Minggu, 15 Juni 2008
Ya Allah..liriklah aku, sedikit saja!
Gelak tawa dan canda menghiasi seluruh sudut ruangan, sapaan disana- sini, obrolan yang tak kunjung habis, terdengar luapan emosi melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu. Begitulah suasana reuni SMU, disalah satu ruang sebuah hotel berbintang, pertemuan yang dinanti-nanti setelah hampir tiga tahun meninggalkan bangku sekolah berseragam putih abu-abu itu.
Piuh, sendiri aku disini, yang lain sibuk mengobrol dengan teman masing-masing, malas aku bergabung dengan mereka. Uh,mana sih teman-teman aku itu, nggak mungkin mereka nggak datang, apa iya mereka nggak kangen sama aku. Bosan mulai melanda, kuhempaskan diriku disebuah sofa disalah satu sudut ruangan yang sepi, kenangan masa lalu mulai muncul dalam ingatanku.
*****
Aku, Diko, Melda, Riska, dan Iqbal, teman se-geng di SMU, sahabat-sahabatku, yang selalu kompak, dengan motto kami, susah senang ditanggung bersama. Hm…konyol memang, tapi mempunyai kesan mendalam dihatiku. Bolos, nyontek, jalan-jalan, sampai dugem kita selalu sama-sama, kecuali pacaran, itu sih nggak mau barengan, basi! Kehidupanku berubah dengan mereka, hidupku menjadi penuh makna, gaya hidupku berubah, gaya berpakaian, rambut, make-up, tindik, sampai belajar merokok…
“Fa, lo mau nyoba ngerokok nggak? Enak lo Fa, bisa ngilangin stress.” Riska menawari rokok saat dirumahnya.
“Hah, mmm…nggak ah Ris, gue kan nggak ngerokok.” jawabku ragu.
“Payah lo Fa, masa nyoba aja nggak mau, kenapa?takut?!” ucap Riska sambil menatapku dengan tatapan mengejek.
“Tau lo Fa, nggak bisa ngerokok? Sini gue ajarin, masa kita ngerokok lo nggak, nggak kompak lo!” Melda ikut mengomporiku sambil menghisap rokoknya.
“Hm…gimana ya,…ya udah deh, tapi ajarin gue ya, gue nggak bisa ngerokok nih, tapi sebatang aja ya, gue kan belum biasa.” Jawabku setelah menimbang-nimbang daripada dibilang nggak kompak, lebih baik aku mengikuti kemauan mereka. Aku mulai mengambil sebatang rokok…
*****
Begitulah awal ku mulai merokok, yang sekarang sudah menjadi kebiasaan. Diko dan Iqbal jelas aja ngerokok, cowok sih, biasa, bahkan terkadang setahuku mereka juga pakai kok, pernah sih aku pengen nyoba, mau tahu gimana sih rasanya makai? Tapi mereka nggak mau ngasih, mereka bilang nanti aku ketagihan, sebel! Tapi aku nurut aja, mereka kan lebih tahu. Tindik juga jadi ciri gayaku, ditelinga sih udah biasa, deretan anting sudah menghiasi kedua telingaku, dihidung?biasa, bibir sampai pusar sudah pernah kucoba, sekarang tinggal empat tindikan ditelinga kanan dan kiriku saja yang tersisa.
Keluargaku tak ada yang peduli dengan segala perubahanku, mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan diriku, bahkan sampai aku kuliah di Yogya pun mereka biasa saja. Hanya materi yang dapat mereka berikan, tapi itu tidak cukup! Aku tidak butuh uang, aku butuh kasih sayang!perhatian! dan itu kudapatkan dari teman-temanku, sahabat-sahabatku! Mereka yang selalu ada disaat aku sedih, tertekan, mereka menghiburku, memberikan semangat, dorongan, dengan mereka, aku dapat kembali tersenyum.
Ah, sedih mengingatnya, kenangan yang selalu terpatri dalam ingatanku, cerita indahnya persahabatan. Kini sejak aku diterima di PTN di Yogya, aku tak tahu bagaimana kabar mereka, semua sulit untuk dihubungi. Yang kutahu Melda diterima di PTN di Depok, yang lain, aku tak tahu.
“Assalamua’laikum, Sifa ya?” sapaan seseorang membuyarkan lamunanku, seorang gadis berjilbab lebar, dengan baju muslim yang terlihat longgar. Siapa sih? Kuperhatikan raut wajahnya dengan seksama, oh…
“Melda?! Benar Melda kan? Ucapku sedikit keras, gadis itu mangangguk pelan sambil tersenyum. “Ya ampun, lo berubah banget gue sampai nggak ngenalin, hei sejak kapan kamu berjilbab?” pertanyaan yang membuatku makin bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Melda, yang dulunya…ah kutepiskan rasa itu, bagaimanapun Melda temanku, aku tidak boleh berprasangka buruk.
“Alhamdulillah Fa, sejak aku kuliah, aku mulai berubah, untungnya kearah yang lebih baik. Gimana kabarmu, baik-baik aja kan?” katanya sambil tersenyum.
“Kok bisa Mel?” tanyaku mengacuhkan pertanyaannya, entah terlihat bodoh atau tidak, aku tak peduli, aku masih terkejut oleh penampilan Melda, bagaimana bisa…..
“Ya bisa Fa, Allah telah memberikan hidayahnya padaku, Alhamdulillah. Dikampus aku berkenalan dengan mbak-mbak yang membimbingku Fa, lepas dari gaya hidup dan kebiasaan-kebiasaan burukku dulu.”ucapnya.
“Ya, kebiasaan, kehidupan buruk, tapi penuh makna bukan? Persahabatan!” kataku tajam.
“Nggak Fa, persahabatan yang baik tidak membawa kita kepada kemungkaran, persahabatan yang indah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, tidak seperti persahabatan kita dulu…” ucapnya pelan.
“Maksudmu?! Persahabatan kita nggak ada artinya?!” kupandang dia dengan tatapan tajam, ternyata…
“Bukan begitu Fa, kamu jangan marah dulu, persahabatan kita memiliki banyak hikmah Fa, kebersamaan kita, sungguh indah, aku nggak akan lupa, tapi kelakuanku yang sungguh hina saat itu sudah kukubur rapat-rapat, masa lalu yang menyedihkan…”Melda memandangku penuh arti, ia kembali bicara “Kini dengan harapan, aku ingin merubahnya Fa, menebus dosa-dosaku saat itu, sungguh malu aku mengingatnya. Malu begitu banyak dosa yang kuperbuat, padahal Allah memberikan banyak nikmat kepadaku.” Jelasnya.
“Lo benar-benar berubah Mel, tapi gue terima perubahan lo, setiap orang pasti berubah kan? Dan elo tetap sahabat gue.” kataku pada akhirnya.
Melda tersenyum gembira, raut wajahnya kelihatan berseri, terlihat tulus.
“Assalamua’laikum. Sifa kan?” sapaan seseorang membuat obrolanku dengan Melda terhenti. Siapa orang ini, cowok berbaju koko, rapi. Rapi untuk penampilan seorang cowok.
“Ehm, Sifa kan?” tanyanya lagi.
“ Eh, iya, siapa ya, sorry gue lupa?” jawabku.
“ Wah, masa lupa, aku Iqbal nih”jawabnya.
“Iqbal?! Ya ampun Bal, apa kabar?” ucapku sambil terkejut melihat penampilan Iqbal, sungguh berbeda.
“Hai Bal, masih ingat sama aku nggak nih?” Tanya Melda.
Iqbal terlihat bingung melihat gadis berjilbab yang bersamaku, tapi dia tersenyum “ Melda kan, wah sudah berjilbab ya, Alhmadulillah.” Katanya.
“Eh Bal, sejak kapan berjenggot, kata lo jenggot tuh nggak keren sama sekali.” Tanyaku setelah memperhatikan jenggot yang tumbuh didagunya.
“ Yah, itu kan dulu, sebelum aku tahu kalau memelihara jenggot termasuk sunah Rosulullah, Fa.” Jawabnya sambil mengelus-elus jenggotnya.
“Oh, gitu ya, lo berdua emang berubah ya” kataku yang bingung dengan penampilan keduanya.
“Eh Bal, tahu nggak kabar Riska sama Diko? Aku udah coba telepon mereka, tapi kok nggak ada yang ngangkat ya?” Tanya Melda, yang seakan mewakili pertanyaanku juga.
“Ehm…kalau Riska, yang aku tahu dia ngelanjutin sekolah diluar negeri, kalau Diko…hm…dia masuk rehab, dia kecanduan narkoba.” Ucapan yang menjawab perasaan kangenku.
“Astagfirullah, sejak kapan Bal?” Melda tidak bisa menutupi rasa kagetnya.
“Enam bulan lalu, waktu itu dia sakaw, terus dibawa ke rumah sakit, keluarganya jadi tahu kalau dia makai, setelah keluar dari rumah sakit, dia dimasukkan ke panti rehab” jelasnya.
“Bukannya lo juga makai Bal?” tanyaku penasaran.
“Wah aku dah lama berhenti, sejak masuk kuliah, ngeri aku melihat banyak temanku yang sakaw, aku nggak mau kayak gitu, kayaknya menyiksa banget.”katanya.
“Yah, untung deh, kamu udah berhenti. Eh, kita ke panti rehab yuk, jenguk Diko” ajak Melda
“Yuk, yuk, aku setuju, tapi minggu depan ya?” kataku meminta persetujuan.
“Oke, jadi ya, minggu depan” Iqbal menyetujui.
*****
Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, lelahnya hari ini, kepejamkan mataku…ah, begitu banyak yang terjadi hari ini…”Ya Allah”, jarang sekali aku menyebut nama itu, apa yang telah kau berikan kepada kedua temanku, hingga mereka bisa berubah seperti itu, keajaibankah? Kududuk didepan cermin, melihat wajahku sendiri, wajah yang menyedihkan. Umurku yang sudah berkepala dua ini tak membuatku bersikap sesuai umurku, apa yang kulakukan selama ini? Tertidurkah? Bermimpikah?...air mata mengalir membasahi pipiku, Ya Allah, kenapa baru sekarang ku tersadar, bahwa diriku begitu jauh dari-Mu, kemana saja Engkau ya Allah, tak sudikah kau menghampiriku? Kau menghampiri Melda dan Iqbal, tak inginkah Kau menghampiriku, melirikku sedikit saja! Ya Allah, begitu banyak dosa yang telah kuperbuat, maukah Kau memaafkanku? Pasti! Kuyakin Engkau memaafkanku, tapi pantaskah?! Kuhapus air mata dari wajahku, kulihat wajahku dicermin, kuyakin Allah pasti mau memaafkanku, kini tinggal merubah diriku sendiri, menjadi manusia yang baru dan diridhoi oleh-Mu. Ya Allah terimalah taubatku. Bismillahirahmanirrahim……….[nez]
Bayang-Bayang Sebuah Asa
Untaian kalimat demi kalimat seorang psikolog terkenal dilayar kaca dalam tayangan sebuah televisi swasta, tentang betapa tidak enaknya menjalani hari-hari tanpa kemauan sendiri, kurasakan benar kini. Berpikir untuk menjalani suatu profesi yang sama sekali bukan merupakan cita-cita adalah baying-bayang mengerikan yang tak berkesudahan. Contoh konkretnya adalah aku, seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sejak awal tidak memiliki keinginan untuk menjadi dokter sama sekali.
“Ke kampus, Hen?”
“Males!”
Bowo segera berlalu mendengar jawaban singkatku. Anak-anak sekos kebanyakan sudah tahu perihal keterpaksaanku mengikuti ambisi Bapak. Bapakku yang cita-citanya menjadi dokter kandas karena berbagai faktor, menggantungkan harapan itu dipundak anaknya. Sehingga aku pun diberinya nama Mahendra Avicena. Namun sejak kecil, aku lebih mengidolakan Habibie daripada Ibnu Sina atau Avicena. Lebih suka ikutan utak-atik mesin dibengkel belakang rumah milik tetangga, daripada membaca literatur kesehatan atau mendengarkan Bapak bercerta tentang kegunaan masing—masing obat yang ada dalam kotak PPPK dirumah. Meski begitu, Bapakku tetap bersikukuh dengan keinginannya. Salah satu anaknya harus jadi dokter. Dan aku, yang menurut pertimbangan para dewan guru dan kacamata para keluarga paling pantas mendapat estafet ambisi itu, mau tak mau harus menuruti. Saat lulus SMU, aku masih terlalu ketakutan untuk bias membayangkan hidup mandiri tanpa biaya subsidi dari Bapak. Satu ancaman Bapak kalau aku membangkang. Karena memang tidak ada pilihan lain, maka pilihan satu dan dua dalam UMPTN kuisi kedokteran umum semua. Aku lolos pada pilihan pertama, disebuah PTN ternama dikota
Hari-hari menjemukan dalam masa perkuliahan kulewati. Walau tanpa niat, IPK-ku tidak terlalu buruk karena aku memang tidak bodoh. Semua mengalir seperti air seakan tanpa rintangan. Memang bukan kemampuan otak yang menjadi persoalanku.
“Pasti nerusin co ass, Hen?”
Aku mengedikkan bahu.
“Aku pasti tidak. IPK-ku pas-pasan, rugi kalau dipaksain. Kukira melihatku diwisuda dan gelar S.Ked tercantum dibelakang namaku sudah cukup menyenangkan dua bonyok-ku dirumah”
“kamu yakin?”
“Yakin nggak yakin. Soalnya aku udah capek, Hen. Saatnya aku harus memilih jalan yang kuingini dan siap menerima segala resikonya.”
Memilih jalan sendiri? Menerima segala resikonya? Perkataan Bambang, mantan jurnalis kampus yang sejak kecil bercita-cita jadiwartawan, mengusikku. Nasibnya hampir sama denganku kesasar di kedokteran atas paksaan ortu. Sudah kuatkah aku menerima segala resiko pembangkanganku? Kalau Bambang barangkali lebih enak. Dia sudah punya penghasilan dari profesinya menjadi wartawawn free lance disebuah
“Melamun terus,Hen.”
“Bingung, Wo.”
Bowo, tetangga sebelah kamarku, masuk membawa radio kasetnya ke kamarku yang bak kapal pecah. “Ngadat lagi. Benerin, ya!”
“Jangan lupa ongkos lelahnya!”
“beres,”Bowo mengacungkan jempol kanannya, “Gimana skripsimu? Hampir kelar?”tanyanya kemudian.
Aku hanya menggeleng. “Males,” jenis jawaban yang paling suka kulontarkan dan paling dibenci Bowo.
“Calon dokter kok,males,” ledeknya.
“Bingung aku,Wo. Kalau kupikir-pikir,sepanjang kuliah selama ini aku sudah buang energi, ngabisin banyak waktu,pikiran,dsb,dll. Sayang kalau nggak diterusin. Tapi, aku nggak punya mood untuk itu. Aku nggak ada motivasi.”
“maumu?”
“Kadang-kadang aku masih menyimpan harapan untuk jadi seperti Habibie.”
“Kayak nyanyian Joshua aja,” komentarnya enteng.
“Aku serius, Wqo” kupegang pergelangan tangan kanannya, “jangan meledekku.”
“Realistis, Hen. Kamu mau ngapain selain nerusin kuliah? Kamu punya alternatif lain seandainya kamu menolak nerusin ke program profesi?”
Uaah…calon guru bahasa itu membuatku kesal.”justru akumengajak kamu bicara itu untuk nyari alternatif. Dasar guru nggak peka!”
“Mungkin…mulai sekarang kamu bias merintis kerja dibengkel. Atau, nyoba jadi tukang parkir?”
“Tukang parkir?apa hubungannya?” kupotong perkataannya. Rasa kesal mulai membuncah didadaku.
“Maksudku…tukang parkir pesawat terbang.
Refleks aku melotot kearahnya. “Wo,aku serius!” kutekan kata-kataku.
“Aku malah aquarius,” sahutnya santai seraya berlalu dari kamarku.
Hiih! Aku makin jengkel. Kutendang pintu kamarku sekeras-kerasnya.
“Dooo, baru segitu saja marah. Sorry, kalau gitu. Aku buru-buru mau kuliah soalnya. Nanti malam atau besok kita lanjutin ngobrolnya.”
Kemarahanku agak surut. Anak Semarang yang merangkap kuliahj dikomunikasi itu memang paling bias mengendalikan diriku. Kabarnya anak itu aktifis mushala fakultasnya. Tapi dia sama sekali tidak sok ekslusif, juga tidak terlalu hobi khotbah kayak Arifin teman seangkatanku. Bowo bahkan doyan ngocol dan sesekali menemaniku nonton konser musik keras-musik orang gila, menurut versi Arifin. Itulah mengapa aku yang dahulu shalat
Hari berganti hari, kebingunganku belum jua sirna. Ketidakjelasan apa yang akan kukerjakan pasca menyelesaikan skripsi, membuatku kehilangan gairah hidup. Seperti juga saat ini, saaat aku bergelut dengan kabel-kabel, membantu salah seorang kenalanku yang membuka jasa reparasi barang elektronik. Menyaksikan belitan kabel dan aneka komponennya, sering pikirankumelntur kemana-mana. Tentang indahnya bergumul setiap waktu dengan mesin, mengutak-atik berbagai komponen listrik, nahkan sampai kecerita khayalan spiderman. Fantasiku sering membayangkan betapa enaknya si Peter Parker yang melakukan percobaan dengan uranium. Lantas tiba-tiba ada serangga nyelonong masuk kekotak eksperimennya, lalu serangga itu teradiasi, menggigit lengannya…dan tanpa proses yang rumit Peter jadi punya kekuatan ajaib, jadi manusia laba-laba alias Spiderman. Memang pikiran-pikiran yang gila, jauh panggang dari api dengan realitas yang kini kujalani.
“Hen, ada telegram dari
Buru-buru kurobek sampulnya. Isinya sangat singkat. Ibu menyuruhku pulang.
“Suruh pulang ya, Hen?
Aku hanya menggerakan sedikit bibirku sebagai isyarat.
“Suruh kawin?”
“Suruh kawin gundulmu!”
bowo terkekeh.
Bapak dan ibuku baru pulang dari tanah suci. Keluarga besar akan berkumpul. Aku diharapkan bias pulang pas hari ‘H’. acara tasyakuran.
Ibu menyambut kedatanganku dengan linangan air mata. Aku ikut terharu, tapi tentu saja tidak turut meneteskan air mata.
“Disana Ibu selalu mendoakan agar kamu berhasil jadi dokter yang baik. Di Raudhoh, didekat makam Ibrahim, juga saat wukuf di Arafah. Ibu selalu mengingatmu Hen,” mata Ibu berkaca-kacalagi. Barangkali Ibu teringat pengaduan-pengaduanku akan ketersiksaan batin yang kualami selama masa belajar.
Jujur, ada sesuatau yang menyentak dasar jiwaku mendengar perkataan Inu. Ternyata, Ibu pun sangat menginginkan aku menjadi dokter. Satu hal yang tidak kupahami sebelum ini. Uuh…rasanya kepalaku serasa dibelah tujuh,yang masing-masing bagian ditarik kearah yang berlainan.
Pulang dari
“Wo, ehm…,mungkin tidak sih, sebenarnya orang segede aku berpindah cita-cita?”
“Maksudmu?”Bowo mengibaskan sarungnya lantas menaruhnya disandaran kursi. Kami baru saja berjamaah shalat zuhur.
“kalau anak kecil
“Sekarang kamu udah nggak kepengin jadi Habibie,begitu?”sambil nyengir, Bowo mencoba menebak.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Malah kualihkan ke pertanyaan lain. “Bisa nggak sih, kita laksanakan cita-cita orang lain, tapi kita tetap enjoy menjalanibnnya?”
Bowo tertawa kecil lantas menghempaskan punggungnya ke pinggir ranjang. “Siapa yang membuatmu berubah pikiran?”
“Ibu. Aku tidak sanggup membuatnya kecewa, Wo.”
“Ya, sudah, kalau gitu kamu cepat beresi tugas akhirmu. Trus, ngelanjutin ke profesi. Habis itu jadi dokter yang professional. Gampang
“Tapi aku bingung…”
“Bingung gimana?Otak kamu tokcer. Kamu mampu mewujudkan impian bapak ibumu. Apalagi?” Bowo memandangku seperti menghipnotis.
“Kamu udah tahu kalau aku selama ini tidak ada motivasi untuk itu.”
“Kamu tahu Hen, Taufik Ismail yang penyair itu dokter hewan. Juga aktor Fadli yang dokter gigi, tapi entah sempat praktik atau tidak…”
“Tahu. Apa maksudmu?”
“Yah, agar kamu membuka mata bahwa tidak Cuma kamu yang menghadapi masalah seperti ini. Saranku, kau tetap konsentrasi nyelesein skripsi sembari mencoba merintis jalan kearah yang kamu ingini.”
“Hal itulah yang membuatku bingung. Rasanya banyak cabang yang terhampar didepan mataku. Aku belum tahu mulai dari amna.” Kuhela napas panjang seraya melonjorkan kedua kakiku.
“Bamyaklah muhasabah. Kamu kenal ungkapan, barang siapa mengenal diri maka diamengenal Tuhannya,
Aku mengangguk-angguk. Bowo melanjurkan ucapannya, “Tapi kalau kamu ingin melatih ikhlasnya hati dalam mewujudkan cita-cita ortumu, bisa juga.”
“Bisa?”aku menautkan keua alisku. Bila ada cermin didepanku, pasti kulihat bertumpuk kerutan muncul dikeningku.
“Tidak ada yang mustahil diduniaku ini. Karena Allah adalah Zat Yang Mahakuasa membolak-balik hati, perasaan, keinginan, dan motivasi seseorang.”
Byur! Seakan kepalaku disiram air dingindisiang panas terik mendengar kata-kata bijak Bowo. Seingatku, belum pernah aku betah dicertamahi oranng tanpa merasa bosan, seperti sekarang ini.
“
“Contoh apa yang kau maksud?”
“Orang yang sukses lantaran mengikuti ambisi orang tua, bukan hasratnya sendiri.”
“Banyak. Contoh gampang adalah Mas Irvan, kakak sulungku yang sering kemari itu. Dia dullunya ingin jadi arsitek, tapi Abah malh cenderung mengirimkan dia kepesantren selepas SMU. Karena hati Mas Irvan ikhlas, sekarang dia sudah memiliki puluhan santri, disamping sering diundang mengisi ceramah dimana-mana.”
“Kamu sendiri?”
“Kalau aku dari kecil sudah berjiwa renegade. Bangga berani berkata tidak dan membangkang orang tua. Termasuk kuliah dikomunikasi ini, nyaris tanpa restu.”
“Sekarang?” Sungguh tak kusangka, Bowo yang terlihat alim pun pernah menjadi seorang pemberontak dimasa lalunya.
“Alhamdulillah segalanya beres, Hen. Setelah kenal Islam aku baru sadar bahwa berbeda dengan orang tua bukanlah dosa, namun ada rambu akhlak yang tidak boleh diterjang untuk mengatasinya.”
Aku terdiam cukup lama, merenungkan banyak hal. Pertama, aku tentu harus lebih dekat kepada Allah agar diberi jalan yang terbaik. Kedua, inilah yang harus segera kuputuskan. Berbagao slide peristiwa bermunculan dan batok kepalaku.
“Jadi dokter adalah dambaan bapakmu sedari dulu. Karena 3 orang pamanmu meninggal dunia sewaktu kecil akibat terserang wabah menular, yang tak terobati karena ketiadaan biaya.”
“Saatnya aku harus memilih jalan yang kuyakini dan siap menanggung segala resikonya,”perkataan tegas Bambang, calon jurnalis.
“Ditanah suci Ibu senantiasa mendoakan agar kamu segera nlulus dan bias secepatnya memberikan pertolongan pada orang-orang yang miskin.
Kupikir, semua pilihan yang ada baik meski bukan berarti tanpa resiko. Memang, hidup adalah menentukan pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi. Kesanggupan kita terhadap konsekuensi itulah yang seharusnya menjaid pertimbangan tatkala hendak menjatuhkan pilihan.
“Khoirukum anfa’uhum linnas. Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat untuk sesamanya.” (nez)
Diambil dari kumpulan cerpen karya Jazimah Al-Muhyi, ketika duka tersenyum.
Fai, Pratikum dan Bus Kampus
Fai, Pratikum dan Bus Kampus
Pagi ini kulihat Fai sudah menungguku di halte pasar baru seperti biasa. Atau aku cuma geer saja, entahlah, tapi memang biasanya begitu, dia selalu menungguku di Halte Pasar Baru. Dan, benar,
“Laporannya sudah kau buat,
“Hoi bangun! Dah mandi belon nih anak?” teriak Fai sambil menonjok bahuku. Oh, Fai, andai kamu tahu ini nggak bener. Tapi haruskah aku membuatmu kecewa dengan khotbah-khotbah yang akan kuberikan? Aku tak ingin khotbah itu justru menjadi sebab kau semakin jauh dari jalan-Nya.
Sudah dua semester ini, Fai akrab denganku. Bermula saat kami satu kelompok pada praktikum Proses Produksi I, aku jadi mengenalnya lebih dekat. Dulu aku hanya sekedar tahu dia salah satu diantara tiga orang gadis di Teknik Mesin. Mengapa dia masuk Teknik Mesin? Katanya, dia ingin mengubah imej Teknik Mesin identik dengan cowok. Orang tuanya sendiri ingin dia masuk Kedokteran, tapi dasar Fai, dia nekat memilih Teknik Mesin, jurusan paling macho di universitasku.
Azizah Nur Faizah, anak Bukit Tinggi yang sikapnya setegar namanya. Dia paling hobi ikut pendakian bareng bukit. Basket? Wah kamu yang cowok belum tentu bisa ngalahin dia. Dia sering bilang padaku, ”Eh, kamu itu cowok beneran ngga, sih? Daki gunung ngga pernah ikut, basket juga cuma jadi cadangan…” aku memang paling malas ikut naik gunung, walaupun Irpan temanku sering mengajakku ikut mendaki tau rihlah bersama Dpartemen Seni dan Olah Raga Foristek yang nama kerennya adalah Dpertemen SENIOR.Fai, bagaimanapun juga kau sudah memberi banyak warna di Teknik Mesin. Banyak –katanya sih- kakak angkatan yang ‘mengejar’ dia. Tapi Fai tak pernah menanggapi, dia selalu bilang, “No time for love!!!”. Padahal hampir semua anak TM setuju, Fai harusnya jadi model. Fai memang cantik, kuakui itu. Rambutnya yang panjang, membuatya mirip sekali dengan Maudy Kusnaedi, bintang sinetron itu.
Fai memang kaya, dulu dia selalu berangkat dengan Estilo Civic hijau-nya, tapi sejak akrab denganku –ciee, geer- dia selalu naik bus kota, “Biar merakyat…” katanya, ah, merakyat apa merakyat? Dan sejak itu dia selalu menungguku untuk pulang bareng dari kampus. Sejak itu juga, Pak Saleh, Koko, Andri, Romel, Ajo jadi agak jauh denganku, mereka jadi selalu sinis bila bertemu denganku, ah mungkin itu cuma perasaanku saja, buktinya mereka masih sering bercanda denganku di masjid.
Pernah juga dia marah padaku, gara-gara aku tak mau menemaninya nonton film peraih Oscar, Armageddon. Aku mencoba menjelaskan, kukatakan padanya nonton itu nggak baik, masih banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Akhirnya kuajak Fai ikut kegiatannya Ar-Rahma bersama anak-anak jalanan. Dan untungnya, dia sangat enjoy dengan anak-anak jalanan itu sehingga dia lupa sedang marah denganku, hehe. Fai memang punya jiwa sosial yang tinggi.
Fai yang cantik, aku ingin kamu jadi muslimah yang baik. Pernah dulu aku berdiskusi dengannya tentang masalah hijab. Dia bilang, “Glenn, sebenarnya aku sih ingin juga pakai jilbab, tapi aku merasa belum bisa seperti mereka, aku masih ingin bebas…”. Lho, kamu memang aneh, Fai, kalau manusia memang boleh bebas sebebas-bebasnya, pasti dunia ini sudah kiamat sejak dulu, kebebasan macam apa yang kau cari, Fai? Tapi akhir-akhir ini Fai memang berubah. Dia tak pernah lagi memakai jeans ketat saat ke kampus. Kata Indah –satu-satunya ‘jilbaber’ di Mesin- Fai tidak ingin aku dimusuhi anak musholla gara-gara punya teman yang berpakaian tidak sopan.
“Glenn! Hei! Ngelamun aja sih. Lagi mikirin siapa hayo. Udah siap kan untuk kuis Pak Sam hari ini?” pertanyaan yang amat membuatku kaget.
“What Pak Sam kuis, waduuh…” terbayang olehku ‘senyum sadis’ Pak Sam saat masuk kelas. Jujur saja, aku belum belajar tadi malam, bahkan sudah seminggu ini tak kusentuh bukuku.
“Hihi, April Mop, kuisnya minggu depan, koq.” Fai tertawa, aku hanya menggaruk kepala. Kena juga aku. “Makanya jadi cowok jangan malas!” kata Fai sambil menjitak kepalaku, astagfirullah, batal deh wudhu-ku pagi ini.
Siang ini kuliah terasa sangat panjang, seakan bertahun-tahun. Aku menarik napas panjang setelah Pak Sam mengakhiri kuliah panjangnya dengan ‘senyum manisnya’ dan berkata, “Jangan lupa, minggu depan kita kuis”. Dan keluhan panjang menggema di dalam kelas. Aku melangkah gontai keluar ruangan, perutku sudah mulai ingin diisi. Fai menghampiriku dan mengajakku ke kaptek. Kurasa dia punya indra keenam untuk mengetahui keadaan perutku. Lagi pula biasanya dia nraktir aku, hehe, lumayan makan gratis.
“Eh, Glenn, kamu mau ngga kasih tau aku, dimana and kapan sih ada pengajian putri, aku mau ikut.” Aku seperti tersambar geledek. Tak kukira Fai yang modis bertanya padaku tentang pengajian. Sedang aku sendiri tidak aktif ikut pengajian. Aku jadi gugup, tapi kucoba mengingat jadwal pengajian putri di musholla.
“Eh, anu mungkin tiap Jumat pagi, Biasa acaranya di mushalla teknik sipil,tapi juga sering di mushalla Al-Aqsa TI,TL.di Koridor gedung D juga pernah. Aku juga lupa nih.” Aku hanya menyeringai menahan malu, ya malu pada diriku sendiri. Aku yang telah tahu sedikit banyak, ternyata tidak punya ghirah untuk lebih tahu. Sementara Fai yang belum tahu, malah punya semangat lebih untuk tahu. Fai hanya mengangguk, segelas es teh tinggal separuh didepannya.
jumat pagi itu tak kulihat Fai menungguku di halte pasar baru, aneh juga, aku jadi mengharapkannya, padahal biasanya aku mencoba untuk menghindarinya. Langkah gontaiku kuayunkan menuju kampus, semalam aku nonton semifinal Piala Champions, mataku masih terasa berat. Kulihat Fai bersama Indah muncul dari balik Sekre FORISTEK, dia melambaikan tangan padaku.
“Hai, assalamualaikum. Kau ngga ikut pengajian, ya?” salam Fai dengan ceria. Aku agak terkejut, tak biasanya Fai menyapaku dengan salam.
“Alaikumsalam, wah aku lupa nih,” aku beralasan, padahal aku memang jarang ikut. Kulihat Fai yang lain pagi ini. Bibirnya yang biasanya terpoles, hari ini tanpak polos, parfum-nya juga tidak tercium lagi. Tapi justru dia bertambah cantik, wah ada virus di hatiku yang mulai mengganggu. Tapi harus diakui, pagi ini ada sesuatu yang lain dari Fai, dia tampak lebih ‘cool’ tanpa mengurangi keceriaannya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu rahasia padaku. Ah, Fai, kau memang misterius.
***
Kupatut wajahku di depan cermin. Kubetulkan jilbab baruku yang agak sedikit miring. Akan kubuat Glenn terkejut pagi ini. Dia pasti tidak menyangka, aku, Si Fai modis, akan jadi ‘jilbaber’. Aku tersenyum sendiri membayangkan wajah Glenn yang bengong saat melihatku nanti, pasti dia tambah culun.
Kusambar tas ranselku dan bergegas menuju kampus. Aku tak ingin kalah cepat dengan Glenn. Hari ini Pak Jayan kuis, tapi tenang saja toh aku sudah belajar. Kulangkahkan kakiku dengan cepat. Hupp, pelan-pelan neng, kalau jalan yang sopan entar dimarahi Uni Merry, lho. Aku tertawa sendiri, jilbaber kok jalannya kaya Argolawu, hihi. Tiba-tiba aku teringat, astagfirullah aku lupa membawa kalkulator! Aku segera berbalik untuk pulang. Tapi tiba-tiba terdengar suara mobil yang mengerem keras. Mobil itu hanya satu meter di sampingku, lalu semuanya menjadi gelap.
Perlahan kubuka mataku, kurasakan kakiku sakit sekali. Ruangan putih dan sekantong infus yang tergantung di sudut ranjang. Astegfirullah mungkin ini peringatan dari Allah padaku, selama ini memang aku teramat jauh dari-Mu ya Rabbi. Kulihat Indah duduk di samping ranjang bersama Ibu kosku, Bu Endang.
“Fai, kau sudah sadar? Selamat datang ya ukhti.” bisik Indah dengan air mata berlinang. Kurasakan keharuan yang tak pernah ada selama ini. Kurasakan kehangatan seurang teman sejati yang tak pernah kujumpai bersama teman-temanku. Kehangatan cinta seorang saudara kepada saudaranya, yang baru kurasakan kali ini. Aku hanya mengangguk pelan, mataku basah oleh keharuan yang tak bisa kutahan ini.
Sudah seminggu aku terbaring di sini. Tiap hari selalu ada ‘teman-teman baruku’ yang menegokku. Indah, Hani, Uni Merry, dan teman yang lain selalu membawakan kebahagiaan di hatiku. Aku tak pernah merasa sendiri, aku berada di dalam sebuah jamaah yang terjalin mesra dan indah. Tapi pagi ini ada yang istimewa. Teman-teman FORISTEK datang menjengukku. Kulihat lagi wajah-wajah macho setelah seminggu ditemani ‘bidadari’. Hakim and his gank tampak terkejut melihat perubahan padaku. Tentu saja mereka tak menyangka Fai tomboy akan jadi Fai ‘akhwat’. Tapi tak kulihat satu wajah culun yang selalu akrab denganku, Glenn, dimana kamu?
Ah, Glenn, kamu memang orang yang lucu. Ya Allah dulu aku memang pernah ingin berhijab karena ingin mengambil hatimu, Glenn. Tapi kini aku berhijab ikhlas karena Engkau, ya Allah, bukan karena Glenn atau siapa pun.
Ketika Hakim dan kawan-kawan pulang, kulihat wajah Glenn di pintu. Senyum culunnya masih setia menghias wajahnya. Dia melangkah masuk, tak tampak rasa terkejut di wajahnya. Pasti Indah sudah memberitahu dia. Glenn datang bersama Koko aktivis masjid, yang sering kulihat di pengajian Rabu pagi.
“Cepat sembuh, ya. Entar ketinggalan kuis Pak Sam, lho.” Glenn berkata dengan pelan. Aku ingin tertawa melihat tingkah culunnya.
“Tenang aja, besok kalau sudah sembuh, peer-mu pasti kukerjain lagi dech,” Glenn hanya menyeringai. Tak lama dia berpamitan, sekantong jeruk Pontianak, diletakkanya di meja, eh, seperti iklan,ya? Kutatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, I love you, Bro, bukan cinta yang dulu, tapi cinta seperti yang diajarkan Rasulullah kepada sahabatnya, semoga kita tetap istiqomah di jalan-Nya seperti mereka.
***
Kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah sakit dengan mantap. Yeah, Si Fai tomboy saja bisa hijrah, masak aku tidak. I love you, Sist, bukan kaca yang mudah pecah, Fai, tapi cinta abadi yang akan membawa kita ke surga-Nya. Kuharap aku bisa sepertimu yang mampu ‘mengubah sejarah’.
Kurangkul pundak Koko, “Ayo, kapan kita rihlah ke gunung lagi…”
DUTA ROSUL UNTUK MEMBEBASKAN AL-QUDS
DUTA ROSUL UNTUK MEMBEBASKAN AL-QUDS
Al-Malik An-Nashir Shalahudin Al-Ayyubi tak sepicingpun melewatkan jaganya. Malam-malam berlalu di Qash Abu Salam dilaluinya dengan selalu berjaga-jaga. Dia menunggu kedatangan putra tercintanya, Hassanuddin, pulang dari Baitullah untuk berhaji. Berharap cemas akan bahaya menanti yang ditimbulkan oleh raja Al Kurk bernama Berna syang senantiasa mengganggu rombongan haji. Dendan dan amarah dalam dadanya menggejolak untuk menghukum raja lalim tersebut dan menendangnya kembali ke Perancis.
Amarah ini tidak hanya satu dua tahun bersemayam dalam dada Sultan Shalahuddin. Sejak lahir dari keluarga Kurdi, Shalahudin telah meletakkan dendamnya akan kebengisan tentara salib dari Eropa yang telah merebut negeri-negeri muslim. Merontokkan kehormatan umatnya dan membumihanguskan kota-kotanya. Tak urung seperti
Seluruh penduduk Al-Quds, baik muslim, Yahudi, maupun Nasrani dibantai habis. Hingga mereka terpaksa membunuh diri dan kerabat mereka demi terhindar dari siksaan yang teramat pedih. Tak kurang 60.000 jiwa melayang hanya dalam tempo 8 hari.
Bukan itu saja, salah satu pusat kaum muslimin telah jatuh ke tangan Salib. Jalur ekonomi terganggu, hingga stabilitas keamanan seantro negeri muslim menjadi amat riskan.
Kegeraman yang telah bersemi sejak 88 tahun di setiap dada kaum muslim ini seakan memuncak di kepala Shalahudin. Satu tekadnya yaitu, membebaskan Al-Quds dan mengusir seluruh salibis ke Eropa. Langkah pertamanya adalah membebaskan jalur rombongan haji dari gangguan Bernas, raja terlalim Eropa. Lega hatinya ketika rombongan haji putranya selamat tanpa gangguan.
Diarahkannya pasukan menuju Al-Kurk. Rombongan ini didukung laskar-laskar dari berbagai negeri Islam, Dan Berhasil!!!. Al-Kurk dibebaskannya walaupun Bernas kabur entah kemana.
Duabelas ribu pasukan muslim diarahkan menuju Hittin, lokasi sebagian besar pasukan Salib menunggu. Lima puluh hingga enam puluh tiga ribu personel dipersiapkan tentara Salib untuk menghadang Shalahudin. Perang besarpun membayang didepan mata, mempertaruhkan penulisan sejarah berikutnya.
Shalahudin dan tentaranya melaju, merangsek Thibriyyah dan menguasai apa saja di dalamnya. Ia bangun benteng di atasnya dan ditinggalkannya untuk menghajar Bahriyah. Tak lama jalur perbekalan musuh terputus karena Bahriyah telah jatuh ke tangan Shalahudin. Kini satu target di pelupuk mata: menghajar salibis di Hittin demi membuka gerbang Al-Quds.
Sabtu pagi, 25 Robi’ul Awal 582 H kedua pasukan telah berhadap-hadapan. Matahari terbit dengan panasnya membakar kulit. Seakan Allah mengabulkan doa Shalahudin karena teriknya surya membuat titik kekuatan serangan Mujahiddin.
Shalahudin memerintahkan pasukan Nafathah (pelempar minyak) agar membombardir musuh dengan panah-panah api yang membakar rumput-rumput Hittin. Pasukan Salib kalang kabut, kuda mereka panik karena panasnya tanah yang diinjaknya. Pasukan salibis Eropa itu dihantam panas dari berbagai penjuru, sengatan matahari, panasnya api, dan panasnya tanah yang mereka injak. Kepanikan ini tidak disia-siakan oleh Shalahuddin.
Diperintahkannya para Mujahiddin untuk bersabar dan melipatgandakan kesabarannya. Takbir dikumandangkan bertalu-talu, menggelorakan setiap relung jiwa Mujahiddin kala itu. Dan Allah memberi pertolongan kepada mereka, 12.000 Mujahiddin Shalahuddin Al-Ayyubi.
Pada hari itu juga tidak kurang dari 8 jam, 30.000 pasukan Salib terbunuh, 30.000 sisanya tertangkap termasuk seluruh raja-raja salibis Eropa. Hingga Syahansyah berkata,”sejak kepergiannya ke Syam tahun 491H hingga hari itu, pasukan Perancis belum pernah ditimpa musibah sebesar kekalahan kali ini.”
Begitu besarnya kekalahan dan kehinaan yang yang dialami salibis Eropa, hingga dikabarkan oleh Ibnu Katsir bahwa beberapa petani menggiring tawanan 31 tentara Perancis. Mereka ikat tentara pilihan tersebut dengan tali tenda mereka. Saat salah satu petani putus sandalnya, dia jual salah satu tentara tersebut untuk membeli sandal yang baru.
Sultan Shalahuddin memenjatkan syukur yang dalam atas kegemilangan tersebut. Suatu waktu Shalahuddin pernah berkata,”Aku adalah duta Rosulullah SAW untuk menolong umatnya.”(sumber:agus-haris.net)
SMA N 2 TAPAKTUAN
Training Motivasi
PESANTERN AL-MUNJIYA LABUHAN HAJI
Training ISQ
PEMUDA DAN PEMUDI KECAMATAN SAWANG, ACEH SELATAN
TRAINING MOTIVASI