Senin, 23 Juni 2008

PASKA KAMPUS TEKNIK

Dalam percakapan di pinggir jalan dekat kampus.

Mas, setelah lulus kuliah mau kemana?”

tanya seorang adik kelas kepada seniornya yang baru saja di wisuda.

Sang kakak senior termenung sambil menatap langit,

Entahlah Dik, Kakak juga gak tau mau kemana setelah lulus ini. Yaah mengalir aja gitu. Daftar PNS, jadi pekerja di salah satu perusahaan, atau masuk yayasan itu semua takdir yang menentukannya, kalau kita berusaha memasukkan lamaran ke organisasi paska kampus tadi.”

Sarjana teknik dengan kemampuan akademisnya yang memiliki segudang ilmu tentang kompetensi keteknikan tetap saja tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dan pragmatis di atas. Apa mungkin dunia akademis masih sangat kental dengan dunia idealisme atau telalu mengkhayal sesuatu yang tinggi dan tidak dapat tercapai seperti pepatah mengatakan Bagai punuk rindukan bulan.

Ada sebuah hal yang menarik untuk disikapi seiring dengan cepatnya lulusan sarjana teknik dengan tidak diiringi sarana atau saluran berikutnya setelah lulus. Sarjana teknik yang rata-rata setiap tahunya lulus sebanyak 500 orang di satu perguruan tinggi, bila di Indonesia terdapat 100 perguruan tinggi saja yang memiliki lulusan sarjana teknik, artinya dalam satu tahun terdapat 50.000 sarjana teknik, bila tidak ditunjang dengan sarana paska kampus yang memadai maka akan terjadi pengangguran yang besar. Hal ini pun kembali kepada sarjana teknik itu sendiri, tidak hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan yang telah ada untuk menampung mereka bekerja, tetapi dari mereka sendirilah yang menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri mereka sendiri. Idealnya sesuai kompetensi yang mereka miliki.

Namun, bicara tentang kompetensi sarjana teknik, agaknya ada hal yang perlu dicermati sebagai suatu fenomena aneh seiring dengan kebijakan kampus itu sendiri, apakah itu?

Kurikulum yang diberikan perguruan tinggi hanya dipandang dari perspektif bisnis setelah dari kampus akan menjadi pekerja di salah satu perusahaan manufaktur maupun jasa yang sudah mapan dan establish. Maka, setting mental para sarjana teknik lebih condong pada pengembangan usaha diiringi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja.

Sarjana teknik tidak dapat menghasilkan sebuah produk baru maupun usaha baru sendiri yang dijadikan sebagai ladang kerjanya paska kampus sedangkan data nominal yang besar diatas tidak memungkinkan semua orang berebut pekerjaan di tempat/perusahaan yang terbatas.

Hanya ada satu cara untuk mengubah realitas yang ada yakni dengan menjadi Pengusaha/Enterpreneur/Business Owner.

Itu adalah solusi permasalahan para sarjana teknik

Aktivis Da’wah Teknik yang responsif dengan dinamika bangsa telah berkumpul dalam suatu forum untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini. Mereka menamakan forum itu dengan Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Kampus Teknik (FULDKT) se-Indonesia yang beranggotakan perwakilan Rohis (Rohani Islam) di penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Adapun hasil dari Munas (Musyawarah Nasional) 2 FULDKT terutama komisi 3 bagian Keprofesian Teknik diantaranya:

Pengertian da’wah profesi teknik dari hasil komisi adalah da’wah pada dunia kerja yang berorientasi pada disiplin ilmu keteknikan dengan berasaskan Islam untuk kemaslahatan ummat.

Tujuan da’wah profesi teknik adalah mengaplikasikan keprofesian teknik dalam bentuk usaha-usaha serta lembaga untuk mengorganisir aktivitas dakwah teknik di kampus dan paska kampus dalam sebuah jaringan sebagai alat memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga gerak da’wah secara nasional terarah dan terpadu dalam proses perbaikan ummat.

Ini artinya kita tidak lagi harus masuk pada perusahaan orang lain, tapi kita berusaha menciptakan lapangan kerja baru/bentuk perusahaan.

Apakah pendapat ini bisa diterima? Sepakat?

Ok, kalau sepakat bahwa kita harus menjadi pengusaha, lalu bagaimana caranya memulai bisnis dengan kompetensi kita?

Caranya adalah

  1. Kita bebaskan pemikiran dari beban pengakuan akan kesarjanaan kita. Artinya kita jangan mengharap agar dengan kemampuan kita dan kalau saja bekerja ditempat orang kita akan mendapatkan kepastian gaji per bulan dan sistem kerja yang sudah jelas atau impinan akan pekerjaan yang ideal sesuai back ground pendidikan saat kuliah. Karena kita saart ini akan memulainya dari nol maka jadikan kita menerima realita apa adanya dngan bersikap sewajarnya.
  2. Kita mulai rencanakan sistem kerja kita. Berbicara tentang sistem maka yang dimaksud adalah input, process, output dan feed back. Maka setiap hal tersebut harus disiapkan.
  3. Menentukan aktivitas usaha kita. Jenis usaha jangan terlalu ideal dengan kompetensi kita saja, namun kita hidup di alam realita membutuhkan adanya investasi, pengelola dan pasar. Maka tiap item harus dijabarkan dan akan menjadi peluang bisnis kita diawalnya
  4. Kembangkan bisnis sesuai dengan kekuatan kita
  5. Arahkan potensi bisnis kita mengikuti kompetensi dan hal yang kita sukai, sebab bisnis tergantung keminatan seseorang agar dapat ditekuni secara maksimal.
  6. Jalin hubungan dengan personal atau orang yang berpikiran sama dengan kita untuk menjadi tim bisnis kita.
  7. Dirikan perusahaan berbadan hukum seperti CV. maupun PT
  8. Kuatkan posisi tawar dengan melakukan komunikasi relational dengan perusahaan, birokrasi maupun LSM sesuai dengan core bisnis kita
  9. Profesionalkan kerja dengan melakukan standardisasi pekerjaan kita
  10. Jalin hubungan relasional dengan perusahaan sejenis untuk mengadakan konsorsium maupun merger.
  11. Kembangkan usaha yang bervariasi di sekitar fokus bisnis kita.
  12. Sinergikan kebutuhan satu unit bisnis kita dengan unit bisnis kita yang lainnya dan buka peluang agar dapat menjadi perusahaan terbuka
  13. Biarkan perusahaan kita dikelola orang, kita dapat duduk dibagian komisaris maupun pemegang sahamnya saja dan selanjutnya mengembangkan bisnis lainnya yang hanya butuh investasi
  14. Selamat menikmati bisnis Anda. Biarkan uang bekerja untuk kita.
DAKWAH AKADEMIS
Sebuah grand desain dalam menjawab tuntutan kontemporer dakwah kampus

Kampus ? Lagi-lagi kampus. Banyak sekian analis dakwah mengatakan bahwa barang siapa yang dapat menguasai kampus maka 20 tahun ke depan mereka akan memegang dunia. Artinya kondisi merah, hijau ataupun kuning dunia ini ada ditangannya. Mereka akan mengubah dunia dengan begitu mudahnya. Karena pada saat itu mereka adalah para leader, mereka adalah pemegang kebijakan.
Alasan yang menarik dari sekian alasan. Kampus dengan segala potensi positifnya akan mengantarkan kejayaan umat ini sebagaima pada saat umat Islam mencapai puncak kejayaan. Ini yang dijanjikan oleh Rasululah SAW. Mengapa ? Jelas bahwa kebangkitan Islam akan dimulai dengan kebangkitan umatnya. Kebangkitan umat akan dimulai dengan kebangkitan pemudanya. Dan siapa pemuda Islam yang paling potensial untuk itu ? Adalah mahasiswa jawabnya. Bukan yang lain dan hanya itu. Siapa mereka ? Adalah kita tentunya. Jadi bangkit tidaknya Islam adalah sejauh mana kita mampu merubah dunia ini. Karena kita adalah sumber potensi terbesar dan aset umat yang paling berharga.
Dakwah Kampus. Ada yang mengatakan kampus adalah miniatur sebuah negara yang mana banyak sekali pembelajaran penting dari sebuah pengelolaan bangsa. Ada pembelajaran ideologi. politik, ekonomi, sosial, seni dan budaya bahkan sampai pembelajaran intelegen dan keamanan. Semuanya bila dibingkai dalam ranah dakwah kampus akan menjadi kekuatan raksasa yang segera bangkit dari tidurnya. Artinya dari kampus akan menjadi akselerator kebangkitan umat yang sungguh sangat besar bahkan orang-orang kafir sampai mengatakan bahwa ini adalah sangat berbahaya. Inilah yang ditakuti musuh-musuh Islam. Sehingga banyak sekali para musuh Islam dengan berbagai cara menghancurkan para pemudanya.
Tuntutan kontemporer dakwah kampus. Tuntutan kontemporer dakwah kampus adalah sejauh mana peran yang kita punyai dalam menjawab tuntutan zaman. Peran ini menuntut adanya kompetensi atau spesialisasi. Tentunya profesionalisme kerja dakwah akan semakin produktif bila yang menjalankan adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Dakwah kampus dengan segala realitanya akan segera menjawab tuntutan dakwah. Kampus adalah pusat intelektual, pusat ideologis dan pusat keilmuan. Dari kampus potensi keilmuan adalah potensi tertinggi peradaban dunia. Sangat salah kiranya bila kampus hanya berorientasi pada profesionalisme lembaga dakwah kampus(LDK)nya saja tetapi tentunya akan terus dan berkembang dalam pengelolaan wilayah keilmuan. Ini peran utama dakwah kampus yang seharusnya menjadi sebuah meanstream gerakan dakwahnya. Mengapa ? Pertanyaan retorik itu sangat jelas jawabnya. Sebenarnya potensi dakwah yang paling produktif adalah pendekatan keilmuan bukan pendekatan harokiyah/ diniyah ansih. Sebagai contoh real adalah para mahasiswa akan lebih interest mengikuti kegiatan asistensi mata kuliah jurusannya daripada asistensi agama Islam. Pernyataan ini hampir dibenarkan oleh seluruh asisten agama Islam.
Kompetensi/ spesialisasi dalam paradigma produktifitas dakwah kampus. Gerakan dakwah kampus berbasis kompetensi tidak kemudian hanya dipahami secara parsial yaitu berkutat pada kehidupan akademik. Kompetensi/ spesialisasi tidaklah hanya dipahami dalam satu makna disiplin ilmunya saja. Tetapi sangat luas dan variatif walaupun memang disiplin ilmu menjadi jargon dalam menjual potensi ilmunya pada pendekatan dakwah akademik yang paling produktif. Pendekatan akademis adalah pendekatan yang paling representatif dalam gerakan dakwah kampus. Ini yang kemudian tidak boleh dilupakan.
Urgensi dakwah akademis. Begitu pentingnya potensi keilmuan sehingga menjadi sebuah gerakan dakwah (meanstream) yang sangat produktif. Amal ilmy adalah amal da’awy dalam pendekatan spesialis. Urgensi keilmuan adalah ruh yang paling mendasari gerakan JIHAD IPTEK (Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi). Tidak akan bangkit Islam tanpa adanya penguasaan IPTEKnya. Tidak akan adanya penguasaan IPTEK tanpa bangkitnya kehidupan keilmuan kaum muslimin. Tidak akan bangkit kehidupan keilmuan tanpa ruh dan tujuan mengapa kita harus berilmu. Sebagaimana Allah menurunkan ayat yang mulia dari Al-Quran berbunyi Iqra’ (bacalah). Iqra’ adalah inspirasi tertinggi dalam JIHAD IPTEK. Iqra’ adalah pintu awal keilmuan. Maka seyogyanya tuntutan dakwah kampus berbasis kompetensi ini mendapat respon yang luar biasa bagi aktivisnya. Maka seyogyanya tuntutan ini akan melahirkan rumusan yang paling strategis. Kesalahan dalam membuat strategi dakwah akademis akan membuat fatal dan bahaya bagi dakwah itu sendiri. Mengapa ? Karena kesalahan orientasi dakwah akan membawa pengaruh yang tidak kecil bagi dakwah itu sendiri.
Rambu-rambu dakwah akademis. Dakwah memang tidak semudah yang kita bayangkan. Keberhasilan dakwah akan dapat kita lihat bila sejauhmana kita sebagai seorang dai mampu memecahkan permasalahan umat yang semakin hari semakin kompleks. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam dakwah akademis adalah :
1. Dakwah akademis adalah hanya salah satu wajihah dakwah kampus.
2. Dakwah akademis adalah tidak melupakan wilayah dakwah strategis lainnya.
3. Dakwah akademis membutuhkan perangkat yang banyak selain mahasiswa adalah dosen, birokrat lembaga penelitian dan lain-lain.
4. Dakwah akademis hendaknya tidak merubah orientasi dakwah yang asasi yaitu perbaikan umat dan penegakan nilai-nilai Islam dimana dan kapanpun berada.
5. Dakwah akademis harus mempunyai sistem atau format yang matang sehingga pengelolaan kader tidak menjadi masalah dikemudian hari sebagaimana karena masalah ini adalah wilayah yang paling interest maka seluruh kader akan beralih peran sebagai akademisi-akademisi dengan alasan gerakan dakwah akademis dengan kemudian meninggalkan wilayah strategis lainnya.
6. Dakwah akademis adalah wilayah JIHAD Ilmy itu sendiri sehingga mereka tidak hanya mengejar nilai tetapi ilmu itu sendiri.
Strategi menuju dakwah akademis. Dalam sebuah grand desain tentunya akan kita temui apa itu yang namanya strategi dakwah akademis. Adapun kampus dengan segala tuntutan dakwah kampusnya maka harus ada strategic planning. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam strategi dakwah akademis :
1. Kader dakwah hendaklah dipahamkan akan urgensi dakwah akademis dan perlu adanya gerakan bersama kader dakwah dalam mengelorakan gerakan dakwah akademis.
2. Perlu adanya strategic planning of study in universiy.
3. Perlu adanya sistem yang matang.
4. Adanya fungsi kontrol dakwah akademik.
5. Adanya tim yang merumuskan, merencanakan, mengelola bahkan mengevaluasi gerakan dakwah akademis.
Ingat bahwa gerakan akademis adalah hanya sebagian kecil gerakan dakwah kampus. Hal itu hanya merupakan bagian saja dari prasarat dakwah kampus yang bersifat integral dan komprehensif. Dalam kaidah ushul fiqih dikatakan bahwa sesuatu itu akan menjadi wajib bila tanpa sesuatu itu maka tujuan tidak tercapai adanya. Keberhasilan dakwah kampus adalah hanya bagian kecil dari keberhasilan dakwah yang besar. Kebangkitan umat akan sangat nyata di depan mata kita manakala pengelolaan dari segmen kecil sebagaimana pengelolaan dakwah kampus lancar. Wallhu ‘alam bishshowab.

Aan Iswadi
Koordinator SENKOMNAS FULDKT 2004-2006
(Sentra Komunikasi Nasional Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik) Se-Indonesia.

PASKA KAMPUS TEKNIK

Dalam percakapan di pinggir jalan dekat kampus.

Mas, setelah lulus kuliah mau kemana?”

tanya seorang adik kelas kepada seniornya yang baru saja di wisuda.

Sang kakak senior termenung sambil menatap langit,

Entahlah Dik, Kakak juga gak tau mau kemana setelah lulus ini. Yaah mengalir aja gitu. Daftar PNS, jadi pekerja di salah satu perusahaan, atau masuk yayasan itu semua takdir yang menentukannya, kalau kita berusaha memasukkan lamaran ke organisasi paska kampus tadi.”

Sarjana teknik dengan kemampuan akademisnya yang memiliki segudang ilmu tentang kompetensi keteknikan tetap saja tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dan pragmatis di atas. Apa mungkin dunia akademis masih sangat kental dengan dunia idealisme atau telalu mengkhayal sesuatu yang tinggi dan tidak dapat tercapai seperti pepatah mengatakan Bagai punuk rindukan bulan.

Ada sebuah hal yang menarik untuk disikapi seiring dengan cepatnya lulusan sarjana teknik dengan tidak diiringi sarana atau saluran berikutnya setelah lulus. Sarjana teknik yang rata-rata setiap tahunya lulus sebanyak 500 orang di satu perguruan tinggi, bila di Indonesia terdapat 100 perguruan tinggi saja yang memiliki lulusan sarjana teknik, artinya dalam satu tahun terdapat 50.000 sarjana teknik, bila tidak ditunjang dengan sarana paska kampus yang memadai maka akan terjadi pengangguran yang besar. Hal ini pun kembali kepada sarjana teknik itu sendiri, tidak hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan yang telah ada untuk menampung mereka bekerja, tetapi dari mereka sendirilah yang menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri mereka sendiri. Idealnya sesuai kompetensi yang mereka miliki.

Namun, bicara tentang kompetensi sarjana teknik, agaknya ada hal yang perlu dicermati sebagai suatu fenomena aneh seiring dengan kebijakan kampus itu sendiri, apakah itu?

Kurikulum yang diberikan perguruan tinggi hanya dipandang dari perspektif bisnis setelah dari kampus akan menjadi pekerja di salah satu perusahaan manufaktur maupun jasa yang sudah mapan dan establish. Maka, setting mental para sarjana teknik lebih condong pada pengembangan usaha diiringi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja.

Sarjana teknik tidak dapat menghasilkan sebuah produk baru maupun usaha baru sendiri yang dijadikan sebagai ladang kerjanya paska kampus sedangkan data nominal yang besar diatas tidak memungkinkan semua orang berebut pekerjaan di tempat/perusahaan yang terbatas.

Hanya ada satu cara untuk mengubah realitas yang ada yakni dengan menjadi Pengusaha/Enterpreneur/Business Owner.

Itu adalah solusi permasalahan para sarjana teknik

Aktivis Da’wah Teknik yang responsif dengan dinamika bangsa telah berkumpul dalam suatu forum untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini. Mereka menamakan forum itu dengan Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Kampus Teknik (FULDKT) se-Indonesia yang beranggotakan perwakilan Rohis (Rohani Islam) di penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Adapun hasil dari Munas (Musyawarah Nasional) 2 FULDKT terutama komisi 3 bagian Keprofesian Teknik diantaranya:

Pengertian da’wah profesi teknik dari hasil komisi adalah da’wah pada dunia kerja yang berorientasi pada disiplin ilmu keteknikan dengan berasaskan Islam untuk kemaslahatan ummat.

Tujuan da’wah profesi teknik adalah mengaplikasikan keprofesian teknik dalam bentuk usaha-usaha serta lembaga untuk mengorganisir aktivitas dakwah teknik di kampus dan paska kampus dalam sebuah jaringan sebagai alat memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga gerak da’wah secara nasional terarah dan terpadu dalam proses perbaikan ummat.

Ini artinya kita tidak lagi harus masuk pada perusahaan orang lain, tapi kita berusaha menciptakan lapangan kerja baru/bentuk perusahaan.

Apakah pendapat ini bisa diterima? Sepakat?

Ok, kalau sepakat bahwa kita harus menjadi pengusaha, lalu bagaimana caranya memulai bisnis dengan kompetensi kita?

Caranya adalah

  1. Kita bebaskan pemikiran dari beban pengakuan akan kesarjanaan kita. Artinya kita jangan mengharap agar dengan kemampuan kita dan kalau saja bekerja ditempat orang kita akan mendapatkan kepastian gaji per bulan dan sistem kerja yang sudah jelas atau impinan akan pekerjaan yang ideal sesuai back ground pendidikan saat kuliah. Karena kita saart ini akan memulainya dari nol maka jadikan kita menerima realita apa adanya dngan bersikap sewajarnya.
  2. Kita mulai rencanakan sistem kerja kita. Berbicara tentang sistem maka yang dimaksud adalah input, process, output dan feed back. Maka setiap hal tersebut harus disiapkan.
  3. Menentukan aktivitas usaha kita. Jenis usaha jangan terlalu ideal dengan kompetensi kita saja, namun kita hidup di alam realita membutuhkan adanya investasi, pengelola dan pasar. Maka tiap item harus dijabarkan dan akan menjadi peluang bisnis kita diawalnya
  4. Kembangkan bisnis sesuai dengan kekuatan kita
  5. Arahkan potensi bisnis kita mengikuti kompetensi dan hal yang kita sukai, sebab bisnis tergantung keminatan seseorang agar dapat ditekuni secara maksimal.
  6. Jalin hubungan dengan personal atau orang yang berpikiran sama dengan kita untuk menjadi tim bisnis kita.
  7. Dirikan perusahaan berbadan hukum seperti CV. maupun PT
  8. Kuatkan posisi tawar dengan melakukan komunikasi relational dengan perusahaan, birokrasi maupun LSM sesuai dengan core bisnis kita
  9. Profesionalkan kerja dengan melakukan standardisasi pekerjaan kita
  10. Jalin hubungan relasional dengan perusahaan sejenis untuk mengadakan konsorsium maupun merger.
  11. Kembangkan usaha yang bervariasi di sekitar fokus bisnis kita.
  12. Sinergikan kebutuhan satu unit bisnis kita dengan unit bisnis kita yang lainnya dan buka peluang agar dapat menjadi perusahaan terbuka
  13. Biarkan perusahaan kita dikelola orang, kita dapat duduk dibagian komisaris maupun pemegang sahamnya saja dan selanjutnya mengembangkan bisnis lainnya yang hanya butuh investasi
  14. Selamat menikmati bisnis Anda. Biarkan uang bekerja untuk kita.

PENGUATAN DAKWAH KETEKNIKAN DALAM MENYONGSONG

ERA BARU

Dakwah adalah sebuah aktivitas yang mulia untuk sebuah tujuan yang mulia pula. Sebuah tujuan yang amat besar yaitu tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini. Dakwah bukanlah tugas yang ringan, pada jalannya terbentang begitu banyak rintangan, duri dan kerikil yang siap mencabik-cabik tapak kaki para penyeru-penyerunya. Padanya terdapat beban yang mampu mematahkan tulang punggung (Fi Zhilalil Qur’an, Sayid Qutub). Karenanya, dakwah tidak mungkin dihasung seorang diri, diperlukan adanya amal jama’i untuk merealisasikan tujuan-tujannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat As Shaff : 4 “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan seperti bangunan yang kokoh”. Ali ra.juga pernah berkata, “ Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Demikian pula dakwah kampus, ia harus teratur dengan baik agar misinya tidak dikalahkan oleh siasat musuh- musuh Islam. Agar para mahasiswa yang diharapkan akan memegang tampuk kepemimpinan bangsa yang akan datang dapat mengecap manisnya Iman dan Islam untuk diaplikasikan dalam masa kepemipinannya kelak . Alasan ini serta beberapa dalil naqli di atas dan banyak lagi dalil lainnya menjadi landasan syar’i akan pentingnya keberadaan LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) sebagai sebuah lembaga yang mewadahi kader-kader dakwah kampus untuk bergerak bersama dalam sebuah amal jama’i untuk menghasung tugas dakwah yang mulia.

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik ( FULDKT ) amat menyadari peran penting LDK terhadap proses penyebaran nilai Islam di Kampus, khususnya internal kampus teknik yang menjadi fokus pembahasannya. Oleh karena itu dalam Munas II yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang, 11-13 September yang lalu dibentuklah komisi khusus untuk membahas tentang ke-LDKT-an disamping dua komisi lain yang membahas tentang dakwah akademis dan profesi. Pembahasan Komisi I menjadi penting karena bagaimana mungkin dakwah memperluas ranahnya pada bidang akademis dan profesi sementara inti geraknya sendiri belum mapan.

Diskusi panjang Komisi I pada waktu itu menitik beratkan pada dua masalah utama, yaitu: pengembangan dan pengokohan jaringan. Dua aspek inilah yang akan coba saya ulas dalam tulisan ini.

PENGEMBANGAN JARINGAN

Di awal tadi telah saya sampaikan betapa pentingnya keberadaan lembaga dakwah kampus di setiap kampus teknik, idealnya tentu demikian. Tapi pada kenyataannya tidak setiap kampus teknik di Indonesia memiliki LDKT . Berangkat dari kondisi ini maka Komisi I FULDKT merekomendasikan sebuah program pengembangan jaringan kepada Munas II FULDKT .

Ide utamanya adalah bagaimana FULDKT dapat berperan dalam upaya pendirian LDKT di kampus-kampus teknik yang belum memiliki lembaga dakwah resmi. Harapannya ketika seluruh kampus teknik di Indonesia telah memiliki LDKT, maka isu-isu yang dilontarkan FULDKT kaitannya dengan dakwah keteknikan akan benar-benar menjadi isu nasional – bukan segelintir pihak saja - sehingga memiliki daya penetrasi yang lebih kuat terhadap opini publik. Di samping itu tentunya perkembangan syiar ke-Islaman di kampus-kampus tersebut akan semakin meningkat.

Untuk merealisasikan program ini disusunlah langkah-langkah gerak sebagai berikut:

a. Pendataan Kampus teknik yang belum memiliki LDKT

b. Uji kelayakan

Dari data kampus teknik yang belum memiliki LDKT di atas dilakukan analisa mana saja kampus teknik yang layak di dampingi dalam usaha pendirian LDKT. Hal ini didasarkan pada realitas bahwa tidak setiap kampus teknik memiliki faktor-faktor pendukung untuk mendirikan LDKT, diantaranya tentang kondisi SDM, sikap birokrasi kampus, dll. Untuk kampus-kampus yang lolos uji kelayakan akan segera didampingi untuk pendirian LDKT.

c. Upaya lewat jalur formal dengan menghubungi Dirjen DIKTI agar merekomendasikan adanya LDKT di setiap kampus teknik.

d. Memahamkan ADKT (Aktivis Dakwah Kampus Teknik) akan pentingnya LDKT.

Ada kalanya sebuah kampus memiliki sejumlah aktivis dakwah tetapi tidak tergabung dalam sebuah LDKT, masing-masing melakukan aktivitas dakwahnya secara infiradhi. Untuk jenis kampus macam inilah diperlukan pendekatan dan motivasi kepada para aktivis dakwahnya akan pentingnya LDKT.

PENGOKOHAN JARINGAN

Program pengokohan jaringan adalah upaya menyetarakan kualitas LDKT-LDKT yang menjadi anggota FULDKT. Hal ini penting untuk memasifkan gerakan dari FULDKT itu sendiri. Teknis yang disepakati ialah melalui pendampingan dari LDKT mapan kepada LDKT yang belum mapan.

Komisi I telah melakukan pembahasan tentang parameter kemapanan sebuah LDKT dan menghasilkan beberapa kriteria LDKT mapan dan belum mapan, meliputi kondisi SDM, eksistensi lembaga, sarana-prasarana yang dimiliki, dan frekuensi kegiatan syiarnya. Dengan adanya parameter yang jelas maka diharapkan program ini dapat dijalankan dengan lebih mudah. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas kader dakwah pada sisi profesionalitas lembaga dan bekal dakwahnya disepakati beberapa strategi sebagi berikut:

a. Standarisasi pelatihan manajerial

b. Upaya memperjelas & mengefektifkan alur kaderisasi sesuai karakteristik masing-masing LDKT.

c. Pelaksanaan kegiatan syiar bersama antar LDKT dalam satu wilayah.

Kedua program di atas harapannya akan memperkuat aspek ke-LDKT-an yang akan mendukung pula gerak FULDKT di wilayah akademis dan profesi teknik. Pelaksanaannya akan dikoordinir oleh SENKOMNAS (Sentra Komunikasi Nasional) FULDKT dalam hal ini SKI FT Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Barangkali ini sekelumit informasi yang bisa saya bagi pada antum wa antuna pembaca Shohwah yang setia. Saya akhiri uraian ini dengan harapan semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa mengabdikan segala yang telah dikaruniakan-Nya untuk dakwah ilallah. Memberikan ridho-Nya pada setiap langkah kita dalam meninggikan kalimat-Nya, mengampuni dosa kita dan menunjuki kita pada jalan yang dicintai-Nya. Agar setiap peluh yang menetes dan setiap darah yang tercecer menjadi saksi syahidnya jiwa-jiwa kita, Insya Allah !!

5 (Lima) S


Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?

S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.

S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?

Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***

Getaran Allah di Padang Arafah


Saudaraku para tamu Allah dan juga saudaraku di Tanah Air yang kali ini atas izin Allah bisa merasakan getaran orang - orang yang bersyukur di Tanah Arafah. Inilah saat yang paling dirindukan oleh orang - orang yang beriman, saat diundang ke tanah dimana Allah menghadapkan hamba-hamba-Nya kepada para malaikat di hari Arafah.

Pada saat inilah Allah menjanjikan pembebasan api jahannam sebanyak-banyak hamba-hamba-Nya. Dan pada hari ini Allah juga menjanjikan diampuni lumuran dosa-dosa, dihapus aib-aib yang menyelimuti, kerak-kerak kenistaan disingkirkan, dibukanya lembaran-lembaran baru yang putih bersih.

Saudaraku para tamu Allah.

Begitu banyak orang yang bertawakkal dan bersimpuh di hadapan Allah. Di seluruh pelosok negeri. Mungkin di pedesaan, di lereng-lereng, maupun di persawahan. Mereka ini mungkin siang malam bersandar kepada Allah. Mereka tiada henti memuja Allah. Bahkan mungkin bisa jadi kedudukan mereka lebih tinggi di sisi Allah dibanding kita yang sehari-hari melumuri diri dengan dosa, lebih banyak dipakai memuaskan diri kita dibanding memuaskan perintah allah. Tapi sampai sekarang mereka belum pernah merasakan nikmatnya jamuan Allah di Arafah ini.

Inilah saatnya kita harus merasa malu. Karena, lebih banyak orang yang berhak wukuf di Arafah ini dibanding kita. Kita lihat orang dikeningnya berbekas dengan bekas sujud hanya bisa menangis sepanjang hayatnya untuk bisa dijamu oleh Allah di Padang Arafah ini. Tapi, kapan kita melakukan seperti itu ?

Karena itu, saudaraku yang hadir di bumi Arafah ini, hari ini adalah hari buat kita untuk bersyukur. Bisa jadi kita hadir di tempat ini bukan karena kesalehan kita. Kehadiran kita di sini mungkin karena ridho Allah atas orang-orang yang kita sakiti yang mereka balas sakit hatinya dengan doa kemuliaan bagi kita.

Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa fakir miskin yang kita lempar dengan uang seratus rupiah tapi mereka menerimanya dengan ridla dan memohon kepada Allah agar mengampuni kita. Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa para pembantu yang tidak pernah kita hargai jasa baiknya tetapi mereka sabar bangun malam dan meminta kita diberi hidayah. Mungkin kita berada di tempat ini karena doa orang tua kita yang tiada henti-hentinya agar memiliki anak yang shaleh dan shalehah, padahal begitu sering kita melukai hatinya. Atau mungkin kita berada di tempat ini karena doa anak-anak kita yang sering dikecewakan dengan contoh buruk yang kita lakukan sehingga mereka meminta kepada Allah agar memiliki orang tua yang shaleh dan shalehah.

Tentunya tiada kebaikan yang mengantar kita ke tempat ini selain kemurahan Allah Yang Maha Agung. Kita berutang banyak saudara-saudaraku sekalian.

Baiklah saudara-saudaraku sekalian.

Tidak ada jalan bagi kita untuk menjadi sombong dan takabur dengan jamuan Allah di Arafah ini, kecuali kita harus malu dan jujur kepada diri sendiri. Harta yang Allah titipkan kepada kita, tak jarang kita nafkahkan sekadar sisa dari uang jajan kita. Zakat enggan kita bayarkan. Sedekah bagi orang yang paling lusuh dengan cara yang paling memalukan. Bahkan kita lebih suka membelikan barang-barang yang mahal untuk kita pamerkan kepada makhluk daripada menafkahkan harta di jalan Allah untuk bekal kepulangan kita.

Lalu lihatkan bagaimana kita bersujud kepada Allah. Dari 24 jam satu hari Allah memberikan waktu kepada kita, sujud sering kita percepat. Bahkan kalau perlu hampir tidak pernah ingat kepada Allah Yang Maha Agung. Dimanakah letak amal baik kita ? Nikmat dari Allah tiada henti dan tiada putus. Sedangkan pengkhianatan kita tiada henti dan tiada terputus. Entah mengapa Allah memberikan kesempatan kita berad di tanah Arafah ini ? Rasanya lebih banyak orang yang lebih layak untuk dimuliakan Allah saat ini.

Saudara-saudaraku sekalian.

Hari ini Allah menurunkan para malaikat di sekitar kita. Sebagian para malaikat sudah menyaksikan aib-aib yang ada pada diri kita. Sebagian para malaikat yang lain tahu secara persis siapa diri kita, ada yang mencatat kata-kata kita yang begitu jarang menyebut nama Allah. Lalu mereka tahu betapa banyak orang yang terluka hatinya, tercabik-cabik perasaannya. Allah Maha Tahu fitnah yang tersebar karena lisan kita selama ini, berapa banyak orang terjerumus ke dalam maksiat karena kita yang menunjukkannya. Diantara malaikat yang hadir saat ini ada yang menyaksikan kita mendekati zina dengan mata kita, dengan lisan kita, karena tiada yang tersembunyi bagi Allah.

Sesungguhnya hari ini adalah hari yang paling malu bagi kita. orang yang busuk seperti kita ini diberi kesempatan di tempat yang mulia, bahkan amal-amal yang paling tidak disukai Allah kita pun sering melakukannya. Kesombongan, ketakaburan adalah amal yang membuat iblis dilaknat oleh Allah selamanya. Tidak akan pernah selamat masuk syurga bagi orang yang di dalam hatinya ada takabur walau sebesar biji zarrah.

Lihatlah apa yang Allah titipkan bagi jalan kesombongan bagi kita. Otak dicerdaskan sedikit oleh Allah. Kita diberi kesempatan sekolah, kesempatan kuliah. Namun malah membuat kita petantang-petenteng menganggap remeh orang tua kita yang pendidikannya tidak setinggi kita.

Padahal demi Allah saudara-saudaraku, otak ini adalah milik Allah. Jikalau Allah mengambil beberapa bagian saja, niscaya kita tidak bisa mengingat apapun. Sungguh ! Gelar, pangkat adalah lambang kebodohan bagi orang-orang yang takabur. Malu kita mengapa diberi otak yang sulit mengenal Allah. Padahal otak kita ini tunduk mengejar keagungan Allah.

Kita diberikan harta yang cukup. Tapi kita sering tidak mempedulikan darimana harta itu kita dapatkan. Yang haram kita ambil, hak orang lain kita tahan. Zakat lupa kita bayarkan. Kita lumuri diri kita dengan kenistaan. Naudzubillaahi min dzalik. Tapi kita bangga dengan kendaraan yang mewah, dengan rumah yang megah, dengan perhiasan. Padahal, sungguh semua itu adalah sekadar titipan Allah, yang Allah juga berikan kepada makhluk-makhluk nista lainnya. Para penjahat, para pelacur, pezina, orang-orang yang durjana diberi dunia oleh Allah. Karena dunia bukan tanda kemuliaan bagi seseorang. Dunia adalah fitnah, cobaan bagi manusia. Sungguh malang bagi orang yang takabur dengan tempelan duniawi, padahal Allah menghinakan seseorang dengan duniawi itu sendiri.

Saudara-saudaraku sekalian.

Waspadalah sepulang dari tempat ini. Haji yang mabrur adalah haji yang merasa malu kepada Allah. Allah memberikan nikmat tiada henti. Kita jarang mensyukurinya bahkan kita mengkhianatinya. Allah Yang Maha Agung, Allah Yang Maha Perkasa, memberikan kesempatan kali ini kepada kita untuk mengubah sisa umur kita.

Mungkin, mungkin kali ini adalah yang terakhir kali kita berada di tanah Arafah ini. Tidak ada jaminan kita tahun depan dapat bertemu kembali di tempat ini. Tanah yang kita duduki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti.

Kita berangkat mengeluarkan harta, waktu, tenaga. Kita lalui jalan berjam-jam sampai tempat ini, tapi nikmat sekali. Itulah nikmat yang datang dari Allah.

Nikmat adalah pengorbanan. Rasulullah Saw mulia bukan karena apa yang dimilikinya, tapi pengorbanan untuk ummat. Harta yang dikorbankan, tenaga yang dikorbankan, waktu yang dikorbankan, perhatian yang dikorbankan, demi kemaslahatan ummat.

Sepulang dari sini tidak pernah akan bahagia kecuali orang yang paling menikmati berkorban untuk orang lain. Yakinkanlah bahwa apapun yang kita miliki agar bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi hamba Allah. Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak manfaatnya.

Saudaraku, Percayalah bahwa kita tidak akan bahagia dengan mengumpulkan uang. Justru kebahagiaan datang dengan menafkahkan uang. Kita tidak bahagia dengan ingin ditolong orang lain. Kita bahagia justru dengan menolong orang lain. Kebahagiaan hati kita dengan menghargai orang lain. Jadikanlah diri kita menjadi orang yang tidak pernah berharap apapun selain dari Allah. Itulah kebahagiaan yang awal dari pelajaran kita.

Yang kedua, ingatlah baik-baik. Kain ihram yang kita pakai ini ternyata inilah yang menemani kita saat pulang nanti, tidaklah harta, tidak pangkat, dan juga tidak jabatan. Semua itu adalah topeng sejenak saja yang tidak berharga sama sekali, kecuali penyandangnya memiliki rasa syukur dan takwa kepada Allah.

Saudaraku, sepulang dari tempat ini pastikan jangan sembunyi di balik jabatan. Jangan sembunyi di balik penampilan yang bagus. Jangan bersembunyi di balik rumah yang megah. Jangan bersembunyi di balik gelar yang berenteng. Tapi bersembunyilah di balik Allah.

Harta, pangkat dan jabatan tidaklah berharga kecuali orang bertaqwa kepada-Nya. Sekuat-kuatnya jangan ubah yang Allah titpkan ini menjadi jalan kesombongan kita. Tiada yang dimuliakan oleh Allah. Tiada satupun yang diangkat derajatnya oleh Allah, kecuali orang yang tawadhu. Tiada seorangpun yang tawadhu diantara kamu, semata-mata karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.

Oleh karena itu, sepulang dari sini pastikanlah menjadi orang yang paling rendah hati, yang tidak akan memamerkan topeng seperti ini, kecuali insya Allah, kemuliaan akhlak yang menjadi andalan bekal kepulangan dan kemuliaannya.

Dan yang ketiga, saudaraku sekalian, sepulang dari haji ini ingatlah baik-baik bahwa Alah menciptakan haji dengan pertemuan dari segala bangssa. Kulit hitam, mata sipit, yang tingi, yang buruk, yang cacat ; mereka semua adalah saudara kita. Terkadang kita merasa saudara karena darah, persaudaraan karena tempat, persaudaaraan karena bangsa, tapi kita lihat di sini, saudara kita begitu bnayak. Pepatah mengatakan satu musuh sudah mempersempit kehidupan kita, tapi memperbanyak teman tidak akan pernah cukup, sebab memperbanyak teman adalah memperbanyak saudara. Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara.

Orang-orang yang merasakan banyak saudara hidupnaya akan lebih ringan. Kita berbelanja dengan harga yang mahal, kita bersyukur karena bisa menafkahi, pedagang yang masih saudara kita sendiri.

Kita naik kendaraan umum dengan membayar kelebihan kita bahagia karena sudah memberikan bekal bagi para keluarga keturunan para sopir saudara kita sendiri. Kita mendidik orang sehingga maju, namun tidak berterima kasih tidak apa-apa, karena mereka adalah saudara kita sendiri. Semakin banyak yang kita bantu, Insya Allah semakin berbahagia dan ringan hidup kita ini.

Dan yang terakhir ingatlah baik-baik.

Hari ini adalah penutup lembaran lama kita. Sudah terlaalu lama kita gunakan untuk mengkhianati Allah. Sudah terlalu banyak nafas kita diisi lalai kepada Allah. Sudah terlalu banyak keringat kita untuk mendzolimi kebenaran. Sudah terlalu banyak harta yang kita nafkahkan kita tidak di jalan Allah.

Saudaraku sekalian, mau kemana lagi, hidup hanya satu kali dan sebentar. esok lusa mungkin malaikat maut sudah berada di hadapan kita. Pastikan mulai saat ini, tekadkan dalam hati kita Insya Allah tiada tujuan dalam hidup kami selain Engkau. Tiada yang kami tuju selain pulang kepad-Mu, Ya Allah. Dunia pasti kita tinggalkan, harta kami tinggalkan, keluarga kami tinggalkan, kami ingin bisa berjumpa denganmu Ya Allah. Tuntun dengan amal yang bisa membuat berjumpa dengan-Mu. Tingkatkan kepada kami segala bekal yang bisa membuat kami berjumpa dengan-Mu, Ya Allah karuniakan segala nimat yang bisa membuat kami bisa mensyukuri, agar kami bisa berjumpa dengan--Mu, bebaskan kami dari setiap harta dan kesibukan apapun yang tidak bisa membuat kami berjumpa dengan-Mu. Barangsiapa yang merindukan berjumpa dengan Allah, niscaya hari-hari yang dia nanti adalah hari-hari pertemuan dengan Allah. Hari-hari yang diisi dengan bekal; untuk pulang hidup di dunia adalah kesenangan yang menipu sejenak saja.

Asyiknya Jadi Pengemban Dakwah

Jadi pengemban dakwah? Hmm… di mata remaja, sepertinya ‘jabatan' ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan. Sayangnya, justru tiga faktor itu yang lumayan langka ditemuin pada mayoritas remaja yang kian terhipnotis gaya hidup hedonis. Gaswat!

Kalo kita sempet nanya kenapa seseorang nggak atau belum mau ikut berdakwah, pasti mereka segera ngeluarin kunci gembok buat bongkar gudang alasannya. Soalnya mereka juga ngerti kalo dakwah itu wajib. Cuma masalahnya, banyak orang yang ngerasa belon siap ngadepin risiko dakwah. Emang apa sih risiko dakwah?

Itu lho, gosipnya ada anak yang berselisih ama bokapnya karena ngritik sistem demokrasi. Dijauhin temen lantaran cerewet ngingetin untuk nutup aurat, nggak pacaran, atau antitawuran. Tereliminasi dari kantor saat bawa-bawa aturan Islam ke alam kapitalis di dunia kerja. Diancam skorsing dari sekolah ketika ngotot pengen pake seragam yang nyar'i. Dicemberutin tetangga coz nggak ikut berpartisipasi dalam pilpres alias “memilih untuk tidak memilih” (bahasa kerennya golput). Atau malah berhadapan dengan aparat keamanan karena dituding terlibat aksi pemboman. Waduh!

Kebayang kan, kalo berita duka seputar lika-liku aktivis dakwah kayak di atas lebih populer dibanding ridho Allah yang menyertai kegiatan dakwah. Udah pasti bayangan rasa takut bin cemas selalu menghantui pas lagi mujur ada kesempatan untuk berdakwah. Jangankan jadi pengemban dakwah, sekadar menyuarakan Islam aja mungkin malu. Repot juga kalo kayak gini.

Disayang Allah, lho…

Bener sobat. Kita sekadar ngingetin aja, kalo jadi pengemban dakwah udah pasti disayang Allah. Allah swt. berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?” (QS Fushhilat [41]: 33)

Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa aja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi ). Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya. Bener kan?

Selain itu, pujian bagi para pengemban dakwah senantiasa disampaikan Rasulullah untuk mengobarkan semangat para shahabat dan umatnya. Seperti dituturkan Abu Hurairah: “Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” ( HR Muslim )

Nggak heran dong kalo para shahabat Rasulullah begitu gigih bin pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela mereka korbankan untuk dapetin pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah. Kalo nggak begitu, mana mungkin nenek moyang kita dan juga kita mengenal Islam dan menjadi penganutnya. Bener nggak seh?

Dan kita pun bisa seperti para shahabat. Walau nggak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah tetep eksis sampe sekarang dan terjaga kemurniannya. Tinggal kemauan kita aja untuk serius mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan warisan itu. Mau dong? Heu'euh!

Nilai plus lainnya

Bay de wey sobat, ternyata aktivitas dakwah nggak cuma berlimpah pahala. Dari sisi psikologis, aktivitas dakwah sangat membantu remaja untuk mengenali diri dan masa depannya. Asli!

Menurut Maurice J. Elias, dkk dalam bukunya berjudul “ Cara-cara Efektif Mengasuh EQ Remaja ”, ada beberapa hal yang dibutuhkan remaja untuk jalanin tugas di atas.

Pertama , hubungan spiritualitas . Ketika menginjak masa remaja, normalnya kita mulai berpikir tentang makna dan tujuan hidup yang sangat erat kaitannya dengan agama. Karena hal ini bakal membimbing kita dalam jalani hidup dan membingkai masa depan.

Ketika terjun ke dunia dakwah, seorang remaja muslim akan menemukan arti dan tujuan hidup yang hakiki. Dia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah sepanjang hayat dikandung badan. Untuk itu, Allah menurunkan aturan hidup yang lengkap en sempurna tanpa cacat cela bagi manusia. Agar manusia bisa beribadah nggak cuma di masjid atau majelis ta'lim. Tapi di mana saja, kapan saja selama terikat dengan aturan Allah. Selain itu, dengan pemahaman ini remaja akan termotivasi dan terarah dalam membingkai masa depan ideal dunia akhirat sesuai identitas kemuslimannya.

Kedua , penghargaan . Setiap remaja kayak kita-kita pasti membutuhkan hal ini untuk mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Aktivitas dakwah akan menyalurkan secara positif bakat dan potensi yang kita miliki untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Hebatnya, insya Allah kita bakal dapetin juga penghargaan atas prestasi itu langsung dari Allah swt. Hmm… yummy!

Ketiga , rasa memiliki . Remaja seusia kita sering termotivasi untuk bergabung dalam kelompok yang memiliki dan dimiliki kita. Karena di sana kita bisa belajar banyak hal, tambahan informasi, konsultasi gratis, merasa aman, nyaman, dan diterima. Tempat yang tepat jika kita ikut dalam komunitas dakwah. Rasa kebersamaan, sikap empati, simpati, dan pertolongan tanpa pamrih antar individu dalam komunitas ini, lahir dari keimanan. Itu berarti nggak mudah luntur karena perbedaan status sosial atau pendidikan.

Keempat , kecakapan dan kepercayaan diri . Remaja seumuran kita sering terlihat pengen diakui kalo doi cakap alias mampu dan percaya diri untuk jalanin hidup mandiri. Mampu menentukan pilihan atau mengatasi masalah tanpa bergantung kepada orang lain.

Dalam lingkungan dakwah, kita bakal dilatih untuk berpikir panjang merunut setiap permasalahan dan mencari pemecahannya sesuai aturan Islam yang pasti mendatangkan maslahat. Ketegasan sikap kita bisa lahir dari kemandirian yang ditopang oleh pemahaman Islam. Kita juga dilatih untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah atau kegagalan yang menimpa kita semua. Karena kita-kita paham, apa pun yang menimpa diri kita, itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Jadi nggak ada kamus stres bin uring-uringan pas ngadepin masalah bagi para pengemban dakwah. Tetep semangat. Catet tuh!

Kelima , konstribusi . Merasa ngasih kontribusi alias ikut berperan serta, nggak egois bin individualis, atau sikap dermawan sangat penting buat perkembangan identitas yang sehat pada remaja seusia kita. Dengan begini kita-kita bakal terlatih untuk peduli dan peka terhadap permasalahan di sekitar kita. Sehingga kita termotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri biar bisa ikut beresin masalah itu.

Dan semua perasaan di atas pasti bakal didapetin kita-kita dalam aktivitas dakwah. Selain bernilai pahala, kita bakal ngerti kalo masalah dunia atau masyarakat juga masalah kita. Kita juga wajib ngerasa bertanggung jawab dengan akibat dan penyebab masalah itu. Karena kita bakal kecipratan dampak buruk masalah itu kalo dibiarin. Betul?

Nah sobat, ternyata nggak ada ruginya kan terjun ke dunia dakwah. Dilihat dari sisi mana aja, jadi pengemban dakwah pasti berlimpah berkah. Masa nggak kepengen?

Nikmati risiko dakwah

Risiko dakwah mah udah sunntatullah atuh alias wajar terjadi. Bayangin aja, yang kita dakwahkan ajaran Islam. Sementara obyek dakwah kita yang di rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja semuanya udah kadung diselimuti aturan sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Otomatis dakwah kita nggak akan berjalan semulus di jalan tol.

Makanya kita nggak usah bermimpi kalo dakwah itu tanpa rintangan. Justru kita kudu siapkan nyali untuk hadapi risiko dalam dakwah demi meraih ridho Allah. Kita bisa contoh 75 orang muslim dari suku Khajraj saat terjadi peristiwa Bai'atul Aqabah kedua. Saat itu salah seorang paman Nabi yang melindungi dakwah beliau meski bukan muslim, bernama ‘Abbas bin Ubadah, mengingatkan kaum muslim dari Khajraj itu akan risiko dakwah yang akan dihadapi jika tetap membai'at Nabi.

Kaum itu pun menjawab, “Sesungguhnya kami akan mengambilnya (membai'at Nabi saw) meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya banyak tokoh.” Kemudian mereka berpaling pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami memenuhi (seruan)mu, maka apa balasannya bagi kami?” “Surga”, jawab beliau dengan tenang. ( Negara Islam , Taqqiyuddin an-Nabhani)

Nah sobat, ternyata risiko dalam dakwah adalah jalan menuju surga Allah yang selama ini kita rindukan. Seberat apapun jalan itu, kita hanya perlu bersabar dan tetep istiqomah. Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad hasan: “Setelah engkau akan datang masa kesabaran. Sabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala sebagaimana lima puluh orang laki-laki yang mengerjakan perbuatan tersebut. Para shahabat bertanya , “Wahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh (laki-laki) di antara mereka?” Rasul menjawab , “Bukan, tetapi pahala lima puluh orang laki-laki di antara kalian”

Kita juga nggak punya alasan untuk berdiam diri membiarkan kemaksiatan merajalela karena khawatir akan dekatnya ajal, seretnya rizki, atau jauhnya jodoh. Soalnya kan yang ngasih rizki adalah Allah. Yang nentuin jodoh kita Allah. Yang nyuruh Malaikat Ijrail nyabut nyawa kita juga Allah. Bukannya semua urusan hidup kita akan terasa mudah kalo kita disayang ama Allah dengan ngikutin perintahNya seperti aktif dalam dakwah?

Pengemban dakwah Islam ideologis

Satu hal lagi yang kita nggak boleh lupa. Bagusnya kita nggak merasa cukup dengan mendakwahkan Islam cuma sebagian. Seolah perbaikan moral atau peningkatan akhlak individu masyarakat menjadi solusi pamungkas dalam setiap permasalahan. Padahal syariat Islam itu begitu luas mencakup solusi dalam permasalahan pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dll.

Karena itu kita wajib memahami dan mendakwahkan Islam sebagai Nidzhomul hayah alias aturan hidup yang nggak cuma ngatur ibadah atau akhlak semata. Islam yang memiliki peran sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Sebagai qaidah fikriyah , Islam akan menjadi filter alias saringan sekaligus tameng menghadapi serangan pemikiran dan budaya Barat sekuler. Dan sebagai qiyadah fikriyah , Islam akan membimbing kita dalam menyelesaikan dan mencegah terulangnya setiap masalah hidup yang mampir ke kita dengan tuntas dan berpahala.

Sobat muda muslim, kalo kamu punya nyali, mari kita libatkan diri kita untuk memperkuat barisan perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Jangan sampe jalan menuju surga dalam aktivitas dakwah, kita pandang sebelah mata. Ntar nyesel lho. Berani? Pasti dong!

Indahnya Hidup Bersahaja


Bismillahirrohmaanirrohiim,

Saudara-saudaraku Sekalian,
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, "Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya".
Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh. Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis. Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.
Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.
Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional. Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi
momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah. Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya. Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya
apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya. Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan
yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji "Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku". Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam. Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.
Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,"Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada", Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada. Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya. Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya'. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati. Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional. Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita
binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.
Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan. Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.
Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya. Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah. Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita,
takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah. Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut. Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan,
jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin. Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.
Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat. Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.
Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang. Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya,
bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif
saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

Alhamdulilahirobil’alamin

Kamis, 19 Juni 2008

Belajar Dari Wajah


Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.***

Amal yang Tetap Bermakna


Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama ALLOH malah menghilang.

Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.

Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.

Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.

Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.

Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.

Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, "Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.

Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.

Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.

Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.

Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah". Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.

Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.

Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah. ***

APA PANTAS BERHARAP SURGA?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib

sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.

Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadan malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.

Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata.

Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.

Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik

dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakan tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap

surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan

lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah …

Bunga Rampai Nasihat


Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.***

Indahnya Kasing Sayang


Mahasuci ALLOH, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.

Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebaria menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang ALLOH semayamkan di dalam kalbunya.

Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).

Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!

Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.

Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.

Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya:
Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?

Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?

Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!

Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?

Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.

Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?
Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.

Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari ALLOH Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.

Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.
Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.

Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.

Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya ALLOH. ***

CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN

Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan,keburukan,mau pun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.

Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah,tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya 'babak belur', di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yangmenginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadahi untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.

Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnyajuga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memi kirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.

Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesunggu han untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan kebe ranian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk

mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani meli hat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati.

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigi han kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.

Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri.Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.

Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.

Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makinsung guh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapipembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan.Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.

Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawalidari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien

ANTARA KEBENARAN DAN DUSTA

Suatu hari ketika 'Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. 'Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, "Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu."

"Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu," orang itu berteriak balik.

"Baiklah kalau begitu," jawab 'Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan", tanya orang itu kebingungan. "Bukankah saya ini musuhmu?"

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, "Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku". Tetapi orang itu tidak mampu.

"Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata," jelas 'Ali. "Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku."

"Inikah cara Islam?" Orang itu bertanya.

"Ya," jawab 'Ali, "Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik."

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku

syahadat."

Dan 'Ali pun mengajarkannya, "Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah.

"Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. 'Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.

"Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku

adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka 'Ali.

Mulanya 'Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab.

"Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu."

"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya.

"Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh."

"Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?"

"Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."

Dengan segera orang itu bersimpuh di kaki 'Ali dan dia juga minta diajari dua kalimat syahadat.

Ilmu Pembersih Hati


Ada sebait do'a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do'a tersebut berbunyi : Allaahummanfa'nii bimaa allamtanii wa'allimnii maa yanfa'uni wa zidnii ilman maa yanfa'unii. Dengan do'a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma'rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. "Ilmu yang berguna," ungkapnya, "ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati." seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, "Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri."

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!

Akan tetapi, walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih." Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma'rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma'rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.

Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum'ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***

Diam Itu Emas
(Diam Aktif)


Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam

Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jah lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutaam Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

  1. Diam dari perkataan dusta
  2. Diamdari perkataan sia-sia
  3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
  4. Diam dari kata yang berlebihan
  5. Diam dari keluh kesah
  6. Diam dari niat riya dan ujub
  7. Diam dari kata yang menyakiti
  8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.

BUNGA RAMPAI NASEHAT


Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’

udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.***

Bunga Istimewa Hanya Untuk Yang Istimewa

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti “bunga”. Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih, dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula”.

“Bunga” Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang dinisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.

Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah. “Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya”. Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi al khuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia Muhammad Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa ayahanda sang bunga itu menolaknya?

Pertanyaan selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini. Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh seluruh manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum kafir menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masih kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu. Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa melupakannya adalah jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal resikonya adalah mati terpenggal oleh balatentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, “bunga” Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Budaya Bersahaja


Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.

Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.

Suatu pengalaman ketika seseorang memberi sebuah ballpoint. Dari tampangnya ballpoint ini saya pikir sangat bagus, mengkilat, dan ketika dipakai untuk menulis pun enak. Tapi tiba-tiba ballpoint ini menjadi barang yang menyengsarakan ketika ada yang memberi tahu bahwa ballpoint yang mereknya "MP" itu adalah sebuah merek terkenal untuk ukuran sebuah benda bernama ballpoint. Mulanya tidak mengerti sama sekali. Tadinya saya kira harganya paling cuma ribuan rupiah saja. Nah, gara-gara tahu itu ballpoint mahal, sikap pun jadi berubah. Tiba-tiba jadi takut hilang, ketika dibawa takut jatuh, ketika dipinjam takut cepat habis tintanya karena tintanya pun mahal, mau disimpan takut jadi mubazir, mau dikasihkan ke orang lain sayang, ditambah lagi saat dipakai pun malu, mungkin nanti ada yang komentar "Wah, Aa ballpoint-nya ballpoint mahal!". Begitulah, nasib punya barang bermerek, tersiksa!

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Karenanya, hati-hatilah saudaraku. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan penuh keinginan-keinginan kita jikalau ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermamfaat dari barang yang kita beli tersebut. Buat pula skala prioritas, misalnya, haruskah membeli sepatu seharga 1 juta rupiah padahal keperluan kita hanya sebentuk sepatu olahraga. Apalagi dihadapan tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu, 400 ribu, 200 ribu, sampai yang 50 ribu rupiah. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Nah, kalau kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyikasa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermamfaat sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya. Jangan pula tergesa-gesa, dan ketahuilah bahwa pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya" (QS. Al Israa [17] : 26-27). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu". (QS. Al Furqan [25] : 67)

Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Saya kira hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jikalau kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli suatu barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.

Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru, tanyakan; perlukah kita membeli motor baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Nah, ketika alasan pertanyaan tadi sudah logis dan dapat diterima akal sehat, maka kalau pun jadi membeli pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Cobalah renungkan; mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar? Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan keinginan kita, Insya Allah kita akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri. Kita akan disiksa oleh kendaraan kita dan disiksa oleh harta kita yang kita miliki. Rugi, sangat rugi orang yang memperturutkan hidupnya karena sesuatu yang dianggap keren atau bermerek. Apalagi, keren menurut kita belum tentu keren menurut orang lain, bahkan sebaliknya bisa jadi malah dicurigai. Karena ada pula orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek, justru disangka barang temuan.

Seperti kisah santri di sebuah pesantren. Saat ada santri yang memakai sepatu yang sangat bagus dengan merek terkenal, justru disangka sepatu jamaah yang ketika berkunjung ke pesantren tersebut tertinggal di mesjid. Lain waktu, ada juga yang memakai arloji sangat bagus dengan merek terkenal buatan dari negeri Swiss sana, tapi orang lain justru malah berprasangka kalau arloji itu barang temuan dari tempat wudhu. Begitulah, bagi orang yang maqam-nya murah meriah, ketika memakai barang mahal justru malah dicurigai.

Karenanya, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam setiap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.***

Buah Kebeningan Hati


Saudara-saudaraku, sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya. Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.

Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah.

Bila Selalu Mengingat Mati


Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama ALLOH Azza wa Jalla.

Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, "Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa". Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.

Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.

Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" Pikirnya.

Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini.

***

Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.

Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab.

Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.

***

Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al Ghazali.

Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat ramaja.

Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata rurun ke hati", begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis itu.

Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih dulu.

Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul khatimah.

***

Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.

Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."

Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul khatimah.

Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu."

Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin! ***

________________________________________
BILA DIRI SEMPIT HATI
________________________________________
Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit.
Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah lagi.
Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman, yang membuat pikiran kita menjadi keruh, penuh rencana-rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan lagi dendam kesumat. Capek rasanya. Menjelang tidur, otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya. Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enak, tidur tak nyenyak dikarenakan seluruh konsentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan rasa bencinya ini.
Ah, sahabat. Sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati. Dia akan mudah sekali tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya.
Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit derita akibat rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rosul, para nabi, para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah mencontohkan mendendam, membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan mereka justru pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok, tegar, sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah lainnya. Sungguh, pribadinya bagai pohon yang akarnya menghunjam ke dalam tanah, begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun, tetap mantap tak bergeming.
Tapi orang-orang yang lemah, hanya dengan perkara-perkara remeh sekalipun, sudah panik, amarah membara, dan dendam kesumat. Walaupun non muslim, kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika). Dia bila memilih pejabat tidak pernah memusingkan kalau pejabat yang dipilihnya itu suka atau tidak pada dirinya, yang dia pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan baik atau tidak. Beberapa orang kawan dan lawan politiknya tentu saja memanfaatkan moment ini untuk menghina, mencela, dan bahkan menjatuhkannya, tapi ia terus tidak bergeming bahkan berkata dengan arifnya,
"Kita ini adalah anak-anak dari keadaan, walau kita berbuat kebaikan bagaimanapun juga, tetap saja akan ada orang yang mencela dan menghina. Karena pencelaan, penghinaan bukan selamanya karena kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja manusia yang suka menghina dan mencela".
Jadi, ia tidak pusing dengan hinaan dan celaan orang lain. Nabi Muhammad, SAW, manusia yang sempurna, tetap saja pernah dihina, dicela, dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini, tidak ada yang menghina ? Padahal kita ini hina betulan.
Ingatlah bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali, sebentar dan belum tentu panjang umur, amat rugi jikalau kita tidak bisa menjaga suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. Walaupun rumah kita sempit, tapi kalau hati kita 'plooong' lapang akan terasa luas. Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan terasa enak. Walaupun badan kita lemes, tapi kalau hati kita tegar, akan terasa mantap. Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita modelnya sederhana, tapi kalau hati kita indah, akan tetap terhormat. Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi kalau batinnya jelita, akan tetap mulia. Sebaliknya, apa artinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit?! Apa artinya Fried Chicken, Burger, Hoka-hoka Bento, dan segala makanan enak lainnya, kalau hati sedang membara ?! Apa artinya raungan ber-AC kalau hati mendidih ?! Apa artinya mobil BMW, kalau hatinya bangsat ?!
Lalu, bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti ini ? Yang pertama harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya sesuai dengan keinginan kita. Artinya, kita harus siap oleh situasi dan kondisi apapun, tidak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak saja. Kita harus sangat siap dengan situasi dan kondisi sesulit, sepahit dan setidak enak apapun. Seperti pepatah mengatakan, 'sedia payung sebelum hujan'. Artinya, hujan atau tidak hujan kita siap.
Hal kedua yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang mengecewakan kita, adalah dengan jangan terlalu ambil pusing, sebab kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja. Yang membagikan rizki adalah ALLAH, yang mengangkat derajat adalah ALLAH, yang menghinakan juga ALLAH. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang, sampai 'doer' itu bibir menghina kita, sungguh tidak akan kurang permberian ALLAH kepada kita. Mati-matian ia menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita itu hina karena kelakuan hina kita sendiri.
Nabi SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal sengsara. Salman Rushdie ngumpet tidak bisa kemana-mana, Permadi, Arswendo Atmowiloto masuk penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Dikisahkan ketika Nabi Isa as dihina, ia tetap senyum, tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, "Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?" Nabi Isa as, menjawab : "Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia."
Sungguh, seseorang itu akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya, "Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar!", Ahnaf bin Qais malah menjawab, "Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi saya masuk ke kampung Saya, kalau nanti di dengar oleh orang-orang sekampung, mungkin nanti mereka akan dan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampaikan, sampaikanlah sekarang !".
Dikisahkan pula di zaman sahabat, ada seseorang yang marah-marah kepada seorang sahabat nabi, "Silahkan kalau kamu ngomong lima patah kata, saya akan jawab dengan 10 patah kata. Kamu ngomong satu kalimat, saya akan ngomong sepuluh kalimat". Lalu dijawab dengan mantap oleh sahabat ini, "Kalau engkau ngomong sepuluh kata, saya tidak akan ngomong satu patah kata pun".
Oleh karena itu, jangan ambil pusing, janga dipikirin. Dale Carnegie, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali, selalu main pukul, ada pohon kecil dicerabut, tumbang dan dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada ada seekor binatang kecil yang lewat di depannya. Anehnya, tidak ia hantam, sehingga mungkin terlintas dalam benak si beruang ini, "Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil, yang tidak sebanding, yang tidak merugikan kepentingan kita".
Percayalah, makin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang sepele, akan makin sengsara hidup ini. Padahal, mau apa hidup pakai sengsara, karena justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal, karena kalau tidak ada yang menghina, menganiaya, atau menyakiti, kapan kita bisa memaafkan ?
Nah sahabat. Justru karena ada lawan, ada yang menghina, ada yang menyakiti kita bisa memaafkan. Kalau dia masih muda, anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua, daripada sebel kepadanya. Kalau dia masih kanak-kanak, pahami bahwa tata nilai kita dengan dia berbeda, mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil. Kalau ada orang tua yang memarahi kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf, karena terlalu tuanyua. Yang pasti makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini, subhanallah.
________________________________________


Bila Orang Lain Berbuat Salah


Orang yang pasti tidak nyaman dalam keluarga, orang yang pasti tidak tentram dalam bertetangga, orang yang pasti tidak nikmat dalam bekerja adalah orang-orang yang paling busuk hatinya. Yakinlah, bahwa semakin hati penuh kesombongan, semakin hati suka pamer, ria, penuh kedengkian, kebencian, akan habislah seluruh waktu produktif kita hanya untuk meladeni kebusukan hati ini. Dan sungguh sangat berbahagia bagi orang-orang yang berhati bersih, lapang, jernih, dan lurus, karena memang suasana hidup tergantung suasana hati. Di dalam penjara bagi orang yang berhati lapang tidak jadi masalah. Sebaliknya, hidup di tanah lapang tapi jikalau hatinya terpenjara, tetap akan jadi masalah.

Salah satu yang harus dilakukan agar seseorang terampil bening hati adalah kemampuan menyikapi ketika orang lain berbuat salah. Sebab, istri kita akan berbuat salah, anak kita akan berbuat salah, tetangga kita akan berbuat salah, teman kantor kita akan berbuat salah, atasan di kantor kita akan berbuat salah karena memang mereka bukan malaikat. Namun sebenarnya yang jadi masalah bukan hanya kesalahannya, yang jadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan orang lain.

Sebetulnya sederhana sekali tekniknya, tekniknya adalah tanya pada diri, apa sih yang paling diinginkan dari sikap orang lain pada diri kita ketika kita berbuat salah ?! Kita sangat berharap agar orang lain tidak murka kepada kita. Kita berharap agar orang lain bisa memberitahu kesalahan kita dengan cara bijaksana. Kita berharap agar orang lain bisa bersikap santun dalam menikapi kesalahan kita. Kita sangat tidak ingin orang lain marah besar atau bahkan mempermalukan kita di depan umum. Kalaupun hukuman dijatuhkan, kita ingin agar hukuman itu dijatuhkan dengan adil dan penuh etika. Kita ingin diberik kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita juga ingin disemangati agar bisa berubah. Nah, kalau keinginan-keinginan ini ada pada diri kita, mengapa ketika orang lain berbuat salah, kita malah mencaci maki, menghina, memvonis, memarahi, bahkan tidak jarang kita mendzalimi ?!

Ah, Sahabat. Seharusnya ketika ada orang lain berbuat salah, apalagi posisi kita sebagai seorang pemimpin, maka yang harus kita lakukan adalah dengan bersikap sabar pangkat tiga. Sabar, sabar, dan sabar. Artinya, kalau kita jadi pemimpin, dalam skala apapun, kita harus siap untuk dikecewakan. Mengapa? Karena yang dipimpin, dalam skala apapun, kita harus siap untuk dikecewakan. Mengapa ? Karena yang dipimpin kualitas pribadinya belum tentu sesuai dengan yang memimpin. Maka, seorang pemimpin yang tidak siap dikecewakan dia tidak akan siap memimpin.

Oleh karena itu, andaikata ada orang melakukan kesalahan, maka sikap mental kita, pertama, kita harus tanya apakah orang berbuat salah ini tahu atau tidak bahwa dirinya salah ? Kenapa ada orang yang berbuat salah dan dia tidak mengerti apakah itu suatu kesalahan atau bukan. Contoh yang sederhana, ada seorang wanita dari desa yang dibawa ke kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ketika hari-hari pertama bekerja, dia sama sekali tidak merasa bersalah ketika kran-kran air di kamar mandi, toilet, wastafel, tidak dimatikan sehingga meluber terbuang percuma, mengapa ? Karena di desanya pancuran air untuk mandi tidak ada yang pakai kran, di desanya tidak ada aturan penghematan air, di desanya juga tidak ada kewajiban membayar biaya pemakaian air ke PDAM, sebab di desanya air masih begitu melimpah ruah. Tata nilai yang berbeda membuat pandangan akan suatu kesalahan pun berbeda. Jadi, kalau ada orang yang berbuat salah, tanya dululah, dia tahu tidak bahwa ini sebuah kesalahan.

Lalu, kalau dia belum tahu kesalahannya, maka kita harus memberi tahu, bukannya malah memarahi, memaki, dan bahkan mendzalimi. Bagaimana mungkin kita memarahi orang yang belum tahu bahwa dirinya salah, seperti halnya, bagaimana mungkin kita memarahi anak kecil yang belum tahu tata nilai perilaku orang dewasa seumur kita ? Misal, di rumah ada pembantu yang umurnya baru 24 tahun, sedangkan kita umurnya 48 tahun, hampir separuhnya. Bagaimana mungkin kita menginginkan orang lain sekualitas kita, sama kemampuannya dengan kita, sedangkan kita berbuat begini saja sudah rentang ilmu begitu panjang yang kita pelajari, sudah rentang pengalaman begitu panjang pula yang kita lalui.

Sebuah pengalaman, dulu ketika pulang sehabis diopname beberapa hari di rumah sakit karena diuji dengan sakit. Saat tiba di rumah, ada kabar tidak enak, yaitu omzet toko milik pesantren menurun drastis! Meledaklah kemarahan, "Kenapa ini santri bekerja kok enggak sungguh-sungguh ? Lihat akibatnya, kita semua jadi rugi! Pimpinan sakit harusnya berjuang mati-matian!".
Tapi alhamdulillah, istri mengingatkan, "Sekarang ini Aa umur 32 tahun, santri yang jaga umurnya 18 tahun. Bedanya saja 14 tahun, bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain melakukan seperti apa yang mampu kita lakukan saat ini, sementara dia ilmunya, kemampuannya, dan juga pengalamannya masih terbatas?! Mungkin dia sudah melakukan yang terbaik untuk seusianya. Bandingkan dengan kita pada usia yang sama, bisa jadi ketika kita berumur 18 tahun, mungkin kita belum mampu untuk jaga toko". Subhanallah, pertolongan ALLAH datang dari mana saja. Oleh karena itu, kalau melihat orang lain berbuat salah, lihat dululah, apakah dia ini tahu atau tidak bahwa yang dilakukannya ini suatu kesalahan. Kalau toh dia belum tahu bukannya malah dimarahi, tapi diberi tahu kesalahannya, "De', ini salah, harusnya begini".

Maka tahap pertama adalah memberitahu orang yang berbuat salah dari tidak tahu kesalahannya menjadi tahu dimana letak kesalahan dirinya. Selalu kita bantu orang lain mengetahui kesalahannya.

Tahap kedua, kita bantu orang tersebut mengetahui jalan keluarnya, karena ada orang yang tahi itu suatu masalah, tapi dia tidak tahu harus bagaimana menyelesaikannya? Maka, posisi kita adalah membantu orang yang berbuat salah mengetahui jalan keluarnya. Hal yang menarik, ketika dulu zaman pesantren masih sederhana, ketika masih berupa kost-kostan mahasiswa, muncul suata masalah di kamar paling pojok yang dihuni seorang santri mahasiswi, yaitu seringnya bocor ketika hujan turun, "Wah, ini massalah nih, tiap hujan kok bocor lagi, bocor lagi". Dia tahu ini masalah, tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Kita harus bantu, tapi bantuan kita yang paling bagus adalah bukan menyelesaikan masalah, tapi membantu dia supaya bisa menyelesaikan masalahnya. Sebab, bantuan itu ada yang langsung menyelesaikan masalah, namun kelemahan bantuan ini, yaitu ketika kita membantu orang dan kita menyelesaikannya, ujungnya orang ini akan nyantel terus, ia akan punya ketergantungan kepada kita, dan yang lebih berbahaya lagi kita akan membunuh kreatifitasnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Bantuan yang terbaik adalah memberikan masukan bagaimana cara memperbaiki kesalahan.

Dan tahap yang ketiga adalah membantu orang yang berbuat salah agar tetap bersemangat dalam memperbaiki kesalahan dirinya. Ini lebih menyelesaikan masalah daripada mencaci, memaki, menghina, mempermalukan, karena apa? Karena anak kita adalah bagian dari diri kita, istri kita adalah bagian dari keluarga kita, saudara-saudara kita adalah bagian dari khazanah kebersamaan kita, kenapa kita harus penuh kebencian, kedengkian, menebar kejelekan, ngomongin kejelekan, apalagi dengan ditambah-tambah, dibeberkan aib-aibnya, bagaimana ini ? Lalu, apa yang berharga pada diri kita ? Padahal, justru kalau kita melihat orang lain salah, maka posisi kita adalah ikut membantu memperbaiki kesalahannya.

Nah, Sahabat. Selalulah yang kita lakukan adalah berusaha membantu agar orang yang berbuat salah mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Membantu orang yang berbuat salah mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan. Membantu orang yang berbuat salah agar ia tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahannya. Dan membantu orang yang berbuat salah agar tetap bersemangat dalam memperbaiki kesalahan dirinya.

Melihat orang yang belum shalat, justru harus kita bantu dengan mengingatkan dia tentang pentingnnya shalat, membantu mengajarinya tata cara shalat yang benar, membantu dengan mengajaknya supaya dia tetap bersemangat untuk melaksanakan shalat secara istiqamah. Lihat pemabuk, justru harus kita bantu supaya pemabuk itu mengenal bahayanya mabuk, membantu mengenal bagaimana cara menghentikan aktivitas mabuk. Artinya, selalulah posisikan diri kita dalam posisi siap membantu. Walhasil, orang-orang yang pola pikirnya selalu rindu untuk membantu memperbaiki kesalahan orang lain, dia tidak akan pernah benci kepada siapapun. Tentu saja ini lebih baik, dibanding orang yang hanya bisa meremehkan, mencela, menghina, dan mencaci. Padahal orang lain berbuat kesalahan, dan kita pun sebenarnya gudang kesalahan.
kesalahan.




Bila Hati Bercahaya


Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.

Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.

Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.

Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.

Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."

Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)

Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.

Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.

Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.

Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.

Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.

Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.

Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.

"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."

Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).


Perjalanan Ke Aceh


Rekreasi terbaik itu adalah bekerja itulah yang di katakana Imam sehingga kamipun selaku Sentra Komunikasi Wilyah Sumatera-Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus(FULDKT) melakukan perjalanan ke Nanggore Aceh Darusssalm(NAD) dalam rangka kerja dakwah yang dilakukan untuk mensosialisasikan FULDKT diseluruh Kampus Teknik di sumatera. Perencanaan awalnya yang berangkat itu adalah 4 orang namun akhirnya karma suatu dan lain hal dan kendala yang kami terima terutama masalah dana, akhriunya yang berangkat itu sebanyak 2 orang. Yaitu koordinator senkomwil sumatera akh Riza Zaimun dan Koordinator Departemen Syiar Akh Okta Firnanda.

Perjalanan yang kami lakukan sungguh perjalanan yang biasa saja, namun cukuplah untuk mengukir sejarah yang ada. Kami berangkat pada tanggal 6 februari 2008 pada jam 13:20 Wib naik Bus kurnia di By Pass..dengan mengucapkan bismillah dan melantunkan doa naik kendaraan akhirnya kami memulai perjalanan kami dari Padang, didalam perjalanan kami hampir saja dapat musibah pada jam 2 malam bus yang kami naiki rupanya naik seorang pencopet yang duduk memakai baku temple pada malam itu.Untung saja akh riza cepat bangun pada waktu itu padahal dompet beliau dah keluar tinggal di ambil saja oleh pencopet, ketika akh riza tahu dompetnya dah keluar dari sakunya, akh riza cepat-cepat untuk mengamankan dompetnya yang berisi uang untuk ongkos bus dan konsumsi di jalan…Astagfirullah..Alhamdulillah itulah yang terucap dengan muka yang agak sedikit cemas..rupanya setelah dikomunikasikan dengan penumpang yang ada, sebelum pencopet itu berjalan ke bangku kami, sudah terjadinya juga di belakang bangku kami seorang bapak-bapak yang sudah jatuh dompetnya lalu bapak itu berteriak ke kenektur bus untuk di hidupkan lampunya.

Lalu kami sampai dimedan pada jam 14:20 wib, 7 februari 2008 dan kami diturunkan di pondok kelapa pollnya Kunia untuk di transfer ke bus kurnia yang lain menuju ke Aceh..sebelum di transfer kami mandi dulu dan akh okta membelikan sedikit makanan sambil kami nikmati bersama teman lama akh riza yang ada di Medan yaitu akh Agus di waktu MAN dulu. Jam 16:30 kami berangkat dari medan menuju aceh sambil di lepaskan oleh Akh agus. Beberpa jam perjalanan kami sampai di kota banda Aceh pada jam 05:30 wib,jumat 8 Februari 2008, Kemudian kami langsung mencari Mesjid terdekat untuk melaksanakan shalat subuh..setelah shalat subuh kami langsung menghubungan ketua Forum Anuek Teknik (FUAT) Unsyiah yaitu Akh Zuhri untuk mengabarkan bahwa kami sudah sampai di kota Banda Aceh. Sepuluh menit kemudian kami di jemput akh Zuhri kemudian kami di bawa kerumah penginapan wuno, simpang BRI Darussalam. Kemudian kami di ajak sarapan pagi,Kemudian kami Istirahat sambil menunggu datangnya waktu jumat. Kemudian kami peregi ke mesjid Raya Baiturrahman untuk melaksanakan shalat jumat yang ditemani oleh akh Putra yang Sekumnya FUAT.

Setelah jumat kami langsung pulang dan kami di ajak makan siang terlebih dahulu sebelum pergi acara yang telah di persipakan, pada jam14:00 acara dimulai untuk pembukaan dan kata sambutan ketua FUAT dan kemudian langsung diserahkan oleh akh Riza zaimun selaku koordinator senkomwil untuk menyampaikan sosialisasi FULDKT, acara di selingi diskusi banyak pertanyaan dari ikhwannya yang ambisi mengetahui tentang FULDKT sehingga diskusipun dilanjutkan lagi setelah ashar.

Acara selesai sebelum waktu maghrib datang, kemudian malamnya kami melakukan silaturrahim keberapa orang teman-teman akh Riza yang ada dibanda di banada aceh, kemudian pada hari sabtunya 9 februari 2008 kami di ajak oleh panitia acara untuk pergi rihlah ke sebuah tempat rekrasi ke ujung bate, pada hari minggu 10 februari 2008, kami di jemput langsung oleh panitia Universitas Malikul Saleh Lhoksumawe, ba’da magrhib kami berangkat dengan naik mobil bulan sabit merah Indonesia(BSMI), jam 03:00 malam kami sampai di lhosumawe dan langsung istirahat di tempat penginapan yang sudah disediakan, setelah shalat subuh kami sedikit menikmati keindahan kota lhoksumawe, jam 09:00 wib acara di mulai yang langsung di buka oleh Pembantu Dekan III Fakultas Tekinik, acara sangat menarik karna di irngi dengan diskusi. Sebelum dhuhur acara selesai, ba’da dhuhur kami di ajak makan siang terlebih dahulu,kemudian baru kami mencari tiket berangkat ke medan untuk langsung berangkat ke medan.

Jam 15:00 wib kami langsung berangkat dengan naik Bus Kurnia, kemudian kami langsung menuju langsung medan, sampai di medan jam 00:30 malam, kemudian kami sedikit panik karena ngak aman juga tengah malam berada di poll Bus kurnia, kemudian akh Riza langsung menghubungi kawannya yang bernama Sutardi dan kami nginap di medan selama semalam dan besoknya jam 11:00 wib, 12 Februari kami berangkat menuju padang kembali, akh Okta turun di bukit tinggi, dan akh Riza sampai di padang pada pukul 13:00wib. Inilah perjalanan yang kami lakukan diwaktu kunjungan ke Nad.

Milis MAN Tapaktuan


Alahmdullah suda ada Milis(Forum Gabungan E-mail) untuk seluruh Alumni Man Unggul Tapaktuan Aceh selatan, maka diharapkan kepada seluruh Alumni Untuk segera bergabung di milis(Forum Gabungan E-mail), bisa kirim informasi, tausiyah, maupun yang lain..yang bisa terkirim keseluruh email yang tergabung di milis tersebut. Dan informasikan ke kawan2,adik2 maupun abang alumni MAN Tapaktuan lain juga Don’t Miss it, bagi emailnya yang belum di invate dapat kirimkan email’y ke alamt E-mail”mantapaktuan.unggul@yahoo.com” atau ke No Hp 081374511635, .bagi yang sudah diinvate(undang di email’y) maka seterusnya cukup melakukan Langkah-langkah berikut ini.

1. Buka Invate email yang sudah dikirim

2. Clik Join This Group…akan keluar layer baru

3.Clik Join Group

4. Isi kotak yang ada dibawah sekali dengan kata kunci yang sudah tersedia

5. Clik Continue

4. Silahkan Tuliskan informasi,tausiyah tau yang lain…Insyaallah terkirim keseluruh Email yang tergabung dalam milis ini..jazakakumullah khairankasiran

Mudah-mudahan sarana berikut ini dapat menjalin kembali tali silaturrahim diantara sesama Alumni Man Tapaktuan, kalau seandainya ada ibu2 dan bapak2 guru serta adik2 di Man yang mau gabung dimilis ini juga tidak apa2 mungkin sudah renggang atau sudah lama tidak menjalin keakraban lagi.

Minggu, 15 Juni 2008

PASKA KAMPUS TEKNIK


Dalam percakapan di pinggir jalan dekat kampus.

Mas, setelah lulus kuliah mau kemana?”

tanya seorang adik kelas kepada seniornya yang baru saja di wisuda.

Sang kakak senior termenung sambil menatap langit,

Entahlah Dik, Kakak juga gak tau mau kemana setelah lulus ini. Yaah mengalir aja gitu. Daftar PNS, jadi pekerja di salah satu perusahaan, atau masuk yayasan itu semua takdir yang menentukannya, kalau kita berusaha memasukkan lamaran ke organisasi paska kampus tadi.”

Sarjana teknik dengan kemampuan akademisnya yang memiliki segudang ilmu tentang kompetensi keteknikan tetap saja tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dan pragmatis di atas. Apa mungkin dunia akademis masih sangat kental dengan dunia idealisme atau telalu mengkhayal sesuatu yang tinggi dan tidak dapat tercapai seperti pepatah mengatakan Bagai punuk rindukan bulan.

Ada sebuah hal yang menarik untuk disikapi seiring dengan cepatnya lulusan sarjana teknik dengan tidak diiringi sarana atau saluran berikutnya setelah lulus. Sarjana teknik yang rata-rata setiap tahunya lulus sebanyak 500 orang di satu perguruan tinggi, bila di Indonesia terdapat 100 perguruan tinggi saja yang memiliki lulusan sarjana teknik, artinya dalam satu tahun terdapat 50.000 sarjana teknik, bila tidak ditunjang dengan sarana paska kampus yang memadai maka akan terjadi pengangguran yang besar. Hal ini pun kembali kepada sarjana teknik itu sendiri, tidak hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan yang telah ada untuk menampung mereka bekerja, tetapi dari mereka sendirilah yang menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri mereka sendiri. Idealnya sesuai kompetensi yang mereka miliki.

Namun, bicara tentang kompetensi sarjana teknik, agaknya ada hal yang perlu dicermati sebagai suatu fenomena aneh seiring dengan kebijakan kampus itu sendiri, apakah itu?

Kurikulum yang diberikan perguruan tinggi hanya dipandang dari perspektif bisnis setelah dari kampus akan menjadi pekerja di salah satu perusahaan manufaktur maupun jasa yang sudah mapan dan establish. Maka, setting mental para sarjana teknik lebih condong pada pengembangan usaha diiringi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja.

Sarjana teknik tidak dapat menghasilkan sebuah produk baru maupun usaha baru sendiri yang dijadikan sebagai ladang kerjanya paska kampus sedangkan data nominal yang besar diatas tidak memungkinkan semua orang berebut pekerjaan di tempat/perusahaan yang terbatas.

Hanya ada satu cara untuk mengubah realitas yang ada yakni dengan menjadi Pengusaha/Enterpreneur/Business Owner.

Itu adalah solusi permasalahan para sarjana teknik

Aktivis Da’wah Teknik yang responsif dengan dinamika bangsa telah berkumpul dalam suatu forum untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini. Mereka menamakan forum itu dengan Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Kampus Teknik (FULDKT) se-Indonesia yang beranggotakan perwakilan Rohis (Rohani Islam) di penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Adapun hasil dari Munas (Musyawarah Nasional) 2 FULDKT terutama komisi 3 bagian Keprofesian Teknik diantaranya:

Pengertian da’wah profesi teknik dari hasil komisi adalah da’wah pada dunia kerja yang berorientasi pada disiplin ilmu keteknikan dengan berasaskan Islam untuk kemaslahatan ummat.

Tujuan da’wah profesi teknik adalah mengaplikasikan keprofesian teknik dalam bentuk usaha-usaha serta lembaga untuk mengorganisir aktivitas dakwah teknik di kampus dan paska kampus dalam sebuah jaringan sebagai alat memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga gerak da’wah secara nasional terarah dan terpadu dalam proses perbaikan ummat.

Ini artinya kita tidak lagi harus masuk pada perusahaan orang lain, tapi kita berusaha menciptakan lapangan kerja baru/bentuk perusahaan.

Apakah pendapat ini bisa diterima? Sepakat?

Ok, kalau sepakat bahwa kita harus menjadi pengusaha, lalu bagaimana caranya memulai bisnis dengan kompetensi kita?

Caranya adalah

  1. Kita bebaskan pemikiran dari beban pengakuan akan kesarjanaan kita. Artinya kita jangan mengharap agar dengan kemampuan kita dan kalau saja bekerja ditempat orang kita akan mendapatkan kepastian gaji per bulan dan sistem kerja yang sudah jelas atau impinan akan pekerjaan yang ideal sesuai back ground pendidikan saat kuliah. Karena kita saart ini akan memulainya dari nol maka jadikan kita menerima realita apa adanya dngan bersikap sewajarnya.
  2. Kita mulai rencanakan sistem kerja kita. Berbicara tentang sistem maka yang dimaksud adalah input, process, output dan feed back. Maka setiap hal tersebut harus disiapkan.
  3. Menentukan aktivitas usaha kita. Jenis usaha jangan terlalu ideal dengan kompetensi kita saja, namun kita hidup di alam realita membutuhkan adanya investasi, pengelola dan pasar. Maka tiap item harus dijabarkan dan akan menjadi peluang bisnis kita diawalnya
  4. Kembangkan bisnis sesuai dengan kekuatan kita
  5. Arahkan potensi bisnis kita mengikuti kompetensi dan hal yang kita sukai, sebab bisnis tergantung keminatan seseorang agar dapat ditekuni secara maksimal.
  6. Jalin hubungan dengan personal atau orang yang berpikiran sama dengan kita untuk menjadi tim bisnis kita.
  7. Dirikan perusahaan berbadan hukum seperti CV. maupun PT
  8. Kuatkan posisi tawar dengan melakukan komunikasi relational dengan perusahaan, birokrasi maupun LSM sesuai dengan core bisnis kita
  9. Profesionalkan kerja dengan melakukan standardisasi pekerjaan kita
  10. Jalin hubungan relasional dengan perusahaan sejenis untuk mengadakan konsorsium maupun merger.
  11. Kembangkan usaha yang bervariasi di sekitar fokus bisnis kita.
  12. Sinergikan kebutuhan satu unit bisnis kita dengan unit bisnis kita yang lainnya dan buka peluang agar dapat menjadi perusahaan terbuka
  13. Biarkan perusahaan kita dikelola orang, kita dapat duduk dibagian komisaris maupun pemegang sahamnya saja dan selanjutnya mengembangkan bisnis lainnya yang hanya butuh investasi
  14. Selamat menikmati bisnis Anda. Biarkan uang bekerja untuk kita.

GELOMBANG BESAR ITU BERNAMA DAKWAH KAMPUS AKADEMIS

(oleh : Wisnu Ananda*)

Prolog

Suatu sore di sebuah masjid, seorang ikhwan yang merupakan aktivis dakwah di sebuah kampus di Yogyakarta sedang berdiskusi dengan adik kelasnya satu SMU yang masih kuliah semester tiga di kampus yang sama namun berbeda fakultas.

“Dek, di kampusnya aktif dimana ?”, tanya ikhwan itu kepada adik kelasnya.

“Ah, enggak Mas, saya nggak aktif koq.”

“Lho, kenapa emangnya ?”

“Abis sekarang kuliah mahal banget. Jadi kalo mo ikut kegiatan takut ntar ngganggu kuliah. Saya paling cuma ikut kegiatan di jurusan aja. Soalnya kalo di jurusan kan juga bisa ngembangin ilmu juga. Lagian kalo ikut di jurusan nggak begitu ngganggu kuliah.”

Dakwah kampus akademis, suatu keniscayaan

Fragmen cerita di atas merupakan sebuah kisah nyata yang belakangan banyak terjadi di kalangan mahasiswa, terutama angkatan 2003 dan 2004. Si ikhwan sempat berpikir, sepertinya cukup “egois” juga adik kelasnya. Cuma mau ikut kegiatan kalau itu menguntungkan dirinya dan tidak merugikannya. Bagaimana kalau diajak ikut berorganisasi yang harus ngurusin orang lain dan butuh tenaga ekstra ? Gejala ini nampaknya akan terus terjadi mengingat biaya kuliah yang makin mahal. Di Fakultas Teknik UGM misalnya, mahasiswa angkatan 2004 dikenai biaya Rp 75.000,00 per SKS !! Ditambah lagi dengan adanya percepatan masa studi lulus kuliah empat tahun.

Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai aktivis dakwah ? Ingatlah, sesunguhnya salah satu karakteristik dakwah Islam yang kita usung adalah sifatnya yang syumuliyah (lengkap dan integral) dan mustaqbaliyah (berorientasi masa depan). Jelas, dengan keintegralannya dakwah kampus harus mampu menyentuh sisi akademis ini. Dan dakwah akademis memiliki orientasi masa depan yang jelas, yaitu dakwah profesi. Inilah dua poin kebutuhan penting yang merupakan urgensi perlunya dakwah akademis.

Pada hakikatnya dakwah akademis merupakan bagian dari dakwah secara keseluruhan yang mau tidak mau harus mulai kita gulirkan. Hal ini mengingat betapa pentingnya dakwah akademis seperti pentingnya dakwah di berbagai lini dakwah kampus lainnya. Dakwah kampus akademis merupakan bagian dari ekspansi dakwah yang sebelumnya telah digulirkan, yaitu dakwah di ranah musholla (LDK) dan ranah sosial politik (lembaga kemahasiswaan).

Kebutuhan akan dakwah kampus akademis ini sangat mendesak, mengingat semakin banyaknya kelompok mahasiswa yang cenderung memilih jalan study oriented. Komunitas mereka dianggap sebagai mahasiswa yang apatis, pragmatis, dan apolitis. Kita tidak dapat menyalahkan jalan yang mereka pilih dalam menjalani hidup ini yang memang menyediakan begitu banyak jalan. Yang jelas tanpa disadari pada mahasiswa yang seperti ini terdapat potensi yang begitu besar untuk terjun dalam medan dakwah, tanpa harus kehilangan impian mereka yang memilih jalan study oriented.

Disanalah tantangan bagi kita untuk memfasilitasi dan membimbing mereka agar dapat berjalan bersama kita di medan dakwah. Sehingga semua komunitas di kampus teknik dapat tersentuh oleh dakwah kita.

Arahan dakwah kampus akademis

Visi dakwah kampus akademis yaitu dakwah kampus yang berakar kuat pada potensi keilmuan dan kreatifitas kader-kader dakwah dengan memanfaatkan seluruh fasilitas akademis kampus secara optimal dalam suatu gerak dakwah yang rapi, sistematis, dan profesional. Tujuannya yaitu menghimpun sebanyak mungkin kuantitas pengusung dan pendukung dakwah yang merupakan orang-orang yang profesional di bidangnya dan berafiliasi dengan Islam.

Adapun misinya dapat dijabarkan ke dalam enam hal. Nasyrul fikroh, yaitu memberikan pewarnaan terhadap lingkungan akademis kampus sesuai dengan fikroh Islam. Kaderisasi, yaitu mencetak kader-kader dakwah kampus yang berakhlak mulia, berwawasan luas, serta profesional di bidangnya. Aktualisasi, yaitu seluruh potensi kader diaktualisasikan dalam aksi-aksi intelektual, baik teori maupun praktek, di lingkungan intra maupun ekstra kampus dan masyarakat umum. Penataan, yaitu dakwah akademis sebagai salah satu lini dakwah bergerak bersama-sama secara sinergis mengemban dakwah dengan lini lain. Pembelajaran dan pengalaman konflik, yaitu sebagai bentuk sarana pendewasaan berpikir dan mencari solusi dalam menyelesaikan problem yang terjadi dalam berinteraksi sosial dan berorganisasi. Jaringan, yaitu membentuk jaringan akademisi dan profesi pasca kampus.

Dakwah kampus akademis melingkupi keseluruhan aktivitas dakwah kampus di lingkungan akademis kampus. Mulai dari himaprodi, HMJ, kelompok studi, kegiatan penelitian dan laboratorium, kegiatan tutorial, asistensi mata kuliah dan praktikum, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan akademis kampus lainnya.

Bercermin pada kondisi kampus teknik yang pada umumnya terdiri dari berbagai jurusan, dipandang perlu untuk menata kondisi internal yang solid dan dapat mendukung setiap pergerakan. Untuk itu keberadaan penanggung jawab tiap jurusan sangat diperlukan, dengan harapan dalam berkoordinasi tiap jurusan nantinya tidak menemukan hambatan. Namun bila kondisi di jurusan masih belum memungkinkan, maka bisa dimulai dari tingkatan fakultas yang pada umumnya jumlah kadernya lebih banyak daripada di jurusan.

Sebuah tawaran …

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik (FULDKT) yang terbentuk sejak bulan April 2003 juga telah melangkah maju menapaki dakwah kampus akademis ini, khususnya di bidang keteknikan. Pada Munas II FULDKT di Malang tanggal 11-13 September 2004 yang lalu terdapat tiga buah komisi yang dibentuk, salah satunya adalah Komisi Keilmuan Teknik (komisi II). Latar belakang dibentuknya komisi ini yaitu belum berkembangnya dakwah keilmuan teknik pada hampir semua LDKT di Indonesia. Padahal kebutuhan terhadap pakar keilmuan teknik yang berkompetensi tinggi dan berwawasan Islam sangat mendesak untuk menjawab berbagai tantangan dakwah yang berkembang saat ini, baik skala nasional maupun internasional. Selain itu juga diperlukan kerjasama dan jaringan yang luas dalam mengusung dakwah keilmuan teknik ini agar perkembangannya semakin cepat dan posisinya semakin kokoh.

Dalam rangka memperjelas arahan dakwah keilmuan teknik serta memberikan motivasi kepada setiap LDKT agar mengembangkan dakwah keilmuan teknik, maka ditunjuklah sebuah pilot project di tingkatan nasional yang diamanahkan kepada Keluarga Muslim Teknik (KMT) UGM, melalui BSO (Badan Semi Otonom) akademisnya yang bernama Cendekia Teknika. Selain itu untuk mempermudah dalam memperluas jaringan, baik secara horizontal (antar LDKT) maupun vertikal (lembaga studi/riset nasional), direncanakan akan dibentuk sebuah lembaga/forum koordinasi bernama IIME (Institute of Indonesian Moslem Engineering). IIME ini nantinya akan mewadahi seluruh wajihah akademis di kampus teknik seluruh Indonesia.

Kami selaku pengemban pilot project mengharapkan partisipasi aktif antum semua untuk mengembangkan dakwah keilmuan teknik ini, terutama di kampusnya masing-masing. Kami membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berbagi informasi dan berdiskusi tentang hal ini. Silakan kirimkan email ke : ananda_wisnu@yahoo.com . Jangan lupa sertakan identitas antum (nama, kuliah, asal LDKT, amanah, dan nomor yang bisa dihubungi).

Don’t forget with our basic

Ada satu hal penting yang harus kita perhatikan saat kita melakukan ekspansi dakwah : penjagaan asholah (keaslian) dakwah. Dalam konteks dakwah akademis, pengembangan dakwah yang dilakukan haruslah tetap berpijak dan bertumpu pada nilai-nilai dakwah. Artinya, kita jangan terlalu terjebak pada pengembangan keilmuan semata. Hal ini akan berimbas dengan jelas saat melakukan proses kaderisasi. Jika pada saat menawarkan dakwah akademis ini kepada para mad’u (obyek dakwah) kita nilai-nilai keilmuannya terlalu ditonjolkan, sedangkan nilai dakwahnya kurang, maka hal itu kurang baik untuk perkembangan dakwah ke depan. Okelah pada saat-saat awal bisa saja mad’u yang terekrut cukup banyak dengan program-program yang kita tawarkan. Tapi suatu saat nanti ketika para mad’u mulai merasakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak memberikan manfaat lagi bagi akademis mereka, maka dengan mudah mereka akan melepaskan diri. Disinilah perlunya penanaman frame dakwah kepada mereka. Jadi sejak awal mereka harus sudah mulai dikenalkan dan dibimbing bahwa pada dasarnya semua aktivitas yang kita lakukan, termasuk dalam sisi akademis, haruslah bernilai dan bertujuan untuk dakwah. Tentu saja dalam hal ini kita tetap memperhatikan prinsip tadarruj (bertahap) dan tawazun (seimbang) serta tidak melupakan nilai-nilai ukhuwah.

Epilog

Saat ini perkembangan dakwah di Indonesia telah semakin meluas, bahkan telah sampai ke tingkatan legislatif dan eksekutif. Ada sebuah info menarik dari salah seorang kader dakwah yang berada di Depatemen Pertanian (Deptan). Beliau memberitahukan bahwa dibutuhkan 14 pejabat tinggi eselon satu (setara PNS gol. IV d – IV e) untuk mengisi struktur di Deptan. Nah, ternyata baru satu orang kader dakwah yang memenuhi kualifikasi tersebut ! Dengan jumlah SDM yang sangat terbatas tersebut, bukankah akan cukup menyulitkan gerak dakwah di Deptan itu sendiri ?! Bagaimana pula halnya dengan bidang-bidang yang lain ? Ternyata kondisinya tidak jauh berbeda.

Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kompetensi diri agar bisa menjadi engineer yang handal dan berakhlak Islami. Mari kita tekuni bidang kita dengan sungguh-sungguh dan jadikanlah Islam dihormati kembali sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam bishshawwab.

* Ketua Komisi II (Komisi Keilmuan Teknik) Munas II FULDKT Malang, 11-13 September 2004

Mahasiswa Teknik Elektro UGM angkatan 2001

PENGUATAN DAKWAH KETEKNIKAN DALAM MENYONGSONG

ERA BARU

Oleh: M. Yudhy Herlambang*

Dakwah adalah sebuah aktivitas yang mulia untuk sebuah tujuan yang mulia pula. Sebuah tujuan yang amat besar yaitu tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini. Dakwah bukanlah tugas yang ringan, pada jalannya terbentang begitu banyak rintangan, duri dan kerikil yang siap mencabik-cabik tapak kaki para penyeru-penyerunya. Padanya terdapat beban yang mampu mematahkan tulang punggung (Fi Zhilalil Qur’an, Sayid Qutub). Karenanya, dakwah tidak mungkin dihasung seorang diri, diperlukan adanya amal jama’i untuk merealisasikan tujuan-tujannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat As Shaff : 4 “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan seperti bangunan yang kokoh”. Ali ra.juga pernah berkata, “ Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Demikian pula dakwah kampus, ia harus teratur dengan baik agar misinya tidak dikalahkan oleh siasat musuh- musuh Islam. Agar para mahasiswa yang diharapkan akan memegang tampuk kepemimpinan bangsa yang akan datang dapat mengecap manisnya Iman dan Islam untuk diaplikasikan dalam masa kepemipinannya kelak . Alasan ini serta beberapa dalil naqli di atas dan banyak lagi dalil lainnya menjadi landasan syar’i akan pentingnya keberadaan LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) sebagai sebuah lembaga yang mewadahi kader-kader dakwah kampus untuk bergerak bersama dalam sebuah amal jama’i untuk menghasung tugas dakwah yang mulia.

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik ( FULDKT ) amat menyadari peran penting LDK terhadap proses penyebaran nilai Islam di Kampus, khususnya internal kampus teknik yang menjadi fokus pembahasannya. Oleh karena itu dalam Munas II yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang, 11-13 September yang lalu dibentuklah komisi khusus untuk membahas tentang ke-LDKT-an disamping dua komisi lain yang membahas tentang dakwah akademis dan profesi. Pembahasan Komisi I menjadi penting karena bagaimana mungkin dakwah memperluas ranahnya pada bidang akademis dan profesi sementara inti geraknya sendiri belum mapan.

Diskusi panjang Komisi I pada waktu itu menitik beratkan pada dua masalah utama, yaitu: pengembangan dan pengokohan jaringan. Dua aspek inilah yang akan coba saya ulas dalam tulisan ini.

PENGEMBANGAN JARINGAN

Di awal tadi telah saya sampaikan betapa pentingnya keberadaan lembaga dakwah kampus di setiap kampus teknik, idealnya tentu demikian. Tapi pada kenyataannya tidak setiap kampus teknik di Indonesia memiliki LDKT . Berangkat dari kondisi ini maka Komisi I FULDKT merekomendasikan sebuah program pengembangan jaringan kepada Munas II FULDKT .

Ide utamanya adalah bagaimana FULDKT dapat berperan dalam upaya pendirian LDKT di kampus-kampus teknik yang belum memiliki lembaga dakwah resmi. Harapannya ketika seluruh kampus teknik di Indonesia telah memiliki LDKT, maka isu-isu yang dilontarkan FULDKT kaitannya dengan dakwah keteknikan akan benar-benar menjadi isu nasional – bukan segelintir pihak saja - sehingga memiliki daya penetrasi yang lebih kuat terhadap opini publik. Di samping itu tentunya perkembangan syiar ke-Islaman di kampus-kampus tersebut akan semakin meningkat.

Untuk merealisasikan program ini disusunlah langkah-langkah gerak sebagai berikut:

a. Pendataan Kampus teknik yang belum memiliki LDKT

b. Uji kelayakan

Dari data kampus teknik yang belum memiliki LDKT di atas dilakukan analisa mana saja kampus teknik yang layak di dampingi dalam usaha pendirian LDKT. Hal ini didasarkan pada realitas bahwa tidak setiap kampus teknik memiliki faktor-faktor pendukung untuk mendirikan LDKT, diantaranya tentang kondisi SDM, sikap birokrasi kampus, dll. Untuk kampus-kampus yang lolos uji kelayakan akan segera didampingi untuk pendirian LDKT.

c. Upaya lewat jalur formal dengan menghubungi Dirjen DIKTI agar merekomendasikan adanya LDKT di setiap kampus teknik.

d. Memahamkan ADKT (Aktivis Dakwah Kampus Teknik) akan pentingnya LDKT.

Ada kalanya sebuah kampus memiliki sejumlah aktivis dakwah tetapi tidak tergabung dalam sebuah LDKT, masing-masing melakukan aktivitas dakwahnya secara infiradhi. Untuk jenis kampus macam inilah diperlukan pendekatan dan motivasi kepada para aktivis dakwahnya akan pentingnya LDKT.

PENGOKOHAN JARINGAN

Program pengokohan jaringan adalah upaya menyetarakan kualitas LDKT-LDKT yang menjadi anggota FULDKT. Hal ini penting untuk memasifkan gerakan dari FULDKT itu sendiri. Teknis yang disepakati ialah melalui pendampingan dari LDKT mapan kepada LDKT yang belum mapan.

Komisi I telah melakukan pembahasan tentang parameter kemapanan sebuah LDKT dan menghasilkan beberapa kriteria LDKT mapan dan belum mapan, meliputi kondisi SDM, eksistensi lembaga, sarana-prasarana yang dimiliki, dan frekuensi kegiatan syiarnya. Dengan adanya parameter yang jelas maka diharapkan program ini dapat dijalankan dengan lebih mudah. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas kader dakwah pada sisi profesionalitas lembaga dan bekal dakwahnya disepakati beberapa strategi sebagi berikut:

a. Standarisasi pelatihan manajerial

b. Upaya memperjelas & mengefektifkan alur kaderisasi sesuai karakteristik masing-masing LDKT.

c. Pelaksanaan kegiatan syiar bersama antar LDKT dalam satu wilayah.

Kedua program di atas harapannya akan memperkuat aspek ke-LDKT-an yang akan mendukung pula gerak FULDKT di wilayah akademis dan profesi teknik. Pelaksanaannya akan dikoordinir oleh SENKOMNAS (Sentra Komunikasi Nasional) FULDKT dalam hal ini SKI FT Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Barangkali ini sekelumit informasi yang bisa saya bagi pada antum wa antuna pembaca Shohwah yang setia. Saya akhiri uraian ini dengan harapan semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa mengabdikan segala yang telah dikaruniakan-Nya untuk dakwah ilallah. Memberikan ridho-Nya pada setiap langkah kita dalam meninggikan kalimat-Nya, mengampuni dosa kita dan menunjuki kita pada jalan yang dicintai-Nya. Agar setiap peluh yang menetes dan setiap darah yang tercecer menjadi saksi syahidnya jiwa-jiwa kita, Insya Allah !!

*Penulis adalah ketua komisi I Munas II FULDKT

Sekarang menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi SKI FT UNS

Ya Allah..liriklah aku, sedikit saja!

Ya Allah..liriklah aku, sedikit saja!


Gelak tawa dan canda menghiasi seluruh sudut ruangan, sapaan disana- sini, obrolan yang tak kunjung habis, terdengar luapan emosi melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu. Begitulah suasana reuni SMU, disalah satu ruang sebuah hotel berbintang, pertemuan yang dinanti-nanti setelah hampir tiga tahun meninggalkan bangku sekolah berseragam putih abu-abu itu.
Piuh, sendiri aku disini, yang lain sibuk mengobrol dengan teman masing-masing, malas aku bergabung dengan mereka. Uh,mana sih teman-teman aku itu, nggak mungkin mereka nggak datang, apa iya mereka nggak kangen sama aku. Bosan mulai melanda, kuhempaskan diriku disebuah sofa disalah satu sudut ruangan yang sepi, kenangan masa lalu mulai muncul dalam ingatanku.
*****
Aku, Diko, Melda, Riska, dan Iqbal, teman se-geng di SMU, sahabat-sahabatku, yang selalu kompak, dengan motto kami, susah senang ditanggung bersama. Hm…konyol memang, tapi mempunyai kesan mendalam dihatiku. Bolos, nyontek, jalan-jalan, sampai dugem kita selalu sama-sama, kecuali pacaran, itu sih nggak mau barengan, basi! Kehidupanku berubah dengan mereka, hidupku menjadi penuh makna, gaya hidupku berubah, gaya berpakaian, rambut, make-up, tindik, sampai belajar merokok…
“Fa, lo mau nyoba ngerokok nggak? Enak lo Fa, bisa ngilangin stress.” Riska menawari rokok saat dirumahnya.
“Hah, mmm…nggak ah Ris, gue kan nggak ngerokok.” jawabku ragu.
“Payah lo Fa, masa nyoba aja nggak mau, kenapa?takut?!” ucap Riska sambil menatapku dengan tatapan mengejek.
“Tau lo Fa, nggak bisa ngerokok? Sini gue ajarin, masa kita ngerokok lo nggak, nggak kompak lo!” Melda ikut mengomporiku sambil menghisap rokoknya.
“Hm…gimana ya,…ya udah deh, tapi ajarin gue ya, gue nggak bisa ngerokok nih, tapi sebatang aja ya, gue kan belum biasa.” Jawabku setelah menimbang-nimbang daripada dibilang nggak kompak, lebih baik aku mengikuti kemauan mereka. Aku mulai mengambil sebatang rokok…
*****
Begitulah awal ku mulai merokok, yang sekarang sudah menjadi kebiasaan. Diko dan Iqbal jelas aja ngerokok, cowok sih, biasa, bahkan terkadang setahuku mereka juga pakai kok, pernah sih aku pengen nyoba, mau tahu gimana sih rasanya makai? Tapi mereka nggak mau ngasih, mereka bilang nanti aku ketagihan, sebel! Tapi aku nurut aja, mereka kan lebih tahu. Tindik juga jadi ciri gayaku, ditelinga sih udah biasa, deretan anting sudah menghiasi kedua telingaku, dihidung?biasa, bibir sampai pusar sudah pernah kucoba, sekarang tinggal empat tindikan ditelinga kanan dan kiriku saja yang tersisa.
Keluargaku tak ada yang peduli dengan segala perubahanku, mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan diriku, bahkan sampai aku kuliah di Yogya pun mereka biasa saja. Hanya materi yang dapat mereka berikan, tapi itu tidak cukup! Aku tidak butuh uang, aku butuh kasih sayang!perhatian! dan itu kudapatkan dari teman-temanku, sahabat-sahabatku! Mereka yang selalu ada disaat aku sedih, tertekan, mereka menghiburku, memberikan semangat, dorongan, dengan mereka, aku dapat kembali tersenyum.
Ah, sedih mengingatnya, kenangan yang selalu terpatri dalam ingatanku, cerita indahnya persahabatan. Kini sejak aku diterima di PTN di Yogya, aku tak tahu bagaimana kabar mereka, semua sulit untuk dihubungi. Yang kutahu Melda diterima di PTN di Depok, yang lain, aku tak tahu.
“Assalamua’laikum, Sifa ya?” sapaan seseorang membuyarkan lamunanku, seorang gadis berjilbab lebar, dengan baju muslim yang terlihat longgar. Siapa sih? Kuperhatikan raut wajahnya dengan seksama, oh…
“Melda?! Benar Melda kan? Ucapku sedikit keras, gadis itu mangangguk pelan sambil tersenyum. “Ya ampun, lo berubah banget gue sampai nggak ngenalin, hei sejak kapan kamu berjilbab?” pertanyaan yang membuatku makin bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Melda, yang dulunya…ah kutepiskan rasa itu, bagaimanapun Melda temanku, aku tidak boleh berprasangka buruk.
“Alhamdulillah Fa, sejak aku kuliah, aku mulai berubah, untungnya kearah yang lebih baik. Gimana kabarmu, baik-baik aja kan?” katanya sambil tersenyum.
“Kok bisa Mel?” tanyaku mengacuhkan pertanyaannya, entah terlihat bodoh atau tidak, aku tak peduli, aku masih terkejut oleh penampilan Melda, bagaimana bisa…..
“Ya bisa Fa, Allah telah memberikan hidayahnya padaku, Alhamdulillah. Dikampus aku berkenalan dengan mbak-mbak yang membimbingku Fa, lepas dari gaya hidup dan kebiasaan-kebiasaan burukku dulu.”ucapnya.
“Ya, kebiasaan, kehidupan buruk, tapi penuh makna bukan? Persahabatan!” kataku tajam.
“Nggak Fa, persahabatan yang baik tidak membawa kita kepada kemungkaran, persahabatan yang indah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, tidak seperti persahabatan kita dulu…” ucapnya pelan.
“Maksudmu?! Persahabatan kita nggak ada artinya?!” kupandang dia dengan tatapan tajam, ternyata…
“Bukan begitu Fa, kamu jangan marah dulu, persahabatan kita memiliki banyak hikmah Fa, kebersamaan kita, sungguh indah, aku nggak akan lupa, tapi kelakuanku yang sungguh hina saat itu sudah kukubur rapat-rapat, masa lalu yang menyedihkan…”Melda memandangku penuh arti, ia kembali bicara “Kini dengan harapan, aku ingin merubahnya Fa, menebus dosa-dosaku saat itu, sungguh malu aku mengingatnya. Malu begitu banyak dosa yang kuperbuat, padahal Allah memberikan banyak nikmat kepadaku.” Jelasnya.
“Lo benar-benar berubah Mel, tapi gue terima perubahan lo, setiap orang pasti berubah kan? Dan elo tetap sahabat gue.” kataku pada akhirnya.
Melda tersenyum gembira, raut wajahnya kelihatan berseri, terlihat tulus.
“Assalamua’laikum. Sifa kan?” sapaan seseorang membuat obrolanku dengan Melda terhenti. Siapa orang ini, cowok berbaju koko, rapi. Rapi untuk penampilan seorang cowok.
“Ehm, Sifa kan?” tanyanya lagi.
“ Eh, iya, siapa ya, sorry gue lupa?” jawabku.
“ Wah, masa lupa, aku Iqbal nih”jawabnya.
“Iqbal?! Ya ampun Bal, apa kabar?” ucapku sambil terkejut melihat penampilan Iqbal, sungguh berbeda.
“Hai Bal, masih ingat sama aku nggak nih?” Tanya Melda.
Iqbal terlihat bingung melihat gadis berjilbab yang bersamaku, tapi dia tersenyum “ Melda kan, wah sudah berjilbab ya, Alhmadulillah.” Katanya.
“Eh Bal, sejak kapan berjenggot, kata lo jenggot tuh nggak keren sama sekali.” Tanyaku setelah memperhatikan jenggot yang tumbuh didagunya.
“ Yah, itu kan dulu, sebelum aku tahu kalau memelihara jenggot termasuk sunah Rosulullah, Fa.” Jawabnya sambil mengelus-elus jenggotnya.
“Oh, gitu ya, lo berdua emang berubah ya” kataku yang bingung dengan penampilan keduanya.
“Eh Bal, tahu nggak kabar Riska sama Diko? Aku udah coba telepon mereka, tapi kok nggak ada yang ngangkat ya?” Tanya Melda, yang seakan mewakili pertanyaanku juga.
“Ehm…kalau Riska, yang aku tahu dia ngelanjutin sekolah diluar negeri, kalau Diko…hm…dia masuk rehab, dia kecanduan narkoba.” Ucapan yang menjawab perasaan kangenku.
“Astagfirullah, sejak kapan Bal?” Melda tidak bisa menutupi rasa kagetnya.
“Enam bulan lalu, waktu itu dia sakaw, terus dibawa ke rumah sakit, keluarganya jadi tahu kalau dia makai, setelah keluar dari rumah sakit, dia dimasukkan ke panti rehab” jelasnya.
“Bukannya lo juga makai Bal?” tanyaku penasaran.
“Wah aku dah lama berhenti, sejak masuk kuliah, ngeri aku melihat banyak temanku yang sakaw, aku nggak mau kayak gitu, kayaknya menyiksa banget.”katanya.
“Yah, untung deh, kamu udah berhenti. Eh, kita ke panti rehab yuk, jenguk Diko” ajak Melda
“Yuk, yuk, aku setuju, tapi minggu depan ya?” kataku meminta persetujuan.
“Oke, jadi ya, minggu depan” Iqbal menyetujui.
*****
Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, lelahnya hari ini, kepejamkan mataku…ah, begitu banyak yang terjadi hari ini…”Ya Allah”, jarang sekali aku menyebut nama itu, apa yang telah kau berikan kepada kedua temanku, hingga mereka bisa berubah seperti itu, keajaibankah? Kududuk didepan cermin, melihat wajahku sendiri, wajah yang menyedihkan. Umurku yang sudah berkepala dua ini tak membuatku bersikap sesuai umurku, apa yang kulakukan selama ini? Tertidurkah? Bermimpikah?...air mata mengalir membasahi pipiku, Ya Allah, kenapa baru sekarang ku tersadar, bahwa diriku begitu jauh dari-Mu, kemana saja Engkau ya Allah, tak sudikah kau menghampiriku? Kau menghampiri Melda dan Iqbal, tak inginkah Kau menghampiriku, melirikku sedikit saja! Ya Allah, begitu banyak dosa yang telah kuperbuat, maukah Kau memaafkanku? Pasti! Kuyakin Engkau memaafkanku, tapi pantaskah?! Kuhapus air mata dari wajahku, kulihat wajahku dicermin, kuyakin Allah pasti mau memaafkanku, kini tinggal merubah diriku sendiri, menjadi manusia yang baru dan diridhoi oleh-Mu. Ya Allah terimalah taubatku. Bismillahirahmanirrahim……….[nez]

Bayang-Bayang Sebuah Asa

Bayang-Bayang Sebuah Asa

Untaian kalimat demi kalimat seorang psikolog terkenal dilayar kaca dalam tayangan sebuah televisi swasta, tentang betapa tidak enaknya menjalani hari-hari tanpa kemauan sendiri, kurasakan benar kini. Berpikir untuk menjalani suatu profesi yang sama sekali bukan merupakan cita-cita adalah baying-bayang mengerikan yang tak berkesudahan. Contoh konkretnya adalah aku, seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sejak awal tidak memiliki keinginan untuk menjadi dokter sama sekali.

“Ke kampus, Hen?”

“Males!”

Bowo segera berlalu mendengar jawaban singkatku. Anak-anak sekos kebanyakan sudah tahu perihal keterpaksaanku mengikuti ambisi Bapak. Bapakku yang cita-citanya menjadi dokter kandas karena berbagai faktor, menggantungkan harapan itu dipundak anaknya. Sehingga aku pun diberinya nama Mahendra Avicena. Namun sejak kecil, aku lebih mengidolakan Habibie daripada Ibnu Sina atau Avicena. Lebih suka ikutan utak-atik mesin dibengkel belakang rumah milik tetangga, daripada membaca literatur kesehatan atau mendengarkan Bapak bercerta tentang kegunaan masing—masing obat yang ada dalam kotak PPPK dirumah. Meski begitu, Bapakku tetap bersikukuh dengan keinginannya. Salah satu anaknya harus jadi dokter. Dan aku, yang menurut pertimbangan para dewan guru dan kacamata para keluarga paling pantas mendapat estafet ambisi itu, mau tak mau harus menuruti. Saat lulus SMU, aku masih terlalu ketakutan untuk bias membayangkan hidup mandiri tanpa biaya subsidi dari Bapak. Satu ancaman Bapak kalau aku membangkang. Karena memang tidak ada pilihan lain, maka pilihan satu dan dua dalam UMPTN kuisi kedokteran umum semua. Aku lolos pada pilihan pertama, disebuah PTN ternama dikota Yogyakarta.

Hari-hari menjemukan dalam masa perkuliahan kulewati. Walau tanpa niat, IPK-ku tidak terlalu buruk karena aku memang tidak bodoh. Semua mengalir seperti air seakan tanpa rintangan. Memang bukan kemampuan otak yang menjadi persoalanku.

“Pasti nerusin co ass, Hen?”

Aku mengedikkan bahu.

“Aku pasti tidak. IPK-ku pas-pasan, rugi kalau dipaksain. Kukira melihatku diwisuda dan gelar S.Ked tercantum dibelakang namaku sudah cukup menyenangkan dua bonyok-ku dirumah”

“kamu yakin?”

“Yakin nggak yakin. Soalnya aku udah capek, Hen. Saatnya aku harus memilih jalan yang kuingini dan siap menerima segala resikonya.”

Memilih jalan sendiri? Menerima segala resikonya? Perkataan Bambang, mantan jurnalis kampus yang sejak kecil bercita-cita jadiwartawan, mengusikku. Nasibnya hampir sama denganku kesasar di kedokteran atas paksaan ortu. Sudah kuatkah aku menerima segala resiko pembangkanganku? Kalau Bambang barangkali lebih enak. Dia sudah punya penghasilan dari profesinya menjadi wartawawn free lance disebuah surat kabar harian local. Berbeda sekali dengan aku yang belum punya bayangan apa-apa untuk masa depanku.

“Melamun terus,Hen.”

“Bingung, Wo.”

Bowo, tetangga sebelah kamarku, masuk membawa radio kasetnya ke kamarku yang bak kapal pecah. “Ngadat lagi. Benerin, ya!”

“Jangan lupa ongkos lelahnya!”

“beres,”Bowo mengacungkan jempol kanannya, “Gimana skripsimu? Hampir kelar?”tanyanya kemudian.

Aku hanya menggeleng. “Males,” jenis jawaban yang paling suka kulontarkan dan paling dibenci Bowo.

“Calon dokter kok,males,” ledeknya.

“Bingung aku,Wo. Kalau kupikir-pikir,sepanjang kuliah selama ini aku sudah buang energi, ngabisin banyak waktu,pikiran,dsb,dll. Sayang kalau nggak diterusin. Tapi, aku nggak punya mood untuk itu. Aku nggak ada motivasi.”

“maumu?”

“Kadang-kadang aku masih menyimpan harapan untuk jadi seperti Habibie.”

“Kayak nyanyian Joshua aja,” komentarnya enteng.

“Aku serius, Wqo” kupegang pergelangan tangan kanannya, “jangan meledekku.”

“Realistis, Hen. Kamu mau ngapain selain nerusin kuliah? Kamu punya alternatif lain seandainya kamu menolak nerusin ke program profesi?”

Uaah…calon guru bahasa itu membuatku kesal.”justru akumengajak kamu bicara itu untuk nyari alternatif. Dasar guru nggak peka!”

“Mungkin…mulai sekarang kamu bias merintis kerja dibengkel. Atau, nyoba jadi tukang parkir?”

“Tukang parkir?apa hubungannya?” kupotong perkataannya. Rasa kesal mulai membuncah didadaku.

“Maksudku…tukang parkir pesawat terbang. Kan lumayan masih ada kaitannya dengan pekerjaan Habibie.”

Refleks aku melotot kearahnya. “Wo,aku serius!” kutekan kata-kataku.

“Aku malah aquarius,” sahutnya santai seraya berlalu dari kamarku.

Hiih! Aku makin jengkel. Kutendang pintu kamarku sekeras-kerasnya.

“Dooo, baru segitu saja marah. Sorry, kalau gitu. Aku buru-buru mau kuliah soalnya. Nanti malam atau besok kita lanjutin ngobrolnya.”

Kemarahanku agak surut. Anak Semarang yang merangkap kuliahj dikomunikasi itu memang paling bias mengendalikan diriku. Kabarnya anak itu aktifis mushala fakultasnya. Tapi dia sama sekali tidak sok ekslusif, juga tidak terlalu hobi khotbah kayak Arifin teman seangkatanku. Bowo bahkan doyan ngocol dan sesekali menemaniku nonton konser musik keras-musik orang gila, menurut versi Arifin. Itulah mengapa aku yang dahulu shalat lima waktu saja masih boplong-bolong tidak merasa risih berada didekat Bowo. Juga untuk sesekali menemaninya mengikuti kajian di Mardhiyah atau Syuhada.

Hari berganti hari, kebingunganku belum jua sirna. Ketidakjelasan apa yang akan kukerjakan pasca menyelesaikan skripsi, membuatku kehilangan gairah hidup. Seperti juga saat ini, saaat aku bergelut dengan kabel-kabel, membantu salah seorang kenalanku yang membuka jasa reparasi barang elektronik. Menyaksikan belitan kabel dan aneka komponennya, sering pikirankumelntur kemana-mana. Tentang indahnya bergumul setiap waktu dengan mesin, mengutak-atik berbagai komponen listrik, nahkan sampai kecerita khayalan spiderman. Fantasiku sering membayangkan betapa enaknya si Peter Parker yang melakukan percobaan dengan uranium. Lantas tiba-tiba ada serangga nyelonong masuk kekotak eksperimennya, lalu serangga itu teradiasi, menggigit lengannya…dan tanpa proses yang rumit Peter jadi punya kekuatan ajaib, jadi manusia laba-laba alias Spiderman. Memang pikiran-pikiran yang gila, jauh panggang dari api dengan realitas yang kini kujalani.

“Hen, ada telegram dari Surabaya.”

Buru-buru kurobek sampulnya. Isinya sangat singkat. Ibu menyuruhku pulang.

“Suruh pulang ya, Hen?

Aku hanya menggerakan sedikit bibirku sebagai isyarat.

“Suruh kawin?”

“Suruh kawin gundulmu!”

bowo terkekeh.

Bapak dan ibuku baru pulang dari tanah suci. Keluarga besar akan berkumpul. Aku diharapkan bias pulang pas hari ‘H’. acara tasyakuran.

Ibu menyambut kedatanganku dengan linangan air mata. Aku ikut terharu, tapi tentu saja tidak turut meneteskan air mata.

“Disana Ibu selalu mendoakan agar kamu berhasil jadi dokter yang baik. Di Raudhoh, didekat makam Ibrahim, juga saat wukuf di Arafah. Ibu selalu mengingatmu Hen,” mata Ibu berkaca-kacalagi. Barangkali Ibu teringat pengaduan-pengaduanku akan ketersiksaan batin yang kualami selama masa belajar.

Jujur, ada sesuatau yang menyentak dasar jiwaku mendengar perkataan Inu. Ternyata, Ibu pun sangat menginginkan aku menjadi dokter. Satu hal yang tidak kupahami sebelum ini. Uuh…rasanya kepalaku serasa dibelah tujuh,yang masing-masing bagian ditarik kearah yang berlainan.

Pulang dari Surabaya aku bertambah suntuk. Untuk melawan Bapak aku punya ribuan argumen. Tapi, untuk membuyarkan harapan Ibu? Wanita yang paling kucintai yang dengan segenap kasih saying dan perhatiannya sanggup mengeremku untuk tidak pernah punya teman dekat perempuan sebelum meraih cita-cita. Ibu yang…aah, suit untuk melukiskan dengan kata-kata.

“Wo, ehm…,mungkin tidak sih, sebenarnya orang segede aku berpindah cita-cita?”

“Maksudmu?”Bowo mengibaskan sarungnya lantas menaruhnya disandaran kursi. Kami baru saja berjamaah shalat zuhur.

“kalau anak kecil kan biasa beralih cita-cita dengan cepat. Hari ini lihat tentara pengin jadi tentara, besoknya nonton film dokter beralih pengin jadi dokter dst. Bagaimana dengan kita yang sudah dewasa?”

“Sekarang kamu udah nggak kepengin jadi Habibie,begitu?”sambil nyengir, Bowo mencoba menebak.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Malah kualihkan ke pertanyaan lain. “Bisa nggak sih, kita laksanakan cita-cita orang lain, tapi kita tetap enjoy menjalanibnnya?”

Bowo tertawa kecil lantas menghempaskan punggungnya ke pinggir ranjang. “Siapa yang membuatmu berubah pikiran?”

“Ibu. Aku tidak sanggup membuatnya kecewa, Wo.”

“Ya, sudah, kalau gitu kamu cepat beresi tugas akhirmu. Trus, ngelanjutin ke profesi. Habis itu jadi dokter yang professional. Gampang kan/”

“Tapi aku bingung…”

“Bingung gimana?Otak kamu tokcer. Kamu mampu mewujudkan impian bapak ibumu. Apalagi?” Bowo memandangku seperti menghipnotis.

“Kamu udah tahu kalau aku selama ini tidak ada motivasi untuk itu.”

“Kamu tahu Hen, Taufik Ismail yang penyair itu dokter hewan. Juga aktor Fadli yang dokter gigi, tapi entah sempat praktik atau tidak…”

“Tahu. Apa maksudmu?”

“Yah, agar kamu membuka mata bahwa tidak Cuma kamu yang menghadapi masalah seperti ini. Saranku, kau tetap konsentrasi nyelesein skripsi sembari mencoba merintis jalan kearah yang kamu ingini.”

“Hal itulah yang membuatku bingung. Rasanya banyak cabang yang terhampar didepan mataku. Aku belum tahu mulai dari amna.” Kuhela napas panjang seraya melonjorkan kedua kakiku.

“Bamyaklah muhasabah. Kamu kenal ungkapan, barang siapa mengenal diri maka diamengenal Tuhannya, kan. Trus, yang namanya merintis jalan tantangan pasti besar sekali. Hanya Alla, sumber kekuatan tak pernah habis yang bias dijadikan tempat bersandar.”

Aku mengangguk-angguk. Bowo melanjurkan ucapannya, “Tapi kalau kamu ingin melatih ikhlasnya hati dalam mewujudkan cita-cita ortumu, bisa juga.”

“Bisa?”aku menautkan keua alisku. Bila ada cermin didepanku, pasti kulihat bertumpuk kerutan muncul dikeningku.

“Tidak ada yang mustahil diduniaku ini. Karena Allah adalah Zat Yang Mahakuasa membolak-balik hati, perasaan, keinginan, dan motivasi seseorang.”

Byur! Seakan kepalaku disiram air dingindisiang panas terik mendengar kata-kata bijak Bowo. Seingatku, belum pernah aku betah dicertamahi oranng tanpa merasa bosan, seperti sekarang ini.

Ada contohnya nggak, Wo?”

“Contoh apa yang kau maksud?”

“Orang yang sukses lantaran mengikuti ambisi orang tua, bukan hasratnya sendiri.”

“Banyak. Contoh gampang adalah Mas Irvan, kakak sulungku yang sering kemari itu. Dia dullunya ingin jadi arsitek, tapi Abah malh cenderung mengirimkan dia kepesantren selepas SMU. Karena hati Mas Irvan ikhlas, sekarang dia sudah memiliki puluhan santri, disamping sering diundang mengisi ceramah dimana-mana.”

“Kamu sendiri?”

“Kalau aku dari kecil sudah berjiwa renegade. Bangga berani berkata tidak dan membangkang orang tua. Termasuk kuliah dikomunikasi ini, nyaris tanpa restu.”

“Sekarang?” Sungguh tak kusangka, Bowo yang terlihat alim pun pernah menjadi seorang pemberontak dimasa lalunya.

“Alhamdulillah segalanya beres, Hen. Setelah kenal Islam aku baru sadar bahwa berbeda dengan orang tua bukanlah dosa, namun ada rambu akhlak yang tidak boleh diterjang untuk mengatasinya.”

Aku terdiam cukup lama, merenungkan banyak hal. Pertama, aku tentu harus lebih dekat kepada Allah agar diberi jalan yang terbaik. Kedua, inilah yang harus segera kuputuskan. Berbagao slide peristiwa bermunculan dan batok kepalaku.

“Jadi dokter adalah dambaan bapakmu sedari dulu. Karena 3 orang pamanmu meninggal dunia sewaktu kecil akibat terserang wabah menular, yang tak terobati karena ketiadaan biaya.”

“Saatnya aku harus memilih jalan yang kuyakini dan siap menanggung segala resikonya,”perkataan tegas Bambang, calon jurnalis.

“Ditanah suci Ibu senantiasa mendoakan agar kamu segera nlulus dan bias secepatnya memberikan pertolongan pada orang-orang yang miskin.

Kupikir, semua pilihan yang ada baik meski bukan berarti tanpa resiko. Memang, hidup adalah menentukan pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi. Kesanggupan kita terhadap konsekuensi itulah yang seharusnya menjaid pertimbangan tatkala hendak menjatuhkan pilihan. Ada satu kalimat mutiara Bowo- yang katanya hadis-selalu terngiang dibenakku sehingga kujadikan landasan berpikir dan memilih.

“Khoirukum anfa’uhum linnas. Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat untuk sesamanya.” (nez)

Diambil dari kumpulan cerpen karya Jazimah Al-Muhyi, ketika duka tersenyum.

Fai, Pratikum dan Bus Kampus

Fai, Pratikum dan Bus Kampus

Pagi ini kulihat Fai sudah menungguku di halte pasar baru seperti biasa. Atau aku cuma geer saja, entahlah, tapi memang biasanya begitu, dia selalu menungguku di Halte Pasar Baru. Dan, benar, kan? Sambil berpura-pura kesal dia menyapaku.

“Laporannya sudah kau buat, kan? Nih, aku sudah buatkan kamu peer Elemen Jumat lalu. Aku sekarang sudah tau bagaimana hitungannya, eh, Kamu denger nggak sih?” sambil berjalan menuju Bus Kampus Fai terus berbicara, aku sendiri hanya terdiam dalam lamunanku.

“Hoi bangun! Dah mandi belon nih anak?” teriak Fai sambil menonjok bahuku. Oh, Fai, andai kamu tahu ini nggak bener. Tapi haruskah aku membuatmu kecewa dengan khotbah-khotbah yang akan kuberikan? Aku tak ingin khotbah itu justru menjadi sebab kau semakin jauh dari jalan-Nya.

Sudah dua semester ini, Fai akrab denganku. Bermula saat kami satu kelompok pada praktikum Proses Produksi I, aku jadi mengenalnya lebih dekat. Dulu aku hanya sekedar tahu dia salah satu diantara tiga orang gadis di Teknik Mesin. Mengapa dia masuk Teknik Mesin? Katanya, dia ingin mengubah imej Teknik Mesin identik dengan cowok. Orang tuanya sendiri ingin dia masuk Kedokteran, tapi dasar Fai, dia nekat memilih Teknik Mesin, jurusan paling macho di universitasku.

Azizah Nur Faizah, anak Bukit Tinggi yang sikapnya setegar namanya. Dia paling hobi ikut pendakian bareng bukit. Basket? Wah kamu yang cowok belum tentu bisa ngalahin dia. Dia sering bilang padaku, ”Eh, kamu itu cowok beneran ngga, sih? Daki gunung ngga pernah ikut, basket juga cuma jadi cadangan…” aku memang paling malas ikut naik gunung, walaupun Irpan temanku sering mengajakku ikut mendaki tau rihlah bersama Dpartemen Seni dan Olah Raga Foristek yang nama kerennya adalah Dpertemen SENIOR.Fai, bagaimanapun juga kau sudah memberi banyak warna di Teknik Mesin. Banyak –katanya sih- kakak angkatan yang ‘mengejar’ dia. Tapi Fai tak pernah menanggapi, dia selalu bilang, “No time for love!!!”. Padahal hampir semua anak TM setuju, Fai harusnya jadi model. Fai memang cantik, kuakui itu. Rambutnya yang panjang, membuatya mirip sekali dengan Maudy Kusnaedi, bintang sinetron itu.

Fai memang kaya, dulu dia selalu berangkat dengan Estilo Civic hijau-nya, tapi sejak akrab denganku –ciee, geer- dia selalu naik bus kota, “Biar merakyat…” katanya, ah, merakyat apa merakyat? Dan sejak itu dia selalu menungguku untuk pulang bareng dari kampus. Sejak itu juga, Pak Saleh, Koko, Andri, Romel, Ajo jadi agak jauh denganku, mereka jadi selalu sinis bila bertemu denganku, ah mungkin itu cuma perasaanku saja, buktinya mereka masih sering bercanda denganku di masjid.

Pernah juga dia marah padaku, gara-gara aku tak mau menemaninya nonton film peraih Oscar, Armageddon. Aku mencoba menjelaskan, kukatakan padanya nonton itu nggak baik, masih banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Akhirnya kuajak Fai ikut kegiatannya Ar-Rahma bersama anak-anak jalanan. Dan untungnya, dia sangat enjoy dengan anak-anak jalanan itu sehingga dia lupa sedang marah denganku, hehe. Fai memang punya jiwa sosial yang tinggi.

Fai yang cantik, aku ingin kamu jadi muslimah yang baik. Pernah dulu aku berdiskusi dengannya tentang masalah hijab. Dia bilang, “Glenn, sebenarnya aku sih ingin juga pakai jilbab, tapi aku merasa belum bisa seperti mereka, aku masih ingin bebas…”. Lho, kamu memang aneh, Fai, kalau manusia memang boleh bebas sebebas-bebasnya, pasti dunia ini sudah kiamat sejak dulu, kebebasan macam apa yang kau cari, Fai? Tapi akhir-akhir ini Fai memang berubah. Dia tak pernah lagi memakai jeans ketat saat ke kampus. Kata Indah –satu-satunya ‘jilbaber’ di Mesin- Fai tidak ingin aku dimusuhi anak musholla gara-gara punya teman yang berpakaian tidak sopan.

“Glenn! Hei! Ngelamun aja sih. Lagi mikirin siapa hayo. Udah siap kan untuk kuis Pak Sam hari ini?” pertanyaan yang amat membuatku kaget.

“What Pak Sam kuis, waduuh…” terbayang olehku ‘senyum sadis’ Pak Sam saat masuk kelas. Jujur saja, aku belum belajar tadi malam, bahkan sudah seminggu ini tak kusentuh bukuku.

“Hihi, April Mop, kuisnya minggu depan, koq.” Fai tertawa, aku hanya menggaruk kepala. Kena juga aku. “Makanya jadi cowok jangan malas!” kata Fai sambil menjitak kepalaku, astagfirullah, batal deh wudhu-ku pagi ini.

Siang ini kuliah terasa sangat panjang, seakan bertahun-tahun. Aku menarik napas panjang setelah Pak Sam mengakhiri kuliah panjangnya dengan ‘senyum manisnya’ dan berkata, “Jangan lupa, minggu depan kita kuis”. Dan keluhan panjang menggema di dalam kelas. Aku melangkah gontai keluar ruangan, perutku sudah mulai ingin diisi. Fai menghampiriku dan mengajakku ke kaptek. Kurasa dia punya indra keenam untuk mengetahui keadaan perutku. Lagi pula biasanya dia nraktir aku, hehe, lumayan makan gratis.

“Eh, Glenn, kamu mau ngga kasih tau aku, dimana and kapan sih ada pengajian putri, aku mau ikut.” Aku seperti tersambar geledek. Tak kukira Fai yang modis bertanya padaku tentang pengajian. Sedang aku sendiri tidak aktif ikut pengajian. Aku jadi gugup, tapi kucoba mengingat jadwal pengajian putri di musholla.

“Eh, anu mungkin tiap Jumat pagi, Biasa acaranya di mushalla teknik sipil,tapi juga sering di mushalla Al-Aqsa TI,TL.di Koridor gedung D juga pernah. Aku juga lupa nih.” Aku hanya menyeringai menahan malu, ya malu pada diriku sendiri. Aku yang telah tahu sedikit banyak, ternyata tidak punya ghirah untuk lebih tahu. Sementara Fai yang belum tahu, malah punya semangat lebih untuk tahu. Fai hanya mengangguk, segelas es teh tinggal separuh didepannya.

jumat pagi itu tak kulihat Fai menungguku di halte pasar baru, aneh juga, aku jadi mengharapkannya, padahal biasanya aku mencoba untuk menghindarinya. Langkah gontaiku kuayunkan menuju kampus, semalam aku nonton semifinal Piala Champions, mataku masih terasa berat. Kulihat Fai bersama Indah muncul dari balik Sekre FORISTEK, dia melambaikan tangan padaku.

“Hai, assalamualaikum. Kau ngga ikut pengajian, ya?” salam Fai dengan ceria. Aku agak terkejut, tak biasanya Fai menyapaku dengan salam.

“Alaikumsalam, wah aku lupa nih,” aku beralasan, padahal aku memang jarang ikut. Kulihat Fai yang lain pagi ini. Bibirnya yang biasanya terpoles, hari ini tanpak polos, parfum-nya juga tidak tercium lagi. Tapi justru dia bertambah cantik, wah ada virus di hatiku yang mulai mengganggu. Tapi harus diakui, pagi ini ada sesuatu yang lain dari Fai, dia tampak lebih ‘cool’ tanpa mengurangi keceriaannya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu rahasia padaku. Ah, Fai, kau memang misterius.

***

Kupatut wajahku di depan cermin. Kubetulkan jilbab baruku yang agak sedikit miring. Akan kubuat Glenn terkejut pagi ini. Dia pasti tidak menyangka, aku, Si Fai modis, akan jadi ‘jilbaber’. Aku tersenyum sendiri membayangkan wajah Glenn yang bengong saat melihatku nanti, pasti dia tambah culun.

Kusambar tas ranselku dan bergegas menuju kampus. Aku tak ingin kalah cepat dengan Glenn. Hari ini Pak Jayan kuis, tapi tenang saja toh aku sudah belajar. Kulangkahkan kakiku dengan cepat. Hupp, pelan-pelan neng, kalau jalan yang sopan entar dimarahi Uni Merry, lho. Aku tertawa sendiri, jilbaber kok jalannya kaya Argolawu, hihi. Tiba-tiba aku teringat, astagfirullah aku lupa membawa kalkulator! Aku segera berbalik untuk pulang. Tapi tiba-tiba terdengar suara mobil yang mengerem keras. Mobil itu hanya satu meter di sampingku, lalu semuanya menjadi gelap.

Perlahan kubuka mataku, kurasakan kakiku sakit sekali. Ruangan putih dan sekantong infus yang tergantung di sudut ranjang. Astegfirullah mungkin ini peringatan dari Allah padaku, selama ini memang aku teramat jauh dari-Mu ya Rabbi. Kulihat Indah duduk di samping ranjang bersama Ibu kosku, Bu Endang.

“Fai, kau sudah sadar? Selamat datang ya ukhti.” bisik Indah dengan air mata berlinang. Kurasakan keharuan yang tak pernah ada selama ini. Kurasakan kehangatan seurang teman sejati yang tak pernah kujumpai bersama teman-temanku. Kehangatan cinta seorang saudara kepada saudaranya, yang baru kurasakan kali ini. Aku hanya mengangguk pelan, mataku basah oleh keharuan yang tak bisa kutahan ini.

Sudah seminggu aku terbaring di sini. Tiap hari selalu ada ‘teman-teman baruku’ yang menegokku. Indah, Hani, Uni Merry, dan teman yang lain selalu membawakan kebahagiaan di hatiku. Aku tak pernah merasa sendiri, aku berada di dalam sebuah jamaah yang terjalin mesra dan indah. Tapi pagi ini ada yang istimewa. Teman-teman FORISTEK datang menjengukku. Kulihat lagi wajah-wajah macho setelah seminggu ditemani ‘bidadari’. Hakim and his gank tampak terkejut melihat perubahan padaku. Tentu saja mereka tak menyangka Fai tomboy akan jadi Fai ‘akhwat’. Tapi tak kulihat satu wajah culun yang selalu akrab denganku, Glenn, dimana kamu?

Ah, Glenn, kamu memang orang yang lucu. Ya Allah dulu aku memang pernah ingin berhijab karena ingin mengambil hatimu, Glenn. Tapi kini aku berhijab ikhlas karena Engkau, ya Allah, bukan karena Glenn atau siapa pun.

Ketika Hakim dan kawan-kawan pulang, kulihat wajah Glenn di pintu. Senyum culunnya masih setia menghias wajahnya. Dia melangkah masuk, tak tampak rasa terkejut di wajahnya. Pasti Indah sudah memberitahu dia. Glenn datang bersama Koko aktivis masjid, yang sering kulihat di pengajian Rabu pagi.

“Cepat sembuh, ya. Entar ketinggalan kuis Pak Sam, lho.” Glenn berkata dengan pelan. Aku ingin tertawa melihat tingkah culunnya.

“Tenang aja, besok kalau sudah sembuh, peer-mu pasti kukerjain lagi dech,” Glenn hanya menyeringai. Tak lama dia berpamitan, sekantong jeruk Pontianak, diletakkanya di meja, eh, seperti iklan,ya? Kutatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, I love you, Bro, bukan cinta yang dulu, tapi cinta seperti yang diajarkan Rasulullah kepada sahabatnya, semoga kita tetap istiqomah di jalan-Nya seperti mereka.

***

Kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah sakit dengan mantap. Yeah, Si Fai tomboy saja bisa hijrah, masak aku tidak. I love you, Sist, bukan kaca yang mudah pecah, Fai, tapi cinta abadi yang akan membawa kita ke surga-Nya. Kuharap aku bisa sepertimu yang mampu ‘mengubah sejarah’.

Kurangkul pundak Koko, “Ayo, kapan kita rihlah ke gunung lagi…”

DUTA ROSUL UNTUK MEMBEBASKAN AL-QUDS

DUTA ROSUL UNTUK MEMBEBASKAN AL-QUDS

Al-Malik An-Nashir Shalahudin Al-Ayyubi tak sepicingpun melewatkan jaganya. Malam-malam berlalu di Qash Abu Salam dilaluinya dengan selalu berjaga-jaga. Dia menunggu kedatangan putra tercintanya, Hassanuddin, pulang dari Baitullah untuk berhaji. Berharap cemas akan bahaya menanti yang ditimbulkan oleh raja Al Kurk bernama Berna syang senantiasa mengganggu rombongan haji. Dendan dan amarah dalam dadanya menggejolak untuk menghukum raja lalim tersebut dan menendangnya kembali ke Perancis.

Amarah ini tidak hanya satu dua tahun bersemayam dalam dada Sultan Shalahuddin. Sejak lahir dari keluarga Kurdi, Shalahudin telah meletakkan dendamnya akan kebengisan tentara salib dari Eropa yang telah merebut negeri-negeri muslim. Merontokkan kehormatan umatnya dan membumihanguskan kota-kotanya. Tak urung seperti kota suci Al-Quds yang direbut pasukan salib pada tanggal 23 Sya’ban 492 H. penduduk dibantai tanpa perikemanusiaan setelah sebelumnya disiksa siang dan malam. Bahkan Raimond Dajil berkata,”….yang terlihat di jalan-jalan dan lapangan Al-Quds adalah timbunan kepala, kaki, dan tangan orang-orang Arab. Orang tidak bisa berjalan kecuali diatas bangkai. Itu dari sebagian yang mereka alami. Bangsa kami telah melewati batas dalam menumpahkan darah di Haikal Sulaiman.”

Seluruh penduduk Al-Quds, baik muslim, Yahudi, maupun Nasrani dibantai habis. Hingga mereka terpaksa membunuh diri dan kerabat mereka demi terhindar dari siksaan yang teramat pedih. Tak kurang 60.000 jiwa melayang hanya dalam tempo 8 hari.

Bukan itu saja, salah satu pusat kaum muslimin telah jatuh ke tangan Salib. Jalur ekonomi terganggu, hingga stabilitas keamanan seantro negeri muslim menjadi amat riskan.

Kegeraman yang telah bersemi sejak 88 tahun di setiap dada kaum muslim ini seakan memuncak di kepala Shalahudin. Satu tekadnya yaitu, membebaskan Al-Quds dan mengusir seluruh salibis ke Eropa. Langkah pertamanya adalah membebaskan jalur rombongan haji dari gangguan Bernas, raja terlalim Eropa. Lega hatinya ketika rombongan haji putranya selamat tanpa gangguan.

Diarahkannya pasukan menuju Al-Kurk. Rombongan ini didukung laskar-laskar dari berbagai negeri Islam, Dan Berhasil!!!. Al-Kurk dibebaskannya walaupun Bernas kabur entah kemana.

Duabelas ribu pasukan muslim diarahkan menuju Hittin, lokasi sebagian besar pasukan Salib menunggu. Lima puluh hingga enam puluh tiga ribu personel dipersiapkan tentara Salib untuk menghadang Shalahudin. Perang besarpun membayang didepan mata, mempertaruhkan penulisan sejarah berikutnya.

Shalahudin dan tentaranya melaju, merangsek Thibriyyah dan menguasai apa saja di dalamnya. Ia bangun benteng di atasnya dan ditinggalkannya untuk menghajar Bahriyah. Tak lama jalur perbekalan musuh terputus karena Bahriyah telah jatuh ke tangan Shalahudin. Kini satu target di pelupuk mata: menghajar salibis di Hittin demi membuka gerbang Al-Quds.

Sabtu pagi, 25 Robi’ul Awal 582 H kedua pasukan telah berhadap-hadapan. Matahari terbit dengan panasnya membakar kulit. Seakan Allah mengabulkan doa Shalahudin karena teriknya surya membuat titik kekuatan serangan Mujahiddin.

Shalahudin memerintahkan pasukan Nafathah (pelempar minyak) agar membombardir musuh dengan panah-panah api yang membakar rumput-rumput Hittin. Pasukan Salib kalang kabut, kuda mereka panik karena panasnya tanah yang diinjaknya. Pasukan salibis Eropa itu dihantam panas dari berbagai penjuru, sengatan matahari, panasnya api, dan panasnya tanah yang mereka injak. Kepanikan ini tidak disia-siakan oleh Shalahuddin.

Diperintahkannya para Mujahiddin untuk bersabar dan melipatgandakan kesabarannya. Takbir dikumandangkan bertalu-talu, menggelorakan setiap relung jiwa Mujahiddin kala itu. Dan Allah memberi pertolongan kepada mereka, 12.000 Mujahiddin Shalahuddin Al-Ayyubi.

Pada hari itu juga tidak kurang dari 8 jam, 30.000 pasukan Salib terbunuh, 30.000 sisanya tertangkap termasuk seluruh raja-raja salibis Eropa. Hingga Syahansyah berkata,”sejak kepergiannya ke Syam tahun 491H hingga hari itu, pasukan Perancis belum pernah ditimpa musibah sebesar kekalahan kali ini.”

Begitu besarnya kekalahan dan kehinaan yang yang dialami salibis Eropa, hingga dikabarkan oleh Ibnu Katsir bahwa beberapa petani menggiring tawanan 31 tentara Perancis. Mereka ikat tentara pilihan tersebut dengan tali tenda mereka. Saat salah satu petani putus sandalnya, dia jual salah satu tentara tersebut untuk membeli sandal yang baru.

Sultan Shalahuddin memenjatkan syukur yang dalam atas kegemilangan tersebut. Suatu waktu Shalahuddin pernah berkata,”Aku adalah duta Rosulullah SAW untuk menolong umatnya.”(sumber:agus-haris.net)

Sabtu, 14 Juni 2008

Landasan FULDKT

LANDASAN Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik:
1। Bahwa segenap potensi wajib dioptimalkan untuk menyukseskan da’wah yang mulia, termasuk potensi mahasiswa teknik,
2। Bahwa permasalahan LDFT adalah bagian dari agenda da’wa yang harus diselesaikan,
3. Bahwa amal jama’I merupakan bagian dari prinsip harokatul islamiyah untuk menjaga keberlangsungan da’wah (QS. Ali Imron : 103–104),
4. Berangkat dari persamaan tanpa mengabaikan kekhasan dari masing-masing LDK Teknik dan medan da’wahnya, perlu untuk membentuk hubungan kerja sama sebagai wahana memperoleh kemanfaatan yang lebih besar.

KETERLIBATAN SUMATERA DALAM FULDKT

KETERLIBATAN SUMATERA DALAM FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH KAMPUS TEKNIK

Rasa Syukur yang tak akan terlupakan pada-Nya. Selawat yang tak akan pernah putus atas manusia mulia, manusia paling jujur, manusia pemberani, manusia tercinta, manusia yang segala realita dan edialita, manusia yang seandainya kita berada di sampingnya pasti kita akan memeluknya dengan sangat erat yaitu Muhammad SAW, satu-satu qudwah hasanah dalam setiap perjuangan. Dan juga tidak lupa lupa rasa bangga dan terimakasih kami kepda akhi dan ukhti di seluruh Indonesia yang telah bergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus Teknik (LDKT), yang telah merintis sebuah amanah besar, sebuah agenda besar yang sangat kita harapkan mampu memberikan banyak mamfaat bagi gerak langkah dakwah kita kedepan.

Dalam amanah inilah Sumatera juga memberikan kontribusinys dalam dakwah Keteknikan ini, yang terhimpun pada mulanya bernama Silaturahim Nasional Lembaga Dakwah Kampus Teknik (SNLDKT) yang pada tanggal 18-20 April 2003 Keluarga Muslim Teknik UGM mencoba memfasilitasi sebuah pertemuan tingkat Nasional antara LDK Teknik yang tersebar di Indonesia dengan harapan besar dari sana akan terbentuk sebuah jaringan kerja antara LDK Teknik se-Indonesia, dan untuk menuju kesana dipikirkanlah rancangan Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus beserta perangkat-perangkatnya, yang akhirnya di bahas dalam Munas I SNLDKT.

Memang, Sumatera baru bisa mengirimkan dari satu Universitas saja, yaitu Keluarga Mahasiswa Islam Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya (KALAM FT UNSRI), yang mengirimkan 4 orang sebagai delegasi untuk menghadiri Munas I di UGM dalam SNLDKT. Pada saat itu jalur komunikasi Nasional di bagi dalam VIII(delapan) Wilayah dan sumatera menjadi Sentra Komunikasi Wilayah I (SENKOMWIL I), dan KALAM FT UNSRI langsung ditunjuk sebagai penanggungjawab SENKOMWIL I Sumatera.

Senkomwil I Sumaterapun mulai untuk meningkatkan kontribusi dalam dakwah keteknikan ini. Sehingga Sumatera bisa mengirimkan delegasinya dari 3 universitas yang ada di sumatera untuk menghadiri Munas II dalam Forum Lembaga Dakwah Teknik(LDKT) yang dilaksakan pada tanggal 11-13 September 2004 di Universitas Brawijaya malang Jawa Timur, tiga kampus tersebut yaitu, KALAM FT UNSRI yang mengirimkan 4 delegasi, Forum Studi Islam Teknik Universitas Andalas (FORISTEK UNAND) yang mengirimkan satu delegasi saja dan AL-IQRO Institute Teknologi Medan(ITM) yang juga mengirimkan satu delegasi.

Kurang lebih selama tiga tahun KALAM FT UNSRI menjadi penanggungjawab SENKOMWIL I Sumatera dan Senkomwil I pun melaksanakan Musyawarah Wilayah I Forum Ukhuwah Lembaga dakwah Kampus (MUSWIL I FULDKT) yang dilaksanakan digedung Pasca Sarjana Unsri pada tanggal 3-5 september 2006 yang diikuti oleh KALAM FT UNSRI, PORSIPOL UNAND,Unipersitas Muhamadiyah Pelembang (UMP) dan FORISTEK UNAND sendiri.

Pada saat pelaksanaan MUSWIL I FULDKT Sumatera, Senkomwil mulai memikirkan perangkat-perangkat yang akan dilaksanakan untuk dua tahun mendatang, hasil dari MUSWIL I yaitu:

  • Perluasan Jaringan Internal dan Eksternal
  • Internal : LDKT yang ada di sumatera
  • Eksternal : Lembaga-lembaga lain yang dapat menjadi pendukung
  • Membentuk IIME (Institute of Indinesion Moslim Enginering) wilayah Sumatera
  • Membentuk GST (Global Science and Tekhnologi) Wilayah Sumatera
  • Berkoordinasi dengan GST Pusat : UNS
  • Berkoordinasi dengan IIME pusat: Cendikia Teknik KMT UGM
  • Sosialisasi FULDKT di kampus-kampus
  • Mengkoordinir seluruh Elemen di bawahnya
  • Fasilitator Kegiatan Dakwah Keteknikan Tingkat Sumatera
  • Mobilisasi LDKT ke munas

Maka untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi Senkomwil I, maka wilayah Sumatera di bagi dalam 5 Sentra komunikasi Daerah(SENKOMDA), mencakup SENKOMDA I yaitu wilayah NAD dan Sumatera Utara, SENKOMDA II mencakup Sumatera Barat dan Jambi, SENKOMDA III mencakup wilayah Riau dan Kepulauan Riau,SENKOMDA IV mencakup Sumatera Selatan,bangka belitung dan bengkulu, sedangkan SENKOMDA V yaitu Lampung. Dari hasil MUSWIL I inipun diamanahkan Forum studi Islam Teknik Universitas Andalas (FORISTEK UNAND) sebagai penanggungjawab Senkomwil I pada priode 2006-2008 mendatang.

Berakhir Muswil I, kemudian langsung di sambut dengan pelaksanaan Munas III yang di adakan pada tanggal 9-11 september 2006 di Universitas Indonesia (UI) depok. Senkomwil I juga menghadirkan tiga Universitas, namun mengalami peningkatan jumlah Orang. FORISTEK UNAND mengirimkan 4 delegasi , KALAM FT UNSRI mengirimkan 4 delegasi, dan FOSSI FT UNILA mengirimkan 2 delegasi yang secara keseluruhan di hadiri oleh 139 ikhwah dari 30 lembaga Dakwah Kampus Teknik di Indonesia.

Belum banyak yang bisa dilakukan Sumatera dalam dakwah Teknologi ini, paling tidak sumatera tidak kehilangan semangat untuk terus memberikan kontribusinya dimedan dakwah yang terhimpun dalam FULKT, agar nantinya kebangkitan Umat ini akan seiring dengan geliat kebangkitan teknologi. Tidak mungkin, mengapa? Karena kebangkitan umat adalah bangkitnya dunia teknologi.

Kamis 30 Agustus 2007,jam 22:30 WIB

Koordinator Sentra Komunikasi Wilayah I Sumatera

Riza Zaimun

Harapan Pelaksanaan Rakorwil


Assalamuaalaikum wr wb
Alhamdulillah, apa yang direncanakan senkomwil dalam waktu dekat ini berjalan dengan baik, persiapan rakorwil yang akan dilaksanakan pada tanggal 9,10,11 november yang akan datang tinggal satu bulan lagi, sedangkan kerja yang sudah tim senkomwil adalah baru pembentukan panitia dan memberikan Up-Grading yang dilakukan pada saat tanggal 30 september yang lalu, dan kemudian senkomwil sudah mengirimkan undangan keseluruh LDKT yang terdaftar di senkomwil1 sumatera, sekarang panitia sedang mendistribusikan proposal keseluruh Instansi yang ada disumbar. Ada hal baru yang sedang dipikirkan senkomwil sekarang yaitu tentang pembentukan CV.GST untuk wilayah sumatera, Insyaallah rakorwil nanti segera di loncingkan, ayo..semuanya yang tergabung dalam dakwah keteknikan, kemengan dakwah ini dah didepan mata, jangan menunda-nunda lagi..seamngat lah..Insyaallah panitia akan rapat lagi minggu tanggal 21 September 2007.

PERSIAPAN RAKORWIL

Hanya harapan yang bisa di utarakan untuk keinginan besar yang akan kita wujudkan dalam pelaksanaan Rapat Koordinasi Wilayah I Sumatera nantinya. Pelaksanaan Rakorwil hanya dalam hitungan hari lagi..harapannya ada kesiapan kita dalam menyambut geliat dakwah keteknikan ini, mari kita rapatkan lagi langkah kita dalam jihad teknologi ini, jangan pernah berfikir untuk mundur dalam perjungan awal ini, kerja kita masih banyak dalam FULDKT. Kerja besar dimulai dengan hal yang kecil. Tanggal 9,10,11 November 2007 tinggal beberapa hari lagi, belum terlambat ihwahfillah untuk berusaha menghadiri Rakorwil ini, Insyaallah kami dari Foristek,Forsipol Unand dan Formis FT UNP sedang mempersiapkan segala kebutuhan agenda Rakorwil ini, tetap semangat. Kami tunggu kehadiran ikhwahfillah di kampus Biru Universitas Andalas
Segera kirimkan gerakan seribunya ke rekening ini
Donasi untuk kelancaran Da'wah dak Kegiatan di Rakorwil
Rekening Foristek
No Rekening Foristek : 9044472299

Atas Nama : Rahmat Faisal
Bank Muamalat Cabang
Padang



UNTAIAN SEJARAH FULDKT

UNTAIAN SEJARAH FULDKT

Silaturrahim ke berbagai Lembaga Da'wah Kampus (LDK) merupakan salah satu program kerja Bidang Hubungan Antar Lembaga (HAL) Keluarga Muslim Teknik (KMT) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Acara silaturrahim, oleh sebagian Aktivis Da'wah Kampus (ADK) lebih dikenal dengan sebutan anjangsana. Sebagai LDK Teknik yang tergolong muda, KMT yang saat itu berusia 5 tahun atau lebih dikenal dengan istilah KMT V berusaha belajar dari berbagai LDK lain baik di dalam kampus UGM maupun di luar kampus. Dengan frekuensi silaturrahim yang cukup tinggi, para staff di Bidang HAL membuat istilah yang agak unik yaitu "anjangsana" dan "anjangsini". Mereka memberi nama anjangsini jika silaturrahim dilaksanakan di dalam fakultas teknik UGM dan anjangsana untuk silaturrahim di luar fakultas teknik UGM.

Saat itu Ketua KMT V dijabat oleh akh Imam Maulana (T.Mesin '99), sedangkan Kepala Bidang HAL dijabat oleh akh Tika Iswara (T.Fisika '00). Salah satu sasaran anjangsana KMT V yaitu LDK Fakultas Kedokteran UGM atau dikenal dengan nama KALAM. Dari hasil anjangsana diperoleh beberapa hasil penting yang dibawa pulang oleh staff Bidang HAL. "Oleh-oleh" dari anjangsana tersebut yaitu beberapa file hasil pertemuan tingkat nasional LDK Fakultas Kedokteran se Indonesia.

Berbekal sebuah azzam dan pertolongan dari Allah SWT, ikhwah dari KMT V tergugah semangatnya untuk mengikuti langkah KALAM. Ketika rapat Pengurus Harian (PH), ketua KMT memberikan amanah kepada Kepala Bidang HAL agar mengadakan acara Silaturrahim Nasional LDK Teknik se Indonesia.

Seusai rapat PH, Kabid HAL segera berkonsolidasi dengan para staffnya untuk merencanakan agenda besar tingkat Nasional tersebut. Untuk menyelenggarakan agenda besar tersebut, Bidang HAL membentuk Tim Pengkonsep untuk merumuskan berbagai hal yang akan dibahas pada acara Silaturrahim Nasional Lembaga Da'wah Kampus Teknik (SNLDKT). Tim pengkonsep terdiri dari 9 orang. Tim pengkonsep melakukan syuro dari tanggal 3 – 17 Maret 2003. Dengan berbekal sebuah azzam, alhamdulillah Tim Pengkonsep telah menyelesaikan tugasnya dan merencanakan acara SNLDKT pada tanggal 18 – 20 April 2003.

Pertemuan ADK Teknik selama 3 hari tersebut telah membuahkan hasil yang sangat penting bagi pergerakan da'wah khususnya di bidang teknik. Setelah melalui beberapa kegiatan, pada hari kedua forum musyawarah menyepakati perlunya dibentuk sebuah forum yang menghimpun LDK Teknik di Indonesia. Setelah diperoleh sebuah kata sepakat mengenai perlunya sebuah forum yang menghimpun LDK Teknik di Indonesia, panitia segera mempersiapkan berbagai prasarana untuk membahas format forum yang akan dibentuk.

Pembahasan format forum dilakukan melalui acara Musyawarah Nasional (MUNAS) Lembaga Da'wah Kampus Teknik (LDKT). MUNAS LDKT telah menghasilkan berbagai keputusan penting diantaranya mengenai format forum yang kemudian diberi nama Forum Ukhuwah Lembaga Da'wah Kampus Teknik (FULDKT). FULDKT bukanlah sebuah organisasi namun merupakan sebuah forum besar yang meliputi berbagai jaringan LDK Teknik di Indonesia yang memiliki sebuah visi "Terbentuknya ukhuwah yang solid, da'wah yang produktif dan profesionalisme masyarakat teknik yang Islami".

BEGINILAH AGAMA MEMANDANG SEBUAH BENCANA

BEGINILAH AGAMA MEMANDANG SEBUAH BENCANA

Musibah tidak mengenal waktu dan tempat ia bisa datang kapan saja dan dimana saja, kadang kala musibah datang dimalam hari, ia bisa juga datang di siang hari atau sore hari. Tisa ada seorangpun yang mengetahui kapan bencana tiba kecuali Allah Swt.

Bencana juga tidak pernah memilih-milih korbannya, ia bisa menimpa siapa saja, tampa ada yang sanggup untuk menahannya, tidak pernah yang mengetahui akan terjadi tsunami yang menelan ratusan ribu orang di nanggroe Aceh Darussalam beberapa waktu yang silam. Tidak ada juga yang menduga datang genpa bumi di Yogyakarta dan tidak seorangpun juga mengira sungai bengawan solo yang tadinya tenang, menguap dan menelan ribuan rumah warga bahkan menelan korban jiwa.

Disinilah relevensinya ajaran islam, agama wahyu ini tidak pernah memandang sebuah bencana yang terjadi dalam konteks negatif. Musibah adalah alat untuk menguji kesabaran dan keimanan kaum muslimin di hadapan Allah SWT. zat yang Maha Agung.

Sikap inilah yang ditunjukkan Rasulullah saw lima belas abad yang silam kala berbagai cobaan dating menimpa. Beliau tidak pernah berputus asa meskipun dating musibah berat sekalipun, tengok saja meskipun wajah beliau babak belur dipukul kaum kafir quraisy, diusir dari makah kampung halamannya, dipukuli hingga giginya patah, bahkan kehormatan istri Rasulullah yang mulia dicemarkan. Namun itu semua tidak membuat keimanannya bergeser dari Allah. Sebaliknya Rasulullah mengaggap berbagai ”bencana” itu sebagai ujian yang harus dijalaninya.

“apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga apadahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana datang kepada orang yang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa malapetaka dan kedengsaraan serta di goncang dengan berbagai cobaan”(QS.al-Baqarah:214)

Sabtu, 07 Juni 2008

Perjalanan Ke Aceh

Perjalanan Ke Aceh


Rekreasi terbaik itu adalah bekerja itulah yang di katakana Imam sehingga kamipun selaku Sentra Komunikasi Wilyah Sumatera-Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus(FULDKT) melakukan perjalanan ke Nanggore Aceh Darusssalm(NAD) dalam rangka kerja dakwah yang dilakukan untuk mensosialisasikan FULDKT diseluruh Kampus Teknik di sumatera. Perencanaan awalnya yang berangkat itu adalah 4 orang namun akhirnya karma suatu dan lain hal dan kendala yang kami terima terutama masalah dana, akhriunya yang berangkat itu sebanyak 2 orang. Yaitu koordinator senkomwil sumatera akh Riza Zaimun dan Koordinator Departemen Syiar Akh Okta Firnanda.

Perjalanan yang kami lakukan sungguh perjalanan yang biasa saja, namun cukuplah untuk mengukir sejarah yang ada. Kami berangkat pada tanggal 6 februari 2008 pada jam 13:20 Wib naik Bus kurnia di By Pass..dengan mengucapkan bismillah dan melantunkan doa naik kendaraan akhirnya kami memulai perjalanan kami dari Padang, didalam perjalanan kami hampir saja dapat musibah pada jam 2 malam bus yang kami naiki rupanya naik seorang pencopet yang duduk memakai baku temple pada malam itu.Untung saja akh riza cepat bangun pada waktu itu padahal dompet beliau dah keluar tinggal di ambil saja oleh pencopet, ketika akh riza tahu dompetnya dah keluar dari sakunya, akh riza cepat-cepat untuk mengamankan dompetnya yang berisi uang untuk ongkos bus dan konsumsi di jalan…Astagfirullah..Alhamdulillah itulah yang terucap dengan muka yang agak sedikit cemas..rupanya setelah dikomunikasikan dengan penumpang yang ada, sebelum pencopet itu berjalan ke bangku kami, sudah terjadinya juga di belakang bangku kami seorang bapak-bapak yang sudah jatuh dompetnya lalu bapak itu berteriak ke kenektur bus untuk di hidupkan lampunya.

Lalu kami sampai dimedan pada jam 14:20 wib, 7 februari 2008 dan kami diturunkan di pondok kelapa pollnya Kunia untuk di transfer ke bus kurnia yang lain menuju ke Aceh..sebelum di transfer kami mandi dulu dan akh okta membelikan sedikit makanan sambil kami nikmati bersama teman lama akh riza yang ada di Medan yaitu akh Agus di waktu MAN dulu. Jam 16:30 kami berangkat dari medan menuju aceh sambil di lepaskan oleh Akh agus. Beberpa jam perjalanan kami sampai di kota banda Aceh pada jam 05:30 wib,jumat 8 Februari 2008, Kemudian kami langsung mencari Mesjid terdekat untuk melaksanakan shalat subuh..setelah shalat subuh kami langsung menghubungan ketua Forum Anuek Teknik (FUAT) Unsyiah yaitu Akh Zuhri untuk mengabarkan bahwa kami sudah sampai di kota Banda Aceh. Sepuluh menit kemudian kami di jemput akh Zuhri kemudian kami di bawa kerumah penginapan wuno, simpang BRI Darussalam. Kemudian kami di ajak sarapan pagi,Kemudian kami Istirahat sambil menunggu datangnya waktu jumat. Kemudian kami peregi ke mesjid Raya Baiturrahman untuk melaksanakan shalat jumat yang ditemani oleh akh Putra yang Sekumnya FUAT.

Setelah jumat kami langsung pulang dan kami di ajak makan siang terlebih dahulu sebelum pergi acara yang telah di persipakan, pada jam14:00 acara dimulai untuk pembukaan dan kata sambutan ketua FUAT dan kemudian langsung diserahkan oleh akh Riza zaimun selaku koordinator senkomwil untuk menyampaikan sosialisasi FULDKT, acara di selingi diskusi banyak pertanyaan dari ikhwannya yang ambisi mengetahui tentang FULDKT sehingga diskusipun dilanjutkan lagi setelah ashar.

Acara selesai sebelum waktu maghrib datang, kemudian malamnya kami melakukan silaturrahim keberapa orang teman-teman akh Riza yang ada dibanda di banada aceh, kemudian pada hari sabtunya 9 februari 2008 kami di ajak oleh panitia acara untuk pergi rihlah ke sebuah tempat rekrasi ke ujung bate, pada hari minggu 10 februari 2008, kami di jemput langsung oleh panitia Universitas Malikul Saleh Lhoksumawe, ba’da magrhib kami berangkat dengan naik mobil bulan sabit merah Indonesia(BSMI), jam 03:00 malam kami sampai di lhosumawe dan langsung istirahat di tempat penginapan yang sudah disediakan, setelah shalat subuh kami sedikit menikmati keindahan kota lhoksumawe, jam 09:00 wib acara di mulai yang langsung di buka oleh Pembantu Dekan III Fakultas Tekinik, acara sangat menarik karna di irngi dengan diskusi. Sebelum dhuhur acara selesai, ba’da dhuhur kami di ajak makan siang terlebih dahulu,kemudian baru kami mencari tiket berangkat ke medan untuk langsung berangkat ke medan.

Jam 15:00 wib kami langsung berangkat dengan naik Bus Kurnia, kemudian kami langsung menuju langsung medan, sampai di medan jam 00:30 malam, kemudian kami sedikit panik karena ngak aman juga tengah malam berada di poll Bus kurnia, kemudian akh Riza langsung menghubungi kawannya yang bernama Sutardi dan kami nginap di medan selama semalam dan besoknya jam 11:00 wib, 12 Februari kami berangkat menuju padang kembali, akh Okta turun di bukit tinggi, dan akh Riza sampai di padang pada pukul 13:00wib. Inilah perjalanan yang kami lakukan diwaktu kunjungan ke Nad.

Memulai Sebuah Pekerjaan

Segala pekerjaan tidak pernah lebih sulit daripada kelihatannya, bila kita telah mulai mengerjakan. Letakkan satu langkah kaki di depan langkah kaki yang lain. Ambil selembar kertas dari tumpukan, dan mulailah bekerja. Mulailah gali dan jangan berhenti. Jangan cari kenyamanan, tapi buatlah kenyamanan. Rasakan kepuasan dan pencapaian saat yang kita kerjakan telah selesi. Tidak peduli apa yang kerjakan, berikan perhatian penuh, dan berikan yang terbaik. Jangan terpikir untuk memberikan yang sempurna. Cukup yang berharga dan berguna. Nikmati dan hargai kerja kita. Banggalah karena mengerjakan pekerjaan yang kita kerjakan, apa pun pekerjaan itu, adal sebuah kesempatan. Kesempatan bagi kita untuk membuktikan orang macam apakah kita. Kesempatan untuk menghargai diri kita dan orang lain di sekitar kita.

Sekilas Tentang Biografi Riza Zaimun

Riza zaimun adalah nama gabungan dari nama keluarga..harapanya agar seluruh kepribadian keluarga itu dimiliki oleh riza zaimun, karma hampir sulurh keluarga yang namanya tergabung dalam nama Riza Zaimun itu menjadi pemuka masyarakat..Ri yaitu Ridwan(nama ayah), Za yaitu Ermiza (Akhir dari nama Ibunda), Zai yaitu Zainudin (nama kakek sebelah Ibunda), mu yaitu Muhammad (Kakek dari sebelah Ayah), sedangkan n yaitu Sofyan (akhir nama ayah dari kakek sebelah ayah).

Riza Zaimun dilahirkan di kampung Ds.pasar, Desa Ujung Tanah,Kecamatan Samadua kabupaten acehselatan-NAD, yakni pada tanggal 24 mei 1986.dari pasangan Ridwan MS dan Ermiza. Anak pertama dari 4 bersaudara yang kedua yaitu Riza Isnani, ketiga Riza Hasnul dan keempat Riza Husnil, dan hanya satu orang laki-laki dari empat bersaudara tersebut.

Riwayat Pendidikan

Riwayat pendidikan Bermula pada MIN Air Sialang Kec Samadua, naik kelas Dua kemuidian pindah ke SD No2 samadua karma keluarga pindah ke Desa Ujung Tanah dan menamatkan SD di tempat tersebut kemudian di lanjutkan MTsn Samadua dan kemudian berlanjur ke MAN Unggul Tapaktuan serta berstatus sebagai Angkatan pertama MAN Unggul Tapaktaun, yang sebelumnya MAN T.Tuan saja. Sekarang Riza Zaimun sedang menjadi Mahasiswa Civil Engineering Andalas University-Padang. Dan sedang mendalami bidang kejuruan Menajemen Rekayasa Konstruksi (MRK) sebagai focus tugas akhir untuk untuk menyelesaikan S1 teknik sipil Unand.

Banyak perstasi yang telah di ukir pada saat duduk di MAN Unggul Tapaktuan, karma man Unguul juga Man yang terbaik di Aceh Selatan..di antara prestasi yang telah di raih yaitu : lomba kutbah jumat se Aceh Selatan tingakat Madrasah, Lomba Pidato Se Aceh Selatan Tingkat SLTA, Musabaqah Fahmil Qur’an Se-aceh selatan, lomba baca Se-Man Unggul, dan banyak perlombaan yang lain yang di ikuti lagi.

Pengalaman Organisasi

Dari sejak SD Riza Zaimun telah aktif pada kegiatan ekstrakurikuler yang diminatinya pada waktu itu adalah pramuka karena salah satu hobi untuk hidup di alam bebas, sampai kegiatan ini di ikuti di MTsn dan MAN, namun ketika mulai kelas dua MAN Riza zaimun mulai semakin tertarik mempelajari Ilmu Agama lebih dalam lagi, sehingga juga di amanahkan sebagai ketua bidang Muhadharah OSIM, dan kelas tiga juga di amanahkan sebagai Ketua Bidang Patroli Keamanan Madrasah (PKM) yang pada saat itu sebagai pemantau segala pelanggaran yang dilakukan oleh seluruh siswa.

Berawal dari kuliah riza zaimun pun juga mengikuti berbagai organisasi di kampus, karna kekuatan tekat, segenap pengalaman yang dimilki, dan juga keinginan agar terus memperbahurui diri akhirnya mengantarkan riza zaimun untuk kosentrasi untuk berkecimpung dalam Forum Studi Islam Teknik, walaupun pada saat itu ada tantangan ospek yang harus dihadapi yang dilakukan oleh sebagian senior yang ada di teknik, dengan kesabaran sampai juga akhirnya pada gerbang pelantikan..dan setelah itulah kosentrasi di Foristek semakin diminati, banyak perkembangan yang dirasakan, bertambahnya hafalan yang ada,saqafah yang semakin meningkat, kenikmatan Ukhuwah..dan berbagai keindahan kebersamaan di jalan dakwah yang dirasakan. Berawal dari di amanahkan sebagai anggota bidang Departemn Syiar yang Koordinatornya pada waktu itu adalah Akh Dadek Amin, kemudian juga menjadi Koord Syiar pada Tahun berikutnya, dan juga sekarang di amanahkan sebagai Ketua Umum Foristek Periode 2007/2008, sekaligus menjadi koordinator senkomwil I Sumtera atas wadah Nasional yang dimilki oleh foristek yaitu Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik (FULDKT) untuk priode 2006-2008.

Berawal dari Foristek inilah banyak pelatihan yang di ikuti di antaranya adalah Rekrutmen Anggota Aktif Foritek (MENTARI 2004),Latihan Manajemen Dakwah I(LAMDA I), Pelatihan Manajemen Dakwah II (LAMDA II), Pelatihan dan Penataran Mentor Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Universitas Andalas, Training For Training Sunatera Barat, Latihan dasar I kepandua, Pelatiahan Kontraktor Kecil di Hotel Bumi Minang,Pelatihan ESQ, Pelatihan Heart Intelligence Training (HIT) di Hotel Roki, Daurah Murabbi, Mukhayyam Tarbawiy, dll.

Riza Zaimun dapat dihubungi melalui CP (Contact Person) di nomor ponsel 62 813 745 11635 atau nomor telepon rumah 62 0751 64 935 (Komplek Bea cukai bukit putuih, padang Selatan). E-mail : riza_zaimun04@yahoo.co.id, URL : http://rizazaimun.blogspot.com Semoga latihan ini bermanfaat. Ini bukan latihan sembarang. Lati