDKT, masing-masing melakukan aktivitas dakwahnya secara infiradhi. Untuk jenis kampus macam inilah diperlukan pendekatan dan motivasi kepada para aktivis dakwahnya akan pentingnya LDKT.

PENGOKOHAN JARINGAN

Program pengokohan jaringan adalah upaya menyetarakan kualitas LDKT-LDKT yang menjadi anggota FULDKT. Hal ini penting untuk memasifkan gerakan dari FULDKT itu sendiri. Teknis yang disepakati ialah melalui pendampingan dari LDKT mapan kepada LDKT yang belum mapan.

Komisi I telah melakukan pembahasan tentang parameter kemapanan sebuah LDKT dan menghasilkan beberapa kriteria LDKT mapan dan belum mapan, meliputi kondisi SDM, eksistensi lembaga, sarana-prasarana yang dimiliki, dan frekuensi kegiatan syiarnya. Dengan adanya parameter yang jelas maka diharapkan program ini dapat dijalankan dengan lebih mudah. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas kader dakwah pada sisi profesionalitas lembaga dan bekal dakwahnya disepakati beberapa strategi sebagi berikut:

a. Standarisasi pelatihan manajerial

b. Upaya memperjelas & mengefektifkan alur kaderisasi sesuai karakteristik masing-masing LDKT.

c. Pelaksanaan kegiatan syiar bersama antar LDKT dalam satu wilayah.

Kedua program di atas harapannya akan memperkuat aspek ke-LDKT-an yang akan mendukung pula gerak FULDKT di wilayah akademis dan profesi teknik. Pelaksanaannya akan dikoordinir oleh SENKOMNAS (Sentra Komunikasi Nasional) FULDKT dalam hal ini SKI FT Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Barangkali ini sekelumit informasi yang bisa saya bagi pada antum wa antuna pembaca Shohwah yang setia. Saya akhiri uraian ini dengan harapan semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa mengabdikan segala yang telah dikaruniakan-Nya untuk dakwah ilallah. Memberikan ridho-Nya pada setiap langkah kita dalam meninggikan kalimat-Nya, mengampuni dosa kita dan menunjuki kita pada jalan yang dicintai-Nya. Agar setiap peluh yang menetes dan setiap darah yang tercecer menjadi saksi syahidnya jiwa-jiwa kita, Insya Allah !!

SMA N 2 TAPAKTUAN

SMA N 2 TAPAKTUAN
Training Motivasi

PESANTERN AL-MUNJIYA LABUHAN HAJI

PESANTERN AL-MUNJIYA LABUHAN HAJI
Training ISQ

PEMUDA DAN PEMUDI KECAMATAN SAWANG, ACEH SELATAN

PEMUDA DAN PEMUDI KECAMATAN SAWANG, ACEH SELATAN
TRAINING MOTIVASI